Eddy Soeparno: Transisi Energi Indonesia Harus Bertahap, Jangan Ganggu Pembangunan

Eddy Soeparno: Transisi Energi Indonesia Harus Bertahap

BicaraPlus -Indonesia perlu menjalankan transisi energi secara bertahap agar pengembangan energi bersih dan energi baru terbarukan (EBT) tidak mengganggu pertumbuhan ekonomi, ketahanan energi, dan pembangunan nasional. Hal tersebut disampaikan Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI) Dr. Eddy Soeparno, S.H., M.H., saat membuka Sarasehan Vol. III yang digelar dalam rangkaian Dies Natalis ke-44 Politeknik Negeri Jakarta (PNJ) di Gedung Perpustakaan PNJ, Depok, Kamis (1/10/2026).

Sarasehan Vol. III mengangkat isu strategis mengenai sinergi vokasi, industri, dan inovasi untuk mendukung ketahanan energi nasional. Dalam kesempatan tersebut, Eddy Soeparno menekankan bahwa agenda transisi energi Indonesia harus berjalan beriringan dengan kebutuhan pembangunan dan pertumbuhan ekonomi.

Menurut Eddy Soeparno, tantangan Indonesia bukan sekadar mempercepat penggunaan energi bersih, tetapi juga memastikan ketersediaan energi yang cukup, andal, dan terjangkau bagi masyarakat serta dunia usaha. “Persoalan energi tidak dapat dilepaskan dari kondisi geopolitik,” ujar Eddy.

Eddy Soeparno menjelaskan, konflik di Timur Tengah dapat memberikan dampak terhadap sektor energi sekaligus mengganggu rantai pasok global. Dampaknya tidak hanya dirasakan melalui perubahan harga minyak dan gas, tetapi juga dapat merembet ke sektor petrokimia, logistik, transportasi laut dan udara, pangan, manufaktur, hingga industri elektronik.

Ketergantungan terhadap bahan baku berbasis petroleum membuat kenaikan harga energi berpotensi meningkatkan biaya produksi. Kondisi tersebut kemudian dapat memberikan tekanan terhadap harga barang dan inflasi.

Ketika inflasi meningkat, kebijakan moneter dapat merespons melalui kenaikan suku bunga untuk mengendalikan tekanan harga. Namun, kenaikan suku bunga juga dapat memberikan tekanan terhadap aktivitas ekonomi. Menurut Eddy Soeparno, kondisi tersebut menjadi sebuah lingkaran yang perlu diputus melalui kebijakan energi yang tepat.

Indonesia Punya Potensi Energi Berlimpah

Eddy Soeparno menilai Indonesia memiliki modal besar untuk menghadapi tantangan energi tersebut. Selain sumber energi fosil seperti batu bara, minyak, dan gas, Indonesia memiliki potensi energi terbarukan yang beragam, mulai dari tenaga surya, angin, air, arus laut, hingga teknologi penangkapan dan penyimpanan karbon.

Potensi tersebut menjadi modal penting dalam memperkuat ketahanan energi sekaligus mendorong pengembangan sumber energi yang lebih berkelanjutan. Namun, di tengah keberlimpahan sumber energi tersebut, Indonesia masih menghadapi ketergantungan terhadap impor untuk memenuhi sebagian kebutuhan energi nasional.

BBM, minyak mentah, dan LPG masih didatangkan dari luar negeri. Ketergantungan terhadap LPG menjadi salah satu perhatian karena sebagian kebutuhan konsumsi nasional masih dipenuhi melalui impor. Karena itu, Eddy mendorong penataan subsidi energi melalui prinsip right sizing dan right targeting.

Subsidi, menurutnya, perlu diberikan secara lebih tepat kepada masyarakat yang menjadi penerima manfaat. Penghematan yang diperoleh dapat dialihkan untuk mendukung pembangunan sektor ekonomi lainnya, termasuk pengembangan energi terbarukan.

