China Kerahkan Kapal Induk Liaoning, Balas Latihan AS-Filipina di Laut China Selatan

WhatsApp Image 2026 04 27 at 23.38.21 1

BicaraPlus – Ketegangan geopolitik di Laut China Selatan kembali meningkat setelah China mengerahkan armada besar Angkatan Lautnya sebagai respons terhadap latihan militer gabungan Amerika Serikat dan Filipina dalam Balikatan 2026.

China menunjukkan sikap tegas terhadap apa yang disebutnya sebagai “aksi provokatif” Amerika Serikat di kawasan Asia Pasifik. Menanggapi latihan militer gabungan Balikatan 2026, Angkatan Laut Tentara Pembebasan Rakyat atau People’s Liberation Army Navy mengerahkan armada besar ke wilayah Laut China Selatan.

Langkah ini dinilai sebagai sinyal kuat bahwa Beijing tidak akan mentoleransi tekanan militer maupun demonstrasi kekuatan dari Washington di kawasan yang selama ini menjadi sengketa strategis. Kehadiran armada tempur China tersebut sekaligus mempertegas posisi negara itu dalam menjaga klaim wilayahnya.

Dalam pengerahan tersebut, China menurunkan kapal induk Liaoning yang menjadi pusat kekuatan lautnya. Selain itu, armada juga diperkuat oleh berbagai kapal perang modern, termasuk kapal pendarat Type 075, 071, dan 072, serta kapal perusak berpeluru kendali Type 052D dan 055 yang dikenal memiliki kemampuan tempur tinggi.

Tak hanya itu, lima fregat berpeluru kendali Type 054A/B dan satu kapal selam turut dilibatkan dalam operasi ini, memperlihatkan kesiapan tempur yang komprehensif dari sisi laut, udara, hingga bawah laut. Kehadiran kapal-kapal ini menandai peningkatan signifikan dalam skala kekuatan militer yang dikerahkan China di kawasan.

Pengamat militer menilai, langkah ini bukan sekadar respons taktis, melainkan bagian dari strategi jangka panjang China untuk memperkuat dominasi di Laut China Selatan, yang menjadi jalur perdagangan global vital. Di sisi lain, latihan Balikatan 2026 sendiri merupakan bagian dari upaya Amerika Serikat dan Filipina dalam memperkuat kerja sama pertahanan di tengah meningkatnya dinamika keamanan regional.

Situasi ini menambah kompleksitas geopolitik di Asia Tenggara, di mana kekuatan besar dunia semakin aktif menunjukkan pengaruhnya. Jika tidak dikelola dengan hati-hati, eskalasi ini berpotensi memicu ketegangan yang lebih luas di kawasan.

Bagikan