
BicaraPlus – Peningkatan kapasitas pelabuhan peti kemas perlu diimbangi dengan penguatan ekosistem logistik darat agar distribusi barang berjalan lancar. Integrasi sistem informasi, pengembangan depo kontainer, kesiapan infrastruktur jalan, serta peningkatan konektivitas antarmoda menjadi faktor penting untuk menjaga efisiensi rantai pasok nasional.
Pertumbuhan arus peti kemas dalam lima tahun terakhir mendorong perlunya penguatan seluruh simpul logistik, mulai dari terminal, depo, gudang, hingga jaringan transportasi darat. Peneliti Pusat Studi Transportasi dan Logistik Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Kuncoro Harto Widodo, mengatakan kelancaran sistem logistik tidak hanya bergantung pada infrastruktur fisik, tetapi juga integrasi data, kesiapan sumber daya manusia, dan dukungan regulasi.
Menurutnya, hambatan pada satu simpul logistik dapat berdampak pada keseluruhan rantai distribusi. “Hambatan pada satu simpul akan berdampak pada simpul lainnya,” ujar Kuncoro, Jumat (11/9/2026).
Ia mendorong integrasi data antara terminal, perusahaan pelayaran, depo, perusahaan angkutan truk (trucking), kawasan industri, dan pemerintah. Optimalisasi National Logistics Ecosystem (NLE) juga dinilai penting agar arus informasi dapat mengikuti, bahkan mendahului, pergerakan barang. “Yang diidealkan itu aliran informasi mestinya setiap saat bahkan kalau bisa mendahului aliran barang,” katanya.
Selain integrasi digital, pengembangan angkutan barang berbasis kereta api juga dinilai perlu diperkuat sebagai alternatif distribusi menuju pelabuhan. Moda ini berpotensi membantu mengurangi beban angkutan jalan sekaligus mendukung penanganan kendaraan over dimension over load (ODOL).
Kesiapan Logistik Darat Menentukan Kelancaran Pelabuhan
Praktisi kepelabuhanan dan logistik dari Institut Transportasi dan Logistik (ITL) Trisakti, Wahyono Bimarso, menilai kemampuan terminal peti kemas di Indonesia semakin baik dan telah memenuhi standar internasional.
Namun, produktivitas terminal belum tentu berdampak maksimal apabila fasilitas penunjang di luar pelabuhan belum memadai. “Terminal peti kemas kita sebenarnya sudah berstandar internasional. Persoalan utama justru muncul setelah kontainer keluar dari pelabuhan,” ujar Wahyono, Rabu (9/9/2026).
Ia mencontohkan kondisi di Merauke, Papua Selatan. Meski fasilitas pelabuhan dinilai memadai, keterbatasan lapangan penumpukan dan gudang di belakang pelabuhan masih menjadi kendala. “Pelabuhannya sudah bagus, peralatannya lengkap, tetapi dari sana belum ada lapangan penumpukan atau gudang di belakang pelabuhan,” katanya.
Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya perencanaan kapasitas terminal yang terintegrasi dengan fasilitas logistik darat. Tanpa kesiapan depo, gudang, dan jaringan jalan, antrean berpotensi berpindah dari terminal ke simpul distribusi berikutnya.
Produktivitas Terminal dan Peran Depo Kontainer
Dari sisi pelayaran, peningkatan produktivitas terminal tetap menjadi faktor penting dalam efisiensi operasional kapal. Ketua DPC INSA Semarang, Hari Ratmoko, mengatakan kelancaran bongkar muat dapat mempercepat waktu sandar kapal dan membantu perusahaan pelayaran menjaga jadwal perjalanan.
“Semakin lancar bongkar muat, maka akan semakin efisien dan efektif waktunya dan shipping line akan senang,” ujarnya. Menurut Hari, depo kontainer memiliki peran penting dalam menjaga kelancaran rantai pasok. Selain menjadi tempat penyimpanan kontainer kosong, depo dapat berfungsi sebagai fasilitas penyangga ketika lapangan penumpukan di dalam pelabuhan mulai padat.
Sementara itu, Ketua DPC Aptrindo Pelabuhan Tanjung Emas Semarang, Supriyono, mengatakan perputaran truk di Pelabuhan Tanjung Emas pada awal semester II 2026 relatif lancar. “Sekarang sudah lancar untuk perputaran truk di Pelabuhan Tanjung Emas. Tidak ada kendala lagi karena kondisi yard di pelabuhan juga tidak sepadat di awal-awal tahun,” katanya, Kamis (10/9/2026).
Meski demikian, perubahan jadwal kapal masih dapat menyebabkan truk menunggu lebih lama. Implementasi Terminal Booking System (TBS) juga dinilai masih dapat dioptimalkan, khususnya dalam pengaturan ketersediaan slot kendaraan. Aptrindo turut mendorong operasional depo kontainer selama 24 jam di Semarang agar pergerakan kontainer lebih fleksibel dan antrean kendaraan dapat ditekan.
Merauke Membutuhkan Depo Kontainer di Luar Pelabuhan

Keterbatasan fasilitas logistik darat menjadi tantangan tersendiri di kawasan timur Indonesia. Kepala Cabang PT Salam Pacific Indonesia Lines (SPIL) Merauke, Puji Hermoko, mengatakan kebutuhan mendesak di wilayah tersebut adalah pembangunan depo kontainer di luar kawasan pelabuhan.
