Limbah Jadi Peluang Bisnis, Bank Indonesia Dorong UMKM Masuk Ekonomi Sirkular

Limbah Jadi Peluang Bisnis, Bank Indonesia Dorong UMKM Masuk Ekonomi Sirkular

BicaraPlus – Persoalan sampah di Indonesia tidak lagi sekadar menjadi isu lingkungan, tetapi juga menyimpan peluang ekonomi baru bagi UMKM. Melalui penerapan ekonomi sirkular, limbah dapat diolah kembali menjadi produk bernilai tambah sekaligus membuka rantai usaha baru yang lebih berkelanjutan.

Bank Indonesia (BI) mengangkat isu tersebut dalam Sustainable Talk bertema “Waste Management: Pengolahan Limbah Ramah Lingkungan dan Bernilai Tambah” yang menjadi bagian dari rangkaian Karya Kreatif Indonesia (KKI) 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC), Jakarta, Sabtu (23/8/2026).

Diskusi tersebut menyoroti bagaimana pengelolaan sampah dan pengolahan limbah dapat menjadi peluang bisnis bagi UMKM, terutama di tengah meningkatnya kebutuhan terhadap model usaha yang ramah lingkungan.

Deputi Gubernur Bank Indonesia, Ricky Perdana Gozali, mengatakan paradigma pengelolaan limbah perlu diubah. Menurutnya, ekonomi tidak seharusnya terus menggunakan pola “ambil–olah–buang”, tetapi bergerak menuju sistem ekonomi sirkular yang mempertahankan nilai produk dan material selama mungkin. “Kita perlu bergerak dari persoalan limbah menuju pengelolaan limbah, hingga menjadikan limbah yang bernilai tambah,” ujar Ricky.

Sampah Indonesia Capai 24,8 Juta Ton

Besarnya persoalan sampah sekaligus menunjukkan potensi ekonomi yang belum sepenuhnya dimanfaatkan. Data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional mencatat timbulan sampah pada 2025 mencapai 24,8 juta ton per tahun dari 244 kabupaten/kota. Sekitar 65 persen di antaranya disebut belum terkelola secara layak.

Kondisi tersebut menjadi tantangan serius bagi pemerintah dan masyarakat. Namun, dari sisi ekonomi, volume sampah yang besar juga membuka ruang bagi lahirnya berbagai model bisnis baru. UMKM dapat mengambil peran mulai dari pengolahan limbah, produksi barang ramah lingkungan, pemanfaatan kembali material, hingga menjadi bagian dari rantai pasok industri yang menerapkan prinsip ekonomi sirkular.

Penerapan konsep tersebut tidak hanya berdampak terhadap lingkungan. Bagi pelaku UMKM, ekonomi sirkular berpotensi meningkatkan efisiensi penggunaan bahan baku, menciptakan produk baru, membuka sumber pendapatan, serta memperkuat daya saing.

Bank Indonesia Dorong UMKM Berkelanjutan

Bank Indonesia memperkuat peran UMKM dalam ekonomi hijau melalui sejumlah program. Salah satunya adalah penyusunan Pedoman Model Bisnis UMKM Berkelanjutan. BI juga memfasilitasi replikasi pengolahan limbah menjadi produk bernilai tambah. Langkah tersebut diarahkan untuk mendorong pelaku usaha tidak hanya berorientasi pada penjualan produk, tetapi juga memperhatikan keberlanjutan proses produksi.

Upaya serupa dilakukan melalui Kompetisi Perintis Wirausaha Inklusif dan Berkelanjutan (PERWIRA INTAN). Pada 2026, kompetisi tersebut menjaring inovasi usaha yang mendukung ketahanan pangan dengan memperhatikan dampak ekonomi, sosial, dan lingkungan.

Sebanyak 1.950 peserta dari kalangan pelaku usaha, akademisi, dan masyarakat umum telah mendaftarkan inovasinya. Dari jumlah tersebut, 200 proposal terbaik akan mendapatkan pembekalan dan pendampingan.

Selanjutnya, lima inovasi terbaik berkesempatan mendapatkan fasilitasi business matching, kerja sama dengan Bank Indonesia, serta studi banding ke negara yang memiliki sektor pertanian maju.

