
BicaraPlus – Di balik setiap fakta yang disajikan kepada publik, ada kerja keras jurnalis yang tak selalu terlihat. Mereka turun langsung ke lapangan, mendatangi lokasi peristiwa, melakukan verifikasi, dan memastikan informasi yang diterima masyarakat berasal dari sumber yang dapat dipertanggungjawabkan. Dalam menjalankan tugas tersebut, tidak sedikit jurnalis yang harus menghadapi berbagai risiko.
Gambaran tentang beratnya tugas jurnalistik di lapangan terlihat dalam peristiwa speed boat yang hilang kontak di perairan Selat Sunda, Kabupaten Pandeglang, Banten. Sebanyak delapan orang yang berada di dalam kapal tersebut hingga Selasa (8/9/2026) masih dalam pencarian tim SAR.
Dari delapan orang tersebut, lima di antaranya merupakan jurnalis yang sedang menjalankan tugas. Mereka adalah M. Bagus Khoirunnas dari Antara, Arie Basuki dari Merdeka, Yudistiro Pranoto dari iNews, Firdaus Wajidi dari Anadolu, serta Donal Husni yang merupakan jurnalis freelance.
Peristiwa tersebut menjadi pengingat bahwa pekerjaan jurnalistik bukan hanya tentang menulis berita dan menyampaikan informasi. Di balik sebuah laporan yang cepat dan akurat, terdapat proses peliputan di lapangan yang terkadang mengharuskan jurnalis berada jauh dari lingkungan yang aman dan nyaman.
Berangkat untuk Menjalankan Tugas

Berdasarkan laporan sementara Kantor Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Banten, speed boat tersebut bertolak dari Dermaga Pandeglang, Carita, pada Senin (7/9/2026) sekitar pukul 14.00 WIB menuju kawasan Gunung Anak Krakatau.
Perjalanan diperkirakan membutuhkan waktu sekitar dua jam. Namun, sekitar pukul 14.42 WIB, posisi speed boat dilaporkan lost contact ketika berada di antara Carita dan Gunung Anak Krakatau. Informasi terakhir mengenai posisi kapal kemudian diterima pada sekitar pukul 18.13 WIB. Saat itu, kapal dilaporkan telah berada di sekitar kawasan Gunung Anak Krakatau.
Setelah informasi tersebut, keberadaan kapal dan delapan orang di dalamnya belum diketahui. Informasi awal mengenai kejadian diterima Basarnas Banten pada Selasa (8/9/2026) pukul 13.55 WIB dari Bayu, jurnalis Antara Banten.
Ketika Jurnalis Harus Berhadapan dengan Risiko
Menjadi jurnalis berarti memiliki tanggung jawab untuk mencari dan menyampaikan informasi yang dibutuhkan masyarakat. Namun, proses mendapatkan informasi tersebut tidak selalu berlangsung dalam kondisi ideal.
Peliputan bencana, kecelakaan, konflik, kondisi geografis ekstrem maupun peristiwa di wilayah perairan menuntut kesiapan dan kewaspadaan yang lebih tinggi. Dalam kasus ini, lima jurnalis berada di atas speed boat dalam rangka menjalankan tugas peliputan. Mereka kini menjadi bagian dari delapan orang yang sedang dicari oleh tim SAR.
Status tersebut penting untuk disampaikan secara hati-hati. Mereka belum ditemukan, dan operasi pencarian masih berlangsung. Karena itu, penyebutan “hilang kabar” atau “masih dalam pencarian” lebih tepat daripada menyimpulkan kondisi mereka sebelum adanya informasi resmi lebih lanjut.
Basarnas Kerahkan Tim dan KN SAR Tetuka
Menindaklanjuti laporan tersebut, Unit Siaga SAR Pandeglang pada Selasa (8/9/2026) sekitar pukul 14.15 WIB melakukan pencarian informasi di lokasi keberangkatan speed boat sekaligus memberangkatkan satu unit Rigid Inflatable Boat (RIB) untuk melakukan penyisiran.