“Kontainer harus bisa keluar, dalam arti harus ada backup depo di luar karena Merauke 100% deponya di dalam,” ujarnya, Minggu (6/9/2026). Menurut Puji, keterbatasan ruang penumpukan berdampak pada meningkatnya biaya logistik. SPIL bahkan beberapa kali menurunkan muatan di Timika sebelum menggabungkannya dengan kapal lain menuju Merauke.
Pola distribusi tersebut menambah biaya dan memperpanjang rantai pasok, sekaligus meningkatkan risiko terhadap komoditas, terutama muatan pangan. “Harapan kami, ada kebijakan dari Pemda maupun Pemprov sehingga kami bisa membuat depo di luar,” katanya.
Pelindo Siapkan Revitalisasi TPK Merauke
Terminal Head TPK Merauke, Muhammad Rasul Irmadani, mengatakan pihaknya menyiapkan revitalisasi lapangan penumpukan seluas 1,4 hektare untuk meningkatkan kapasitas pelayanan peti kemas.
Revitalisasi tersebut mencakup perbaikan infrastruktur, penguatan akses, serta penambahan peralatan bongkar muat berupa rubber tyred gantry crane (RTG). Pekerjaan tersebut masih dalam proses lelang di kantor pusat.
“Pekerjaan revitalisasi itu nanti luasannya 1,4 hektare yang mau diperbaiki. Untuk penguatan, perbaikan akses, pembuatan jalur alat RTG. Dengan adanya RTG itu, kami berharap kapasitas bertambah ke atas,” ujar Rasul, Rabu (23/9/2026).
Selain revitalisasi, pembangunan depo di luar kawasan pelabuhan dinilai diperlukan untuk mengurangi beban penumpukan di terminal. Namun, pengembangan depo masih menghadapi kendala investasi dan daya dukung jalan.
Rasul mengatakan pemerintah daerah telah menawarkan lokasi untuk pengembangan depo. Penyusunan Rencana Induk Pelabuhan (RIP) juga dilakukan untuk mengakomodasi rencana pengembangan jangka pendek, menengah, dan panjang dengan melibatkan para pemangku kepentingan.
Makassar dan Ambon Perkuat Konektivitas Logistik
Di Sulawesi Selatan, TPK New Makassar berperan sebagai salah satu hub utama distribusi barang menuju kawasan timur Indonesia. Terminal Head TPK New Makassar, Teguh Firdaus, mengatakan operasional terminal sejauh ini berjalan baik dan kapasitas yang tersedia masih memadai untuk mendukung sirkulasi peti kemas.
“Makassar jadi hub untuk Indonesia Timur. Jadi simpul utama distribusi berbagai komoditas yang bergerak menuju kawasan timur Indonesia,” ujarnya, Senin (14/9/2026).
Menurut Teguh, kelancaran distribusi tidak hanya ditentukan oleh kecepatan bongkar muat di dermaga, tetapi juga kesinambungan pergerakan kontainer setelah keluar dari terminal. Karena itu, koordinasi antara operator terminal, perusahaan pelayaran, perusahaan trucking, pengelola depo, dan pemilik barang menjadi bagian penting dalam menjaga rantai logistik.
Sementara itu, di TPK Ambon, Pelindo memperkuat koordinasi dengan para pemangku kepentingan untuk mengantisipasi potensi hambatan distribusi di sisi darat. Terminal Head TPK Ambon, Yandi Sofyan Hadi, mengatakan evaluasi rutin dilakukan bersama para pemangku kepentingan dan pengguna jasa untuk memastikan kelancaran arus barang.
“Pelindo selalu koordinasi dan evaluasi dengan beberapa stakeholder dan customer terhadap kelancaran arus barang atau logistik,” ujarnya, Senin (21/9/2026). Yandi menyebut peremajaan peralatan menjadi salah satu kebutuhan mendesak untuk mengimbangi pertumbuhan arus peti kemas. Pelindo juga menjalin kerja sama dengan Pemerintah Kota Ambon untuk mendukung penambahan kapasitas lapangan penumpukan.
Integrasi Ekosistem Logistik Jadi Kunci Efisiensi
Berbagai kondisi di pelabuhan Indonesia menunjukkan bahwa peningkatan kapasitas terminal perlu berjalan beriringan dengan pengembangan infrastruktur dan sistem distribusi darat.
Ketersediaan depo kontainer, gudang, akses jalan, sistem pemesanan kendaraan, serta integrasi data antarpelaku logistik menjadi bagian penting dalam menjaga kelancaran arus barang.
Penguatan konektivitas antarsimpul diharapkan dapat membantu menekan antrean, meningkatkan efisiensi waktu dan biaya distribusi, serta menjaga kesinambungan rantai pasok nasional, termasuk ke wilayah Indonesia timur.
Dengan jaringan terminal yang terintegrasi dan dukungan fasilitas logistik darat yang memadai, peningkatan kapasitas pelabuhan diharapkan dapat memberikan manfaat lebih luas bagi kelancaran distribusi barang dan perekonomian nasional.





