Dari Desa ke Dunia: Cahyono Perdana dan IEMAHKAI Membangun Sistem, Bukan Sekadar Bisnis

Polyworking 72

BicaraPlus – Di tengah persoalan sampah nasional yang masih menjadi tantangan besar, langkah-langkah kecil berbasis komunitas justru menjadi harapan baru. Data dari Kementerian Lingkungan Hidup melalui sistem pemantauan sampah nasional menunjukkan bahwa dari total timbulan sampah, baru sekitar 25% yang berhasil dikelola, sementara sekitar 75% lainnya masih belum tertangani secara optimal. Bahkan, volume sampah yang belum terkelola mencapai lebih dari 109 ribu ton per hari angka yang menegaskan bahwa persoalan ini bukan sekadar isu lingkungan, tetapi krisis sistemik yang membutuhkan pendekatan dari hulu hingga hilir.

Di tengah realitas tersebut, sosok Cahyono Perdana, pendiri IEMAHKAI di Majenang, Cilacap, hadir membawa pendekatan yang berbeda. Ia tidak memulai dari sistem besar atau teknologi skala industri, melainkan dari perubahan pola pikir di tingkat paling dasar yaitu kebiasaan masyarakat. Baginya, masalah sampah tidak akan pernah selesai jika hanya ditangani di hilir. Selama sumbernya yaitu cara masyarakat memandang dan memperlakukan sampah tidak berubah, maka upaya sebesar apa pun akan selalu tertinggal oleh laju produksi limbah itu sendiri.

Cahyono melihat langsung bagaimana kebiasaan membuang sampah sembarangan terjadi bukan karena ketidakpedulian, melainkan karena belum adanya sistem yang memudahkan dan minimnya edukasi. Dari situ, ia membangun pendekatan berbasis edukasi dan praktik nyata. Ia percaya bahwa masyarakat perlu diajak memahami, bukan sekadar diingatkan tetapi memahami mana sampah yang bisa dipilah, mana yang memiliki nilai ekonomi, dan bagaimana mengelolanya secara berkelanjutan.

Pendekatan ini kemudian berkembang menjadi fondasi lahirnya IEMAHKAI, sebuah usaha sosiopreneur yang tidak hanya bergerak di bidang industri kreatif berbasis kayu, tetapi juga membawa misi sosial yang kuat. Berlokasi di Desa Bener, Kecamatan Majenang, IEMAHKAI menjadi contoh nyata bagaimana bisnis dapat berjalan beriringan dengan pemberdayaan masyarakat. Mengolah kayu jati belanda menjadi berbagai produk seperti booth makanan, meja, kursi, hingga furnitur berkualitas ekspor, IEMAHKAI berhasil menembus pasar internasional tanpa meninggalkan akar sosialnya.

Yang membuat IEMAHKAI berbeda bukan hanya produknya, tetapi sistem yang dibangunnya. Cahyono secara sadar membuka ruang kerja bagi masyarakat dengan latar belakang pendidikan terbatas mulai dari lulusan SD hingga mereka yang tidak memiliki ijazah. Bagi sebagian bisnis, ini mungkin dianggap sebagai risiko. Namun bagi Cahyono, ini adalah bagian dari solusi. Ia melihat potensi, bukan keterbatasan. Melalui pelatihan dan pendampingan, tenaga kerja yang awalnya tidak memiliki keterampilan justru berkembang menjadi produktif dan mandiri.

Dampaknya nyata. IEMAHKAI mampu menyerap tenaga kerja lokal secara signifikan hingga menciptakan kondisi mendekati zero pengangguran di Desa Bener. Ini bukan hanya pencapaian bisnis, tetapi transformasi sosial yang langsung dirasakan masyarakat. Upaya ini pun mendapat apresiasi dari pemerintah setempat. Camat Majenang bahkan mendorong para pekerja untuk tetap melanjutkan pendidikan melalui program kejar paket, sebagai bagian dari peningkatan kualitas hidup yang berkelanjutan.

Namun perjalanan Cahyono tidak berhenti pada industri kreatif. Ia juga mengembangkan pendekatan berbasis teknologi recycling yang diuji langsung dalam kehidupan sehari-hari. Setiap inovasi tidak lahir dari asumsi, tetapi dari praktik yang digunakan, diperbaiki, dan disempurnakan. Setelah terbukti efektif, barulah diterapkan di komunitas sekitar. Menariknya, ia tidak menjual solusi secara agresif. Ia membangun kesadaran terlebih dahulu, menunjukkan dampak nyata, hingga akhirnya kebutuhan itu tumbuh secara alami di masyarakat.

Dalam konteks yang lebih luas, apa yang dilakukan Cahyono melalui IEMAHKAI menjadi refleksi dari solusi yang dibutuhkan Indonesia saat ini. Ketika data menunjukkan masih besarnya gap antara timbulan dan pengelolaan sampah, maka pendekatan berbasis komunitas, edukasi, dan pemberdayaan menjadi kunci penting. Ia juga menekankan bahwa persoalan ini tidak bisa diselesaikan sendiri. Diperlukan kolaborasi antara pemerintah sebagai pembuat regulasi, korporasi sebagai pemilik sumber daya, dan pelaku lapangan sebagai penggerak implementasi.

Cahyono memandang masa depan industri recycling di Indonesia dengan optimisme yang realistis. Kesadaran generasi muda meningkat, tetapi tantangan budaya dan sistem masih besar. Oleh karena itu, ia percaya bahwa perubahan harus dimulai dari hal sederhana dari kebiasaan individu, dari komunitas kecil, hingga akhirnya membentuk sistem yang lebih besar.

Melalui IEMAHKAI, Cahyono Perdana tidak hanya membangun bisnis yang menembus pasar global, tetapi juga membangun sebuah ekosistem di mana masalah sampah, pengangguran, dan keterbatasan akses bisa diubah menjadi peluang yang bernilai. Sebuah bukti bahwa perubahan besar tidak selalu dimulai dari kebijakan besar, tetapi dari keberanian untuk memulai dari hulu.

Bagikan