
BicaraPlus – Kebakaran hebat melanda Kampung Adat Sade di Desa Rambitan, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), Sabtu (22/8/2026) malam. Kobaran api menghanguskan kawasan permukiman tradisional masyarakat Sasak dan berdampak terhadap 320 jiwa atau 120 kepala keluarga.
Selain rumah warga, sejumlah fasilitas di kawasan adat seperti masjid, museum, lapak UMKM, serta fasilitas umum lainnya turut terdampak kebakaran. Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah kini memprioritaskan penanganan warga, mulai dari kebutuhan pangan, kesehatan, tempat tinggal sementara hingga keberlangsungan pendidikan anak-anak.
Kebakaran terjadi sekitar pukul 22.15 WITA. Tim gabungan yang terdiri atas pemadam kebakaran, TNI, Polri, BPBD dan masyarakat berjibaku mengendalikan kobaran api agar tidak semakin meluas. BPBD NTB memastikan penanganan pascakebakaran dilakukan secara cepat dan terpadu.
Api Cepat Merambat di Permukiman Desa Adat Sade
Besarnya dampak kebakaran tidak terlepas dari karakter bangunan di Desa Adat Sade. Banyak rumah tradisional menggunakan material alami seperti kayu, bambu, anyaman dan atap alang-alang yang mudah terbakar. Kondisi tersebut membuat api dengan cepat merambat dari satu bangunan ke bangunan lainnya.
Bupati Lombok Tengah Lalu Pathul Bahri mengatakan material atap berupa ilalang menjadi salah satu faktor yang membuat kobaran api cepat menjalar
Meski demikian, pemerintah saat ini belum memprioritaskan evaluasi konstruksi, melainkan memastikan kebutuhan warga terdampak dapat terpenuhi dalam masa penanganan awal. Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah mencatat sebanyak 320 jiwa dari 120 kepala keluarga terdampak akibat kebakaran tersebut.
Lokasi pengungsian telah disiapkan di rumah khusus yang dibangun pemerintah. Sebagian warga lainnya memilih tinggal sementara bersama keluarga.
Pemkab Lombok Tengah juga memprioritaskan pemenuhan kebutuhan dasar, termasuk makanan, layanan kesehatan, tempat tinggal, kebutuhan ibadah serta keberlangsungan pendidikan anak-anak.
Penanganan trauma bagi anak-anak juga menjadi perhatian pemerintah mengingat kebakaran terjadi di kawasan tempat mereka tinggal dan menjalani kehidupan sehari-hari.
Bukan Sekadar Rumah, Warisan Budaya Sasak Ikut Terancam

Kebakaran Desa Adat Sade menjadi perhatian nasional karena kawasan tersebut bukan sekadar permukiman biasa. Desa Adat Sade merupakan salah satu kawasan yang selama ini dikenal sebagai representasi kehidupan masyarakat Sasak dan menjadi tujuan wisata budaya di Lombok.
Rumah tradisional, museum, ruang kehidupan masyarakat, kerajinan dan aktivitas ekonomi warga menjadi bagian dari ekosistem budaya yang berkembang di kawasan tersebut.
Karena itu, kebakaran Sade tidak hanya menyisakan persoalan kehilangan tempat tinggal. Peristiwa ini juga menimbulkan kekhawatiran terhadap keberlanjutan warisan budaya dan ekonomi masyarakat yang bergantung pada aktivitas pariwisata.
Sejumlah laporan juga menyebut adanya artefak dan benda budaya yang terdampak kebakaran. Pendataan terhadap aset budaya yang rusak atau hilang masih dilakukan oleh pemerintah dan pihak terkait.
Kebakaran Desa Adat Sade Jadi Alarm Perlindungan Kawasan Adat
Peristiwa Kebakaran Desa Adat Sade sekaligus menjadi momentum untuk mengevaluasi sistem mitigasi kebakaran di kawasan permukiman tradisional dan destinasi wisata berbasis budaya. Keaslian arsitektur tradisional perlu tetap dipertahankan, tetapi harus berjalan beriringan dengan sistem keselamatan yang memadai.