Limbah Uang Kertas Diubah Jadi Produk Bernilai

Cover sp 2817126

Praktik ekonomi sirkular juga diterapkan Bank Indonesia melalui pengelolaan Uang Rupiah yang sudah tidak layak edar. BI bekerja sama dengan UMKM untuk mengolah limbah racik uang kertas, yakni material hasil pemusnahan uang kertas yang sudah tidak layak edar, menjadi suvenir bernilai ekonomi dan bahan baku pembuatan material pembenah tanah berupa biochar.

Inovasi tersebut bahkan memperoleh pengakuan internasional melalui IACA Award dalam kategori Best New Environmental Sustainability Project.

Pengalaman ini menunjukkan bahwa limbah yang sebelumnya dipandang sebagai material yang harus dibuang dapat dikembangkan menjadi bahan baku produk baru apabila didukung inovasi, teknologi, dan model bisnis yang tepat.

DKI Jakarta Perkuat Pemilahan Sampah dari Sumber

Persoalan sampah juga menjadi perhatian Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Mewakili Gubernur DKI Jakarta, Sekretaris Daerah Provinsi DKI Jakarta Uus Kuswanto menekankan pentingnya kolaborasi pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat untuk memperkuat pengelolaan sampah sejak dari sumbernya.

Pemprov DKI Jakarta mendorong perubahan perilaku masyarakat melalui Instruksi Gubernur Nomor 5 Tahun 2026 yang mewajibkan pemilahan sampah ke dalam empat kategori, yakni organik, anorganik, bahan beracun dan berbahaya (B3), serta residu.

Pemilahan dari sumber diharapkan dapat mengurangi beban pengelolaan sampah di tingkat hilir sekaligus meningkatkan potensi pemanfaatan material yang masih memiliki nilai ekonomi.

Ekonomi Sirkular Jadi Peluang Baru UMKM

Sustainable Talk KKI 2026 menghadirkan Kurniawan Agung dari Departemen Ekonomi Keuangan Inklusif dan Hijau Bank Indonesia, Dudi Gardesi Asikin dari Dinas Lingkungan Hidup Pemprov DKI Jakarta, serta M. Bijaksana Junerosano dari Waste4Change.

Diskusi membahas praktik ekonomi sirkular bagi UMKM, mulai dari pemilahan sampah, pengelolaan limbah, hingga mengubah limbah menjadi produk bernilai tambah.

Peserta kegiatan berasal dari berbagai kalangan, mulai dari UMKM, asosiasi, kementerian/lembaga, lembaga swadaya masyarakat, komunitas lingkungan, hingga masyarakat umum.

Bagi UMKM, peluang ekonomi sirkular dapat dikembangkan melalui berbagai model, seperti produk berbahan daur ulang, pengolahan sampah menjadi bahan baku, penggunaan kembali material produksi, jasa pengelolaan limbah, hingga kolaborasi dengan industri yang membutuhkan bahan baku berkelanjutan.

Artinya, isu sampah tidak semata-mata berbicara mengenai persoalan lingkungan. Jika dikelola dengan pendekatan bisnis dan inovasi, sampah dapat menjadi bagian dari rantai nilai ekonomi baru.

KKI 2026 Dorong UMKM Berdaya dan Berkelanjutan

Bank Indonesia mengajak seluruh pemangku kepentingan memperkuat sinergi untuk membangun ekosistem usaha yang inklusif dan berkelanjutan.

Sejalan dengan semangat Karya Kreatif Indonesia 2026, “Beudaya MeusareSare” atau Berdaya Bersama-sama, ekonomi sirkular diharapkan mampu mengubah persoalan lingkungan menjadi peluang ekonomi baru.

Bagi UMKM Indonesia, perubahan tersebut menjadi momentum untuk tidak hanya menciptakan produk yang laku di pasar, tetapi juga membangun bisnis yang efisien, inovatif, ramah lingkungan, dan mampu bertahan dalam jangka panjang.

Dengan demikian, limbah bukan lagi sekadar masalah yang harus dibuang, melainkan sumber daya yang dapat diolah menjadi nilai tambah dan peluang usaha baru.

Bagikan