Ketahanan Energi Tak Cukup Andalkan SDA, PNJ Dorong Sinergi Industri dan Vokasi

Ketahanan Energi Tak Cukup Andalkan SDA, PNJ Dorong Sinergi Industri dan Vokasi

Bicaraplus – Ketahanan energi Indonesia tidak lagi cukup dibangun dengan mengandalkan melimpahnya sumber daya alam. Di tengah pertumbuhan kebutuhan energi, perubahan teknologi, dan tuntutan transisi energi, kesiapan industri serta kualitas sumber daya manusia (SDM) menjadi faktor penentu daya tahan sektor energi nasional.

Persoalan tersebut menjadi salah satu sorotan utama dalam Sarasehan Vol. III Politeknik Negeri Jakarta (PNJ) yang mengangkat tema “Membangun Sinergi Vokasi, Industri, dan Inovasi untuk Mendukung Ketahanan Energi Nasional”, di Gedung Perpustakaan PNJ, Kamis (1/10).

Forum ini mempertemukan pemerintah, akademisi, dan pelaku industri untuk membedah tantangan sekaligus peluang penguatan sektor energi Indonesia. Pembahasan tidak hanya berfokus pada aspek kebijakan, tetapi juga menyentuh persoalan investasi, teknologi, infrastruktur, keekonomian proyek, kebutuhan industri, hingga kesiapan tenaga kerja.

Empat Perspektif, Satu Tantangan Energi

Diskusi panel menghadirkan empat narasumber yang merepresentasikan perspektif berbeda dalam ekosistem energi nasional. Prof. Dr. Tirta Nugraha Mursitama, Ph.D., Staf Ahli Menteri Bidang Hubungan Kelembagaan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), mengulas arah kebijakan energi nasional dan pentingnya sinergi antarlembaga.

Menurut perspektif yang dibahas dalam forum, transformasi sektor energi harus diikuti dengan kesiapan kompetensi SDM. Perubahan teknologi dan kebutuhan industri menuntut sistem pendidikan mampu menghasilkan tenaga kerja yang tidak hanya memahami teori, tetapi juga siap menghadapi kebutuhan nyata di lapangan.

Dari sektor panas bumi, Ali Sahid, Vice President PT Sorik Merapi Geothermal Power (SMGP), membawa perspektif industri mengenai pengembangan energi panas bumi.

Pembahasan mencakup tantangan eksplorasi, kebutuhan investasi, keekonomian proyek, pemanfaatan teknologi, hingga kompetensi tenaga kerja. Pengembangan energi terbarukan, menurut perspektif industri, membutuhkan dukungan ekosistem yang kuat agar potensi sumber daya dapat dikonversi menjadi proyek yang layak secara teknis maupun ekonomi.

Sementara itu, Henny Trisnadewi, S.H., M.H., M.B.A., C.C.P., Corporate Secretary PT Badak LNG, menyoroti peran LNG dalam mendukung keandalan energi nasional. Perspektif yang disampaikan mencakup efisiensi, keandalan operasional, inovasi teknologi, tata kelola, daya saing, serta pengembangan SDM. Pengalaman industri LNG menunjukkan bahwa ketahanan energi juga sangat ditentukan oleh kemampuan menjaga standar operasional dan mengembangkan kompetensi manusia secara berkelanjutan.

Perspektif ekonomi energi disampaikan Alloysius Joko Purwanto, Senior Energy Economist, Economic Research Institute for ASEAN and East Asia (ERIA). Ia membahas tantangan investasi dan keekonomian sektor energi, dinamika pasar global dan ASEAN, serta peluang Indonesia memperkuat daya saing industri di tengah perubahan lanskap energi dunia.

Pendidikan Vokasi Harus Terhubung dengan Kebutuhan Industri

DSC07218

Salah satu benang merah yang mengemuka dalam diskusi adalah pentingnya memperkuat hubungan antara pendidikan vokasi dan dunia industri. Kebutuhan industri energi berkembang cepat. Karena itu, pendidikan vokasi dituntut tidak berjalan sendiri, melainkan membangun hubungan yang lebih erat dengan perusahaan dan pemangku kepentingan sektor energi.

Sejumlah skema kolaborasi menjadi bagian penting dari pembahasan, mulai dari program magang, sertifikasi kompetensi, riset terapan, transfer teknologi, hingga keterlibatan industri dalam penyusunan kurikulum. Kolaborasi tersebut dinilai penting untuk memperkecil kesenjangan antara kompetensi lulusan dan kebutuhan dunia kerja.

Bagi perguruan tinggi vokasi seperti PNJ, hubungan dengan industri bukan sekadar membuka akses mahasiswa terhadap dunia kerja. Lebih jauh, kemitraan tersebut menjadi bagian dari proses memastikan pendidikan tetap relevan dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan industri.

Dari Sarasehan Menuju Langkah Konkret

Berlangsung selama sekitar 90 menit, Sarasehan Vol. III tidak berhenti pada pemetaan persoalan. Diskusi diarahkan untuk menghasilkan rekomendasi dan langkah konkret yang dapat memperkuat hubungan pemerintah, industri, dan pendidikan vokasi.

Forum tersebut menegaskan bahwa ketahanan energi merupakan agenda lintas sektor. Sumber daya alam, investasi, teknologi, kebijakan, industri, dan SDM harus bergerak dalam satu ekosistem yang saling mendukung.

Di titik inilah pendidikan vokasi memiliki posisi strategis. Perguruan tinggi tidak hanya berperan mencetak tenaga kerja, tetapi juga dapat menjadi ruang lahirnya inovasi dan riset terapan yang menjawab persoalan industri.

Melalui Sarasehan Vol. III, PNJ mendorong agar sinergi antara pemerintah, industri, dan dunia pendidikan tidak berhenti sebagai wacana dalam forum diskusi. Kolaborasi tersebut diharapkan berlanjut dalam bentuk penguatan kompetensi, pengembangan teknologi, riset terapan, inovasi, serta penyiapan SDM energi yang mampu menjawab tantangan masa depan.

Sebab, ketika kebutuhan energi terus meningkat dan lanskap energi global berubah cepat, ketahanan energi Indonesia pada akhirnya bukan hanya ditentukan oleh seberapa besar sumber daya yang dimiliki, tetapi juga oleh seberapa siap manusia dan industrinya mengelola sumber daya tersebut.

Bagikan