
BicaraPlus – Sampah Jakarta kembali menjadi perhatian serius. Volume sampah di ibu kota disebut terus meningkat hingga mencapai sekitar 7.500 sampai 8.000 ton per hari. Kondisi tersebut membuat kapasitas Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang menghadapi tekanan besar akibat tingginya sampah yang masuk setiap hari.
Anggota DPRD DKI Jakarta, Josephine Simanjuntak, meminta masyarakat meningkatkan kepedulian terhadap kebersihan lingkungan dan lebih disiplin membuang sampah pada tempatnya. Pernyataan tersebut disampaikan dalam agenda rutin kedewanan bertajuk Peningkatan Fungsi Pengawasan Produk Hukum Provinsi Daerah Khusus Jakarta Nomor 4 Tahun 2019 tentang Pengelolaan Sampah yang digelar di Jakarta Timur pada Minggu (10/5/2026).
Menurut Josephine, persoalan Sampah Jakarta masih menjadi tantangan besar karena volume sampah terus meningkat dari berbagai aktivitas masyarakat, mulai dari rumah tangga, perdagangan, perkantoran, hingga industri. “Kalau setiap hari lingkungan kita rapi dan masyarakat disiplin membuang sampah pada tempatnya, tentu persoalan sampah bisa lebih terkendali,” ujar Josephine.
Sampah Jakarta Didominasi Sampah Rumah Tangga
Berdasarkan data Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Sampah Jakarta didominasi oleh limbah rumah tangga. Jenis sampah yang paling banyak ditemukan antara lain sisa makanan, plastik sekali pakai, serta sampah kemasan. Sebagian besar sampah tersebut diangkut menggunakan ratusan armada menuju TPST Bantar Gebang di Bekasi yang menjadi lokasi utama pengolahan sampah warga Jakarta.
Tingginya volume Sampah Jakarta setiap hari membuat kapasitas Bantar Gebang menghadapi tantangan serius. Pengelolaan dilakukan melalui sistem pemadatan dan pengolahan agar area pembuangan tetap dapat digunakan. Namun, apabila produksi sampah terus meningkat tanpa pengurangan dari sumbernya, kondisi ini dikhawatirkan akan memperberat beban pengelolaan sampah di Jakarta.
DPRD Minta Warga Tidak Buang Sampah Sembarangan
Josephine menegaskan bahwa kesadaran masyarakat menjadi kunci utama dalam mengatasi persoalan Sampah Jakarta. Ia meminta warga memanfaatkan Tempat Pembuangan Sementara (TPS) yang telah disediakan pemerintah daerah agar lingkungan tetap bersih dan sehat. “Jangan membuang sampah sembarangan, apalagi ke lingkungan sekitar atau rumah tetangga. Kesadaran menjaga kebersihan harus dimulai dari diri sendiri,” tegas anggota Komisi C DPRD DKI Jakarta tersebut.
Ia juga mengingatkan bahwa kebiasaan membuang sampah sembarangan dapat memicu berbagai persoalan lingkungan, mulai dari banjir, pencemaran air, hingga munculnya penyakit akibat lingkungan yang tidak sehat.
Pengurangan Sampah Jakarta Harus Dimulai dari Rumah Tangga
Persoalan Sampah Jakarta dinilai tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah. Menurut Josephine, pengurangan sampah harus dimulai dari rumah tangga melalui kebiasaan memilah sampah organik dan anorganik. Selain itu, penggunaan plastik sekali pakai juga perlu dikurangi untuk menekan jumlah sampah yang terus meningkat setiap harinya.
Josephine mendorong pemerintah daerah memperkuat program bank sampah di tingkat warga sebagai salah satu solusi pengurangan sampah dari sumbernya. Program bank sampah dinilai dapat membantu masyarakat lebih sadar terhadap pengelolaan limbah sekaligus memberikan nilai ekonomi dari sampah yang masih dapat didaur ulang.
TPST Bantar Gebang Hadapi Tekanan Berat Akibat Sampah Jakarta
TPST Bantar Gebang saat ini masih menjadi lokasi utama pengolahan Sampah Jakarta. Setiap hari, ribuan ton sampah dikirim dari berbagai wilayah di ibu kota menuju lokasi tersebut. Tingginya volume sampah membuat pemerintah harus terus melakukan berbagai upaya pengelolaan agar kapasitas TPST tetap mampu menampung sampah warga Jakarta.
Persoalan ini menjadi tantangan jangka panjang yang membutuhkan kerja sama antara pemerintah dan masyarakat. Apabila kesadaran masyarakat meningkat dalam mengurangi dan memilah sampah sejak dari rumah, maka volume Sampah Jakarta yang dikirim ke Bantar Gebang dapat ditekan secara bertahap.
Edukasi dan Kepedulian Jadi Kunci Atasi Sampah Jakarta
Josephine menilai edukasi mengenai pengelolaan Sampah Jakarta perlu terus dilakukan secara masif, terutama di lingkungan rumah tangga dan sekolah. Menurutnya, perubahan perilaku masyarakat menjadi faktor penting dalam menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan sehat di Jakarta.
Selain itu, penguatan regulasi dan pengawasan terhadap pengelolaan sampah juga diperlukan agar aturan yang sudah dibuat dapat berjalan efektif di lapangan. Dengan meningkatnya kepedulian masyarakat, persoalan Sampah Jakarta diharapkan dapat dikendalikan sehingga kualitas lingkungan ibu kota menjadi lebih baik di masa mendatang.