Pada pukul 17.25 WIB, KN SAR Tetuka juga diberangkatkan menuju sekitar lokasi kejadian. Dalam operasi pencarian hari pertama, RIB melakukan penyisiran di sekitar Pulau Rakata dan Pulau Panjang dengan radius sekitar 3,2 kilometer dari Gunung Anak Krakatau. Hingga pukul 18.15 WIB, hasil pencarian masih nihil.
Sementara itu, KN SAR Tetuka masih dalam pelayaran menuju lokasi terdekat dengan titik kejadian untuk menentukan lokasi lego jangkar atau sandar yang akan menjadi bagian dari strategi operasi pencarian pada hari berikutnya.
Puluhan Personel Dilibatkan
Operasi pencarian melibatkan berbagai unsur, termasuk personel Basarnas, Polairud, TNI, kepolisian, pemerintah daerah, Balawista, nelayan, masyarakat, dan media lokal.
Unsur yang terlibat di antaranya delapan awak KN SAR Tetuka, enam rescuer Unit Siaga SAR Pandeglang, 11 rescuer Kantor Pencarian dan Pertolongan Banten, personel Polairud Polda Banten, Polairud Mabes Sanjaya, Ditpolairud, Polsek Carita, Lanal, Satpol PP, Babinsa Carita, Kecamatan Carita, pemerintah desa, Balawista, nelayan, serta masyarakat.
Sejumlah peralatan juga digunakan dalam operasi pencarian, mulai dari KN SAR Tetuka, RIB, rescue car, truk personel, drone thermal, peralatan SAR air, peralatan medis, komunikasi, hingga berbagai peralatan pendukung lainnya.
Kondisi Perairan Menjadi Perhatian
Laporan Basarnas Banten menyebut kondisi cuaca di wilayah operasi pada hari pertama cerah berawan. Angin bergerak dari selatan menuju utara dengan kecepatan sekitar 14 knot, sedangkan tinggi gelombang berada pada kisaran 0,4 hingga 1 meter.
Kondisi cuaca dan perairan menjadi salah satu faktor yang harus terus diperhatikan selama operasi pencarian, terutama untuk memastikan keselamatan personel SAR yang berada di lapangan. Pencarian terhadap delapan orang tersebut masih menjadi prioritas operasi SAR.
Di Balik Sebuah Berita, Ada Perjuangan
Peristiwa ini memperlihatkan sisi lain dari profesi jurnalistik yang sering kali luput dari perhatian publik. Masyarakat menerima berita dalam hitungan menit. Sebuah fakta dapat tersebar luas melalui berbagai platform. Namun, sebelum informasi tersebut sampai kepada pembaca, ada jurnalis yang harus meninggalkan ruang redaksi, mendatangi lokasi, bertemu narasumber, mengumpulkan data, melakukan verifikasi, dan memastikan apa yang dilaporkan benar-benar sesuai dengan fakta di lapangan.
Di balik setiap fakta yang disajikan, ada jurnalis tangguh yang bekerja di lapangan. Namun ketangguhan tersebut tidak berarti mengabaikan keselamatan. Justru peristiwa ini menjadi pengingat bahwa kerja jurnalistik yang profesional harus berjalan beriringan dengan kesadaran terhadap risiko, kesiapan, dan keselamatan dalam menjalankan tugas.
Lima jurnalis yang berada dalam speed boat tersebut saat ini masih menunggu kabar yang diharapkan. Tim SAR terus bergerak melakukan pencarian. Bagi keluarga, rekan seprofesi, dan masyarakat yang menantikan informasi, setiap perkembangan dari operasi SAR menjadi sangat berarti.
Dan bagi dunia jurnalistik, peristiwa ini kembali mengingatkan bahwa di balik setiap fakta yang sampai kepada publik, ada manusia yang bekerja keras untuk menemukannya.