Ke depan, aspek seperti akses kendaraan pemadam, ketersediaan sumber air, instalasi listrik, alat pemadam, sistem peringatan dini, jalur evakuasi dan edukasi kebencanaan masyarakat menjadi penting untuk diperkuat.
Dengan demikian, upaya pelestarian budaya tidak hanya menjaga bentuk fisik bangunan, tetapi juga memastikan masyarakat yang tinggal di dalamnya terlindungi.
Kemenpar Siagakan Poltekpar Lombok Bantu Korban
Di tengah penanganan pascakebakaran, Kementerian Pariwisata mengambil langkah koordinatif dengan pemerintah daerah dan pemangku kepentingan terkait. Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana menyampaikan keprihatinan atas musibah yang menimpa masyarakat Kampung Adat Sade.
Kementerian Pariwisata juga menginstruksikan Politeknik Pariwisata (Poltekpar) Lombok untuk bersiap membantu masyarakat terdampak, termasuk menyiapkan dapur umum sesuai kebutuhan di lapangan.
“Kami menyampaikan keprihatinan yang mendalam kepada seluruh masyarakat Desa Adat Sade yang terdampak. Yang paling penting saat ini adalah memastikan warga dalam kondisi aman dan kebutuhan dasar masyarakat dapat segera terpenuhi,” ujar Widiyanti.
Menurut Kementerian Pariwisata, bantuan Poltekpar Lombok akan dilaksanakan secara terkoordinasi dengan pemerintah daerah dan Forkopimda Kabupaten Lombok Tengah agar tepat sasaran serta tidak tumpang tindih dengan penanganan yang sudah berjalan.
Pemerintah Siapkan Pemulihan Sade
Setelah masa tanggap darurat berakhir, pemerintah pusat dan daerah akan menghadapi pekerjaan yang lebih besar, yakni memulihkan Desa Adat Sade.
Kementerian Pariwisata menyatakan siap berkoordinasi dalam proses pemulihan sektor pariwisata di kawasan tersebut.
Pemulihan nantinya tidak cukup hanya membangun kembali rumah-rumah yang terbakar. Identitas budaya Sasak, nilai kearifan lokal dan karakter arsitektur tradisional juga harus menjadi bagian penting dalam proses rekonstruksi.
“Sade bukan sekadar destinasi wisata. Sade adalah rumah masyarakat, ruang hidup budaya Sasak, sekaligus bagian penting dari kekayaan pariwisata Indonesia,” kata Widiyanti.
Ia menegaskan bahwa masyarakat harus menjadi prioritas dalam proses pemulihan.
“Kita ingin Sade bangkit kembali tanpa kehilangan jati dirinya sebagai ruang hidup dan warisan budaya masyarakat Sasak,” ujarnya.
Sade Harus Bangkit dengan Tetap Menjaga Identitas Sasak
Kebakaran Desa Adat Sade menjadi salah satu ujian besar bagi masyarakat Sasak dan pemerintah dalam menjaga kawasan budaya di tengah risiko bencana.
Prioritas pertama saat ini adalah memastikan seluruh warga terdampak mendapatkan tempat yang aman, makanan, layanan kesehatan dan kebutuhan dasar lainnya.
Setelah masa darurat terlewati, tantangannya adalah membangun kembali Sade dengan pendekatan yang lebih kuat terhadap pelestarian budaya, keselamatan masyarakat, mitigasi bencana dan keberlanjutan pariwisata.
Sade bukan hanya tentang rumah adat yang menjadi daya tarik wisata. Di balik bangunan tradisional tersebut terdapat masyarakat, tradisi, sejarah dan kehidupan yang telah diwariskan lintas generasi.
Kebakaran boleh menghancurkan bangunan, tetapi pemulihan Sade harus memastikan identitas budaya Sasak tetap hidup.





