Cara Otak Menentukan Apakah Kita Benar-Benar Berada dalam Kendali

Cara Otak Menentukan Apakah Kita Benar-Benar Berada dalam Kendali

BicaraPlus – Pernah mengalami kegagalan dan bertanya, “Ini kesalahan saya atau memang keadaan di luar kendali?” Ternyata, kemampuan menjawab pertanyaan tersebut melibatkan mekanisme kompleks di dalam otak.Studi terbaru yang dipimpin peneliti University of Oxford mengungkap bagaimana otak menentukan apakah suatu hasil terjadi akibat tindakan sendiri atau dipengaruhi faktor eksternal yang berada di luar kendali.

Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Neuron itu menggunakan pencitraan otak ultra-high-field dan stimulasi otak non-invasif untuk mengidentifikasi sirkuit otak yang berperan dalam membentuk rasa kendali atau sense of control. Temuan ini membantu menjelaskan bagaimana manusia belajar dari keberhasilan dan kegagalan, sekaligus memberikan petunjuk baru mengenai mekanisme otak yang berkaitan dengan persepsi terhadap kendali.

Keyakinan Diri Menjadi Petunjuk bagi Otak

Dalam penelitian tersebut, peserta diminta menentukan apakah jumlah titik berwarna biru atau oranye pada layar lebih banyak. Setelah membuat pilihan, mereka juga diminta menilai seberapa yakin terhadap keputusan tersebut sebelum menerima umpan balik. Peneliti kemudian mengubah tingkat keandalan umpan balik tanpa memberi tahu peserta.

Dalam kondisi terkendali, umpan balik sesuai dengan kinerja peserta pada 90 persen percobaan. Sementara dalam kondisi tidak terkendali, hanya 10 persen umpan balik yang mencerminkan kinerja sebenarnya, sedangkan sisanya diberikan secara acak.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat keyakinan terhadap keputusan menjadi salah satu petunjuk yang digunakan otak untuk menentukan penyebab suatu hasil.

Ketika peserta sangat yakin terhadap jawabannya tetapi mendapatkan hasil negatif yang tidak terduga, mereka lebih mungkin menganggap hasil tersebut disebabkan faktor eksternal atau terjadi secara acak.

Sebaliknya, ketika keyakinan mereka terhadap keputusan lebih rendah, mereka cenderung menganggap hasil negatif tersebut berkaitan dengan kinerja sendiri.

Otak Terus Mengukur Seberapa Besar Kendali yang Kita Miliki

Menariknya, otak tidak hanya mengevaluasi apakah sebuah keputusan benar atau salah.

Manusia juga terus memperbarui perkiraan mengenai seberapa besar kendali yang dimiliki terhadap lingkungan dan berbagai hasil yang diterima. Artinya, ketika menghadapi suatu kejadian, otak secara tidak langsung berusaha menjawab dua pertanyaan: Apa yang terjadi? dan Siapa atau apa yang menyebabkan hal itu terjadi? Proses ini sangat penting dalam pembelajaran.

Peneliti memberikan gambaran sederhana melalui seorang pemanah. Ketika anak panah meleset dari sasaran, pemanah harus menentukan apakah penyebabnya adalah teknik yang kurang tepat atau faktor eksternal seperti angin. Jika penyebabnya salah diidentifikasi, pelajaran yang diambil juga bisa keliru.

Dua Sirkuit Otak Terlibat

Dengan menggunakan pemindaian functional MRI (fMRI) ultra-high-resolution pada 22 peserta, peneliti menemukan keterlibatan sirkuit yang menghubungkan dorsomedial prefrontal cortex (dmPFC) dengan dorsal raphe nucleus, struktur kecil yang berada jauh di dalam otak.

Aktivitas dmPFC berkaitan dengan tingkat keyakinan peserta, perkiraan mengenai seberapa besar kendali yang mereka miliki, serta penilaian apakah suatu hasil disebabkan oleh tindakan sendiri atau faktor acak.

Peneliti juga menemukan sirkuit kedua yang menghubungkan wilayah korteks prefrontal dengan area otak tengah yang berkaitan dengan dopamin. Sirkuit ini berhubungan dengan bagaimana penilaian mengenai kendali memengaruhi respons otak terhadap umpan balik.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa rasa kendali bukan sekadar pengalaman psikologis, tetapi melibatkan jaringan otak yang saling berkomunikasi.

Ketika Aktivitas dmPFC Diganggu, Otak Lebih Lambat Menentukan Penyebab

Untuk menguji peran dmPFC secara langsung, peneliti melakukan eksperimen tambahan terhadap 20 peserta menggunakan stimulasi magnetik otak non-invasif. Ketika aktivitas wilayah tersebut untuk sementara diganggu, peserta menjadi lebih lambat dalam menentukan apakah umpan balik yang diterima benar-benar mencerminkan kinerja mereka atau sebagian besar bersifat acak.

Hasil ini memperkuat bukti bahwa dmPFC berperan penting dalam menilai apa yang berada dalam kendali manusia dan apa yang tidak. Kemampuan membedakan hal yang dapat dikendalikan dengan sesuatu yang berada di luar kendali memiliki peran penting dalam kemampuan manusia beradaptasi.

Perubahan persepsi terhadap kendali dan cara seseorang menentukan penyebab suatu kejadian sebelumnya telah dikaitkan dengan sejumlah kondisi kesehatan mental, termasuk depresi, kecemasan, dan skizofrenia.

Meski demikian, peneliti menegaskan bahwa studi ini dilakukan pada orang dewasa sehat dan belum dirancang untuk menguji intervensi atau pengobatan terhadap kondisi klinis. Salah satu area yang menjadi perhatian adalah dorsal raphe nucleus, yang memiliki keterkaitan kuat dengan sistem serotonin. Serotonin juga menjadi salah satu target sejumlah pengobatan untuk depresi, termasuk obat golongan SSRI.

Karena itu, temuan ini lebih tepat dipandang sebagai dasar untuk memahami mekanisme otak, bukan sebagai bukti ditemukannya terapi baru untuk gangguan mental.

Menurut peneliti, kemampuan menentukan apakah sebuah hasil disebabkan oleh diri sendiri atau keadaan eksternal sangat penting dalam kehidupan sehari-hari. Ketika seseorang yakin bahwa kegagalan disebabkan oleh tindakannya sendiri, ia dapat memperbaiki strategi atau perilaku pada kesempatan berikutnya.

Namun, jika penyebabnya memang berada di luar kendali, terus menyalahkan diri sendiri justru dapat membuat seseorang mengambil pelajaran yang keliru. Studi Oxford ini menunjukkan bahwa otak memiliki mekanisme untuk membantu manusia membuat perbedaan tersebut.

Pada akhirnya, rasa kendali bukan hanya tentang merasa memiliki kendali, tetapi juga tentang kemampuan otak mengenali kapan kita memang dapat mengubah sesuatu dan kapan kita harus beradaptasi dengan keadaan.

Temuan ini membuka ruang penelitian lebih lanjut mengenai bagaimana mekanisme tersebut bekerja dan mengapa persepsi kendali pada sebagian orang dapat menjadi bias atau terganggu.

Bagikan