
BicaraPlus – Bagi pencinta film Indonesia yang mencari tontonan dengan cerita kuat, visual sinematik, sekaligus perjalanan emosional yang tidak biasa, Empat Musim Pertiwi menjadi salah satu film yang patut masuk dalam daftar tontonan pada Oktober 2026.
Film terbaru karya penulis sekaligus sutradara Kamila Andini ini diproduksi oleh Forka Films dan dibintangi Putri Marino, Arya Saloka, Christine Hakim, serta Hana Malasan. Film tersebut dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia mulai 8 Oktober 2026.
Yang membuat Empat Musim Pertiwi menarik perhatian bukan hanya nama besar di balik produksinya. Film ini juga membawa perjalanan panjang menuju panggung sinema internasional hingga akhirnya terpilih untuk mewakili Indonesia di Academy Awards ke-99 atau Oscars 2027, dalam kategori Best International Feature Film.
Kisah Kepulangan yang Tidak Sederhana
Empat Musim Pertiwi mengikuti perjalanan Pertiwi, diperankan oleh Putri Marino, yang kembali ke tanah kelahirannya setelah sekitar 20 tahun pergi. Kepulangannya bukan sebuah perayaan. Pertiwi justru harus berhadapan dengan masa lalu dan orang-orang yang pernah menjadi bagian penting dalam kehidupannya.
Tidak semua orang menyambut kepulangannya. Keluarganya bahkan enggan menerimanya. Hanya Mak Ira yang diperankan Christine Hakim dan Bisma yang diperankan Arya Saloka yang menyambut kehadiran Pertiwi.
Perjalanan tersebut kemudian membawa Pertiwi berhadapan dengan berbagai fase kehidupan yang digambarkan melalui empat musim. Film ini menawarkan cerita tentang kepulangan, ingatan, trauma, kekerasan, ketangguhan, hingga upaya seseorang untuk menemukan kembali tempatnya di dunia.
Visual Besar yang Dirancang untuk Layar Lebar
Salah satu alasan Empat Musim Pertiwi menarik untuk disaksikan di bioskop adalah pendekatan visual yang menjadi bagian penting dari pengalaman film.
Produksi film ini disebut menjadi salah satu produksi terbesar Forka Films. Sebagian besar proses syuting dilakukan di kawasan Bromo, dengan lokasi yang mencakup area permukiman, persawahan hingga kawasan berpasir.
Skala produksi tersebut turut menghadirkan tantangan logistik dan desain produksi yang besar. Pendekatan tersebut kemudian dipadukan dengan eksplorasi genre yang dilakukan Kamila Andini.
Film ini bahkan memasukkan elemen science fiction atau sci-fi, sebuah pendekatan yang relatif baru bagi Kamila dalam film panjangnya. “Setiap cerita memiliki kebutuhannya sendiri,” ujar Kamila Andini mengenai penggunaan sci-fi dalam film tersebut.
Pendekatan lintas genre ini menjadi salah satu daya tarik tersendiri karena Empat Musim Pertiwi tidak hanya mengandalkan drama personal, tetapi juga menggunakan bahasa visual dan elemen genre untuk memperluas cerita.
Putri Marino dan Karakter Pertiwi
Putri Marino menjadi pusat cerita sebagai Pertiwi. Karakter tersebut disebut menjadi salah satu peran yang cukup berat bagi Putri karena membutuhkan pendekatan emosional dan psikologis yang mendalam.
Dalam proses pengembangan karakter, Kamila memberikan bahan bacaan berupa novel Perempuan di Titik Nol karya penulis Mesir Nawal El Saadawi. Bacaan tersebut membantu Putri memahami karakter Pertiwi dan perjalanan hidup yang harus ia tampilkan di layar.
Selain Putri Marino, film ini menghadirkan sejumlah aktor senior dan lintas generasi, termasuk Christine Hakim, Arya Saloka, Hana Malasan, Shofia Shireen, Nagra Pakusadewo, Dwika Pradnyana, Maryam Supraba, Hanna Aretha, dan Totