Kisah Mbah Sarjo, Jamaah Tunanetra yang Wujudkan Mimpi Haji di Usia 71 Tahun

dc6c45b0feb53fc88a7095dd9645d60a

BicaraPlus – Setelah menanti bertahun-tahun, Sarjo Utomo (71) akhirnya bisa menjejakkan kaki di Tanah Suci bersama sang anak.

Jamaah yang akrab disapa Mbah Sarjo ini tergabung dalam Kloter 1 Yogyakarta (YIA) yang tiba di Madinah pada Rabu (22/4).

Di usia senja, Mbah Sarjo menaruh harapan besar dari ibadah hajinya.

Ia berharap Allah menerima amalnya dan mengampuni dosa-dosa masa lalu.

“Kalau saya berhaji, mungkin Allah mengampuni dosa-dosa saya di masa lalu,” kata Mbah Sarjo kepada tim MCH Daker Madinah.

Keterbatasan fisik tak menghalangi tekadnya. Mbah Sarjo berangkat sebagai penyandang disabilitas netra demi menyempurnakan rukun Islam kelima.

Jamaah asal Srikayangan, Sentolo, Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta itu menyebut haji sebagai bekal untuk kehidupan setelah dunia.

“Haji itu kan rukun Islam. Ibadah saya buat sangu (bekal) saya nanti di hadapan Allah,” ujarnya di Madinah, beberapa waktu lalu.

Perjalanan hidup Mbah Sarjo tak mudah.

Pada 1992, saat berusia 37 tahun, ia mengalami gangguan penglihatan akibat virus herpes. Operasi yang dijalaninya justru membuatnya kehilangan fungsi penglihatan.

Vonis dokter bahwa matanya tak dapat disembuhkan sempat menjadi ujian berat.

Namun, kondisi itu tidak membuatnya menyerah.

Ia memilih mendekatkan diri kepada Allah dengan rutin mendengarkan kajian-kajian Islam melalui televisi dan YouTube.

“Saya tiap hari dengarkan kajian ustadz-ustadz, hingga saya semangat dan mantap pada takdir Allah,” katanya.

Tekad berhaji pun terus ia pupuk.

Demi mewujudkan cita-cita ke Baitullah, Mbah Sarjo rela menjual pekarangan kebunnya untuk biaya pendaftaran haji bagi dirinya, istri, dan anaknya.

“Pekarangan kebun saya jual untuk daftar haji saya, anak saya, dan istri saya,” tuturnya.

Bagi Mbah Sarjo, haji adalah kewajiban yang harus diupayakan bagi muslim yang mampu.

Prinsip itu yang membuatnya tetap berjuang, meski harus mengorbankan harta yang dimiliki.

Kisah Mbah Sarjo menjadi pengingat bahwa keterbatasan bukan halangan untuk memenuhi panggilan Allah.

Bagikan