Transisi Energi Indonesia Harus Berjalan Bertahap

WhatsApp Image 2026 10 01 at 20.23.21 1 1

Eddy Soeparno menilai transisi energi global tidak dapat berlangsung dalam waktu singkat. Konsumsi energi fosil memang mengalami perubahan proporsi seiring meningkatnya pemanfaatan energi terbarukan. Namun, energi fosil masih memiliki peran besar dalam memenuhi kebutuhan energi global.

“Transisi energi global tidak dapat berlangsung dalam waktu singkat. Konsumsi energi fosil global memang mengalami penurunan proporsi, tetapi masih menjadi sumber energi dominan. Maka dari itu, Indonesia perlu menerapkan strategi transisi yang mempertimbangkan kebutuhan nasional,” kata Eddy.

Menurutnya, pengembangan energi terbarukan perlu dipercepat, sementara pemanfaatan energi fosil dikurangi secara bertahap dan terukur. Pendekatan tersebut diperlukan agar proses transisi energi Indonesia tidak mengganggu keandalan pasokan listrik maupun aktivitas ekonomi.

Dengan demikian, transisi energi tidak hanya dipandang sebagai upaya mengurangi penggunaan energi fosil, tetapi juga sebagai bagian dari strategi memperkuat ketahanan energi nasional.

Elektrifikasi Jadi Salah Satu Strategi

Salah satu strategi yang dapat dilakukan adalah memperluas elektrifikasi pada sektor transportasi, industri, dan rumah tangga. Di sektor rumah tangga, penggunaan kompor induksi dapat menjadi salah satu alternatif untuk mengurangi ketergantungan terhadap LPG.

Sementara di sektor transportasi, penggunaan sepeda motor dan mobil listrik dapat terus diperluas melalui dukungan kebijakan dan insentif yang tepat. Elektrifikasi juga dinilai dapat membuka peluang pengembangan industri baru, termasuk industri kendaraan listrik, komponen, baterai, serta infrastruktur pendukungnya.

Selain elektrifikasi, Eddy Soeparno menyoroti pentingnya pengembangan bioenergi sebagai bagian dari diversifikasi sumber energi nasional. Indonesia telah mengembangkan biodiesel dan terus meningkatkan pemanfaatannya. Ke depan, pengembangan bioetanol juga dapat menjadi bagian dari strategi memperluas sumber energi alternatif.

Pengembangan bioenergi sekaligus membuka peluang bagi Indonesia untuk memanfaatkan sumber daya domestik dan mengurangi ketergantungan terhadap energi impor.

Momentum Dies Natalis ke-44 PNJ

Pembahasan mengenai ketahanan dan transisi energi tersebut menjadi bagian penting dalam rangkaian Dies Natalis ke-44 Politeknik Negeri Jakarta. Melalui Sarasehan Vol. III, PNJ mempertemukan unsur pemerintah, industri, akademisi, dan pemangku kepentingan lainnya untuk membahas kebutuhan energi nasional sekaligus memperkuat keterkaitan antara pendidikan vokasi dengan kebutuhan industri.

Bagi PNJ, penguatan pendidikan vokasi di bidang energi menjadi semakin relevan seiring perubahan struktur industri dan kebutuhan sumber daya manusia yang mampu menjawab tantangan transisi energi. Kolaborasi antara pendidikan vokasi, pemerintah, dan industri diharapkan dapat memperkuat kesiapan sumber daya manusia sekaligus mendukung agenda ketahanan energi nasional.

Pesan Eddy Soeparno dalam forum tersebut menegaskan bahwa transisi energi Indonesia membutuhkan keseimbangan antara percepatan energi bersih, ketahanan pasokan, keterjangkauan energi, dan keberlanjutan pembangunan.

Dengan strategi yang dilakukan secara bertahap dan terukur, pengembangan energi masa depan diharapkan tetap dapat berjalan tanpa mengorbankan kebutuhan pembangunan Indonesia saat ini.

Bagikan