254 Proposal Tersaring, 13 Kelompok Seni Siap Pentas di Ruang Kreatif Seni Pertunjukan 2026

254 Proposal Tersaring, 13 Kelompok Seni Siap Pentas di Ruang Kreatif Seni

BicaraPlus – Komitmen memperkuat ekosistem seni pertunjukan Indonesia kembali diwujudkan melalui Ruang Kreatif Seni Pertunjukan 2026 yang diinisiasi Bakti Budaya Djarum Foundation. Dari total 254 proposal yang dikirim komunitas seni dari 33 provinsi, sebanyak 13 kelompok terbaik berhasil lolos dan kini memasuki tahap pengembangan karya sebelum tampil di Galeri Indonesia Kaya pada November hingga Desember 2026.

Program yang kembali digelar setelah vakum sejak 2019 ini menjadi wadah bagi para pegiat seni untuk mengembangkan kualitas artistik sekaligus memperkuat kemampuan manajerial agar mampu menghasilkan pertunjukan yang profesional dan berkelanjutan.

Workshop intensif selama empat hari yang berlangsung di Jakarta pada 30 Juli hingga 2 Agustus 2026 menjadi langkah awal bagi para peserta memasuki proses produksi. Selama kegiatan, para seniman memperoleh pembekalan dari praktisi lintas disiplin mulai dari pengembangan ide kreatif, strategi produksi, pemasaran digital, publikasi, hingga manajemen panggung.

Antusiasme Seniman dari Berbagai Daerah

Besarnya minat komunitas seni terlihat dari tingginya jumlah proposal yang masuk dari hampir seluruh Indonesia. Berbagai disiplin seni ikut berpartisipasi, mulai dari tari, teater, musik, wayang, drama musikal hingga pertunjukan multidisiplin.

Setelah melalui proses kurasi bertahap, sebanyak 100 proposal dipilih untuk tahap berikutnya, kemudian mengerucut menjadi 25 finalis yang mempresentasikan ide mereka di hadapan dewan juri yang terdiri dari sutradara Garin Nugroho, seniman Toto Arto, dan Billy Gamaliel. Dari proses tersebut, lahirlah 13 kelompok seni terbaik yang berasal dari 10 provinsi di Sumatera, Jawa, Kalimantan, Bali hingga Sulawesi.

Keberagaman peserta menjadi salah satu kekuatan program ini. Mulai dari Tepian Kolektif asal Berau, Kalimantan Timur yang baru berdiri satu tahun, Teater GENERASI Medan yang telah berkarya selama lebih dari tiga dekade, hingga kelompok Gerhana dari Gianyar, Bali yang mengembangkan pertunjukan berbasis wayang.

Tidak Sekadar Memberi Dana Produksi

Desain tanpa judul 17

Program Ruang Kreatif Seni Pertunjukan tidak berhenti pada pemberian bantuan dana. Setiap kelompok terpilih memperoleh dukungan produksi sebesar Rp35 juta, sekaligus pendampingan intensif selama beberapa bulan hingga karya siap dipentaskan.

Billy Gamaliel selaku Program Manager Bakti Budaya Djarum Foundation mengatakan antusiasme peserta menunjukkan besarnya potensi seni pertunjukan Indonesia. “Yang membanggakan bukan hanya jumlah proposal yang masuk, tetapi juga keberagaman gagasan, pendekatan artistik, serta semangat komunitas dari berbagai daerah. Fokus kami bukan lagi sekadar menyeleksi karya, tetapi mendampingi peserta agar ide mereka berkembang menjadi pertunjukan profesional yang siap dipentaskan dan berkelanjutan,” ujarnya.

Menurut Billy, tujuan utama program adalah membangun kapasitas komunitas seni sehingga mampu terus berkembang setelah program selesai.

Belajar Langsung dari Para Praktisi

Selama workshop, peserta mendapatkan materi dari sejumlah praktisi seni dan industri kreatif. Sutradara Garin Nugroho membahas pengembangan ide kreatif, sementara Chriskevin Adefrid bersama Caron Shaine mengulas kerja kolektif dan manajemen produksi.

Materi lain meliputi strategi berkarya di era global bersama Siko Setyanto, komunikasi visual dan digital marketing oleh MXA Studio, strategi memperoleh pendanaan oleh Pradetya Novitri, publikasi bersama Nuya Susantono, wawasan teknis pertunjukan oleh Iskandar K. Loedin, hingga dasar-dasar stage management oleh Wellah Hatta.

Selain itu, setiap kelompok akan didampingi mentor sesuai karakter karya masing-masing selama proses produksi.Kurator sekaligus mentor Mita Mitae menilai tahap workshop menjadi momen penting bagi peserta untuk mempertajam konsep sebelum memasuki proses penciptaan karya.

Menurutnya, kelompok yang terpilih bukan hanya memiliki ide menarik, tetapi juga menunjukkan keberanian mengangkat gagasan yang autentik dan memiliki arah pengembangan yang jelas. Sementara itu, Garin Nugroho menegaskan bahwa kualitas sebuah pertunjukan lahir dari proses belajar yang panjang.

“Sebuah karya tidak lahir hanya dari inspirasi, tetapi dari proses belajar, berdialog, dan membuka diri terhadap berbagai perspektif. Workshop ini menjadi ruang bagi para kreator untuk mempertanyakan kembali gagasan mereka sekaligus membangun cara kerja kolektif yang akan menentukan kualitas karya ketika bertemu publik.”

Belajar dari Panggung Profesional

Sebagai bagian dari proses pembelajaran, seluruh peserta juga diajak menyaksikan pertunjukan Rumah Sakit Jiwa produksi Teater Koma serta berbagai pertunjukan di Galeri Indonesia Kaya. Pengalaman tersebut diharapkan menjadi referensi artistik sekaligus memberikan gambaran nyata mengenai proses penyelenggaraan sebuah pertunjukan profesional.

Usai workshop, seluruh peserta akan menjalani tahap mentoring dan produksi selama beberapa bulan sebelum akhirnya menampilkan karya mereka dalam rangkaian perayaan Hari Ulang Tahun ke-13 Galeri Indonesia Kaya pada November hingga Desember 2026.

Billy berharap program ini mampu melahirkan komunitas seni yang semakin kuat, memiliki jejaring luas, dan menjadi bagian penting dalam pengembangan ekosistem seni pertunjukan Indonesia di berbagai daerah. Ruang Kreatif Seni Pertunjukan 2026 menunjukkan bahwa pengembangan seni tidak cukup hanya dengan menghadirkan panggung, tetapi juga membutuhkan investasi pada kualitas sumber daya manusianya.

Melalui kombinasi pendanaan, pendampingan, workshop, dan jejaring profesional, Bakti Budaya Djarum Foundation berupaya menciptakan ekosistem yang memungkinkan komunitas seni tumbuh secara berkelanjutan. Model pembinaan seperti ini menjadi penting agar karya-karya lokal tidak hanya tampil di panggung nasional, tetapi juga memiliki daya saing di tingkat internasional.

Bagikan