BRIN Kembangkan Teknologi Olah Ilmenit Jadi Material Ramah Lingkungan Bernilai Tinggi

1777275932 27686461

BicaraPlus – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mendorong transformasi sumber daya mineral Indonesia menjadi material berkelanjutan melalui pengembangan teknologi pengolahan ilmenit berbasis titanium.

Ilmenit (FeTiO₃) merupakan salah satu sumber utama titanium yang melimpah di Indonesia. Mineral ini banyak ditemukan di endapan pasir berat di wilayah pesisir seperti Bangka Belitung, Sumatera, Kalimantan, hingga pantai selatan Jawa.

Namun, pemanfaatannya masih terbatas sebagai bahan mentah dengan nilai ekonomi rendah.

“Ini menjadi salah satu tantangan utama dalam pengelolaan sumber daya mineral nasional,” kata periset Pusat Riset Metalurgi BRIN, Latifa Hanum Lalasari, belum lama ini.

Menurut Latifa, pengolahan ilmenit menjadi material maju tidak hanya meningkatkan nilai tambah, tetapi juga mendorong penerapan prinsip keberlanjutan.

“Selama ini ilmenit lebih banyak diekspor dalam bentuk mentah. Padahal, jika diolah lebih lanjut, nilainya bisa meningkat berkali-kali lipat dan aplikasinya sangat luas,” ujarnya.

BRIN mengembangkan teknologi berbasis kombinasi hidrometalurgi dan pirometalurgi melalui proses sulfat dan oksalat.

Metode ini dirancang sebagai alternatif yang lebih ramah lingkungan dibandingkan proses klorinasi konvensional, dengan fokus pada efisiensi ekstraksi titanium dan minimisasi dampak lingkungan.

Dalam prosesnya, ilmenit diolah melalui tahap pelindian (leaching) untuk menghasilkan prekursor titanium berbasis sulfat dan oksalat.

Material tersebut kemudian diproses lebih lanjut menjadi titanium dioksida (TiO₂), pigmen putih dengan sifat optik, fisik, dan kimia yang unggul.

TiO₂ memiliki beragam aplikasi, mulai dari industri cat, tekstil, plastik, dan kertas, hingga kosmetik dan farmasi.

Tak hanya itu, material ini juga digunakan dalam teknologi tinggi seperti baterai berbasis lithium titanate oxide (LTO) dan komponen elektronik.

Latifa menambahkan, TiO₂ juga memiliki nilai lebih dari sisi lingkungan.

Material ini dapat berfungsi sebagai fotokatalis yang mampu menguraikan polutan organik berbahaya dalam limbah industri, termasuk limbah tekstil, dengan bantuan cahaya ultraviolet maupun sinar matahari.

“Material yang dihasilkan tidak hanya untuk industri, tapi juga menjadi bagian dari solusi lingkungan,” ujarnya.

Konsep keberlanjutan juga diterapkan melalui pemanfaatan limbah hasil proses.

Produk samping berupa limbah besi dapat diolah kembali menjadi bahan bernilai ekonomi seperti pigmen besi oksalat dan besi oksida (hematit), sehingga mendukung sistem produksi yang sirkular.

Selain TiO₂, BRIN juga mengembangkan riset pembuatan sponge titanium sebagai bahan dasar logam dan paduan titanium.

Material ini memiliki keunggulan seperti kekuatan tinggi, tahan korosi, dan biokompatibel, sehingga banyak digunakan di sektor strategis seperti alat kesehatan, dirgantara, kelautan, dan energi.

“Material berbasis titanium bahkan mendominasi penggunaan implan medis secara global,” kata Latifa.

Saat ini, teknologi tersebut telah berkembang dari tahap laboratorium ke semi-pilot, termasuk pengembangan unit pelindian dan prototipe aplikasi material.

Ke depan, BRIN menargetkan peningkatan skala produksi menuju industrialisasi serta mendorong kolaborasi dengan sektor industri.

“Indonesia punya sumber daya besar. Tapi harus didukung teknologi dan sistem terintegrasi agar bisa menghasilkan material bernilai tinggi dan berkelanjutan,” ujarnya.

Melalui riset ini, BRIN menegaskan perannya dalam membangun ekosistem industri material maju yang berdaya saing global sekaligus ramah lingkungan.

Bagikan