
BicaraPlus – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menegaskan komitmennya menghadirkan riset yang berdampak langsung bagi masyarakat.
Melalui Program Pengembangan Kawasan Ketahanan Pangan dan Energi Terintegrasi di Desa Bandungharjo, Kabupaten Jepara, BRIN menunjukkan inovasi tidak berhenti di laboratorium, tetapi hadir sebagai solusi di lapangan.
Kepala BRIN, Arif Satria, menekankan pentingnya hilirisasi riset melalui kolaborasi lintas sektor.
Menurutnya, sinergi antara pemerintah daerah, industri, dan masyarakat menjadi kunci agar inovasi benar-benar dirasakan manfaatnya.
“Apa yang kita saksikan hari ini menjadi bukti bahwa riset bisa langsung dirasakan dampaknya oleh masyarakat,” ujar Arif saat peluncuran program, Jumat (24/4).
Dalam kegiatan itu, BRIN memperkenalkan dua inovasi utama: Petasol dan padi Biosalin.
Petasol merupakan bahan bakar alternatif berbasis sampah plastik bernilai rendah yang diolah melalui proses pirolisis menggunakan mesin Faspol.
Inovasi ini telah diterapkan di lebih dari 50 lokasi di Indonesia dan dinilai mampu mengurangi emisi dibandingkan pembakaran sampah terbuka.
Arif bahkan langsung menguji Petasol pada perahu nelayan.
Hasilnya, mesin perahu menyala dengan baik—menunjukkan bahan bakar ini siap digunakan sebagai alternatif energi bagi nelayan sekaligus solusi pengelolaan limbah plastik.
Di sektor pangan, BRIN juga memperkenalkan padi Biosalin.
Varietas ini dirancang khusus untuk lahan pesisir dengan tingkat salinitas tinggi akibat intrusi air laut.
Dengan produktivitas yang tetap optimal di lahan marginal, padi ini dinilai menjadi solusi strategis untuk meningkatkan kesejahteraan petani sekaligus memperkuat ketahanan pangan.
Pengembangannya menggunakan pendekatan Low External Input Sustainable Agriculture (LEISA), yang menekankan praktik pertanian ramah lingkungan dan berkelanjutan.
Program ini mengusung konsep Water-Energy-Food Nexus, yakni integrasi pengelolaan air, energi, dan pangan dalam satu sistem berkelanjutan.
Jepara pun didorong menjadi “living laboratory” hilirisasi teknologi nasional, sekaligus model pengembangan kawasan pesisir berbasis inovasi.
“Jepara kita dorong bukan hanya sebagai lokasi implementasi, tetapi sebagai living laboratory hilirisasi teknologi nasional,” kata Arif.
Ke depan, model ini akan dikembangkan menjadi klaster industri pesisir terintegrasi (Integrated Coastal Industrial Cluster) yang dapat direplikasi di berbagai wilayah Indonesia.
Bupati Jepara, Witiarso Utomo, menyambut positif program tersebut.
Dengan garis pantai sepanjang 80 kilometer, Jepara dinilai memiliki potensi besar dalam pengembangan pertanian pesisir untuk mendukung ketahanan pangan.
Kegiatan ini turut dihadiri sejumlah pihak, antara lain anggota Dewan Pengarah BRIN Tri Mumpuni, Deputi Kemenko Pangan Widiastuti, serta perwakilan PT Perusahaan Gas Negara (PGN) sebagai mitra industri.
Melalui pendampingan dan pelatihan berkelanjutan, BRIN menargetkan inovasi ini tidak berhenti sebagai proyek percontohan.
Lebih dari itu, riset diharapkan berkembang menjadi penggerak ekonomi lokal yang mandiri, inklusif, dan berkelanjutan, khususnya bagi masyarakat pesisir.





