
BicaraPlus – Sejarah Candi Borobudur kini dapat dijelajahi dengan cara yang lebih interaktif melalui Purwacarita Borobudur Jelajah Sejarah dalam Ruang dan Rasa, sebuah pengalaman imersif yang memadukan budaya, riset sejarah, teknologi digital, dan Ethical AI.
Hadir di Galeri Indonesia Kaya (GIK) mulai 1 September 2026, pengalaman ini mengajak masyarakat mengenal kembali kisah di balik penciptaan Candi Borobudur melalui delapan fitur interaktif. Menariknya, pengalaman tersebut dapat dinikmati secara gratis.
Program ini menjadi upaya Galeri Indonesia Kaya untuk membawa sejarah dan budaya Indonesia lebih dekat dengan generasi masa kini. Sejarah Borobudur tidak hanya ditampilkan sebagai informasi, tetapi diterjemahkan menjadi pengalaman visual dan interaktif yang memungkinkan pengunjung mengeksplorasi berbagai kisah di balik salah satu mahakarya budaya Indonesia.
“Melestarikan budaya bukan hanya tentang menjaga warisan masa lalu, tetapi juga memastikan cerita, nilai, dan identitas di dalamnya tetap hidup dan relevan bagi generasi berikutnya,” ujar Renitasari Adrian, Program Director Galeri Indonesia Kaya.
Menelusuri Asal Mula Candi Borobudur

Purwacarita Borobudur membawa pengunjung menelusuri sejumlah kisah yang berkaitan dengan sejarah dan pembangunan Candi Borobudur, termasuk asal mula Kāmulan i Bhūmisambhāra sebagaimana disebut dalam prasasti kuno. Melalui perpaduan proyeksi visual dan teater imersif, relief-relief Borobudur yang selama berabad-abad menghiasi dinding candi ditampilkan kembali dalam rangkaian adegan yang dapat disaksikan sekaligus dieksplorasi pengunjung.
Pengunjung juga dapat mengenal kisah Karmawibhangga yang menggambarkan hukum sebab-akibat atau karma, serta cerita cinta dan kesetiaan Pangeran Sudhana dan Putri Manohara melalui relief Avadana.
Dua tokoh dari Wangsa Sailendra, yakni Raja Samaratungga dan Putri Pramodhawardhani, turut dihadirkan untuk membawa pengunjung memahami kehidupan serta visi di balik pembangunan hingga peresmian Candi Borobudur.
Sejarah Borobudur Bisa Dieksplorasi Secara Interaktif
Pengalaman di Purwacarita Borobudur tidak hanya mengandalkan visual. Pengunjung dapat berinteraksi langsung menggunakan sensor gerak yang merespons berbagai aktivitas.
Salah satu pengalaman tersebut memungkinkan pengunjung memicu respons flora dan fauna yang terdapat dalam relief Borobudur, seperti burung merak, rusa Jawa, dan gajah.
Pengunjung juga dapat mengikuti kembali rute sakral peziarah purba dari Candi Mendut, Candi Pawon, hingga Stupa Induk Borobudur melalui permainan berbasis layar informasi interaktif.
Pendekatan tersebut membuat sejarah tidak berhenti pada aktivitas membaca atau melihat. Pengunjung diajak mengalami dan mengeksplorasi cerita serta pesan moral yang terkandung dalam relief dan arsitektur Borobudur.
Ethical AI Jadi Bagian Penting dalam Pengembangan
Salah satu aspek yang membedakan Purwacarita Borobudur adalah penggunaan Ethical AI dalam proses pengembangan pengalaman imersif.
Dalam karya ini, kecerdasan buatan digunakan sebagai alat bantu visualisasi, sementara fakta dan akurasi sejarah tetap menjadi landasan utama.
Pengembangan dilakukan dengan merujuk pada riset dan fakta sejarah yang telah divalidasi. Data sejarah dan narasi dialog yang bersumber dari prasasti, termasuk Prasasti Karangtengah (824 M) dan Prasasti Tri Tepusan (842 M), hingga penggambaran busana dan artefak melalui proses kurasi dan penyuntingan.
Setiap naskah, visual, detail busana, dan arsitektur yang ditampilkan juga melalui validasi akademik oleh Departemen Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada, serta validasi profesional oleh Museum dan Cagar Budaya.
Tim kreatif bahkan melakukan kunjungan lapangan ke Borobudur sebagai salah satu rujukan visual.
Founder dan CEO Curaweda, Azhar Muhammad Fuad, mengatakan teknologi dalam proyek tersebut ditempatkan sebagai alat untuk memperkuat riset dan menghadirkan budaya Nusantara dalam format yang lebih dekat dengan generasi muda. “AI kami perlakukan sebagai kuas, sementara kanvasnya tetap fakta sejarah yang telah divalidasi para ahli,” ujarnya.
Delapan Pengalaman dalam Purwacarita Borobudur
Sebagai sebuah perjalanan utuh, Purwacarita Borobudur menghadirkan delapan fitur yang membawa pengunjung melihat Borobudur dari berbagai perspektif.
- Sapa Borobudur – pengantar visual mengenai lanskap dan latar zaman berdirinya Borobudur.
- Karmawibhangga dan Avadana – menghadirkan kisah kedua relief melalui teater imersif.
- Batu Carita – memperkenalkan empat tokoh, yakni Raja Samaratungga, Putri Pramodhawardhani, Sudhana, dan Manohara.
- Mandala – mengajak pengunjung menjelajahi Borobudur melalui gawai sekaligus mengikuti rute sakral dari Candi Mendut dan Candi Pawon menuju Stupa Induk.
- Jelajah Borobudur – menghadirkan petualangan menuju Borobudur dan candi-candi di sekitarnya.
- Buku Carita – mengisahkan perjalanan Putri Pramodhawardhani dalam memahami tujuan ayahnya, Raja Samaratungga, membangun Borobudur.
- Harmoni Borobudur – menghadirkan gambaran alam sekitar Borobudur pada masa lalu, lengkap dengan interaksi satwa melalui sensor.
- Asal Mula Borobudur The Movie – sajian utama di Auditorium Galeri Indonesia Kaya mengenai kisah di balik penciptaan Candi Borobudur dan relief-reliefnya.
Kolaborasi Budaya, Teknologi, dan Riset
Purwacarita Borobudur merupakan hasil kolaborasi lintas disiplin yang mempertemukan perspektif budaya, riset, teknologi, dan pengembangan bisnis.
Dalam pengembangannya, Bening Digital Indonesia berperan sebagai business consultant dan berkolaborasi dengan Curaweda serta Galeri Indonesia Kaya untuk mengembangkan karya imersif berbasis AI yang tetap berlandaskan riset dan akurasi sejarah.
Pendekatan ini menjadi penting di tengah semakin luasnya penggunaan AI dalam industri kreatif. Purwacarita Borobudur menunjukkan bahwa teknologi dapat digunakan untuk mengemas sejarah secara lebih menarik tanpa mengesampingkan proses kurasi dan validasi akademik. Purwacarita Borobudur Jelajah Sejarah dalam Ruang dan Rasa dapat dinikmati masyarakat mulai 1 September 2026 di Galeri Indonesia Kaya, West Mall Grand Indonesia lantai 8.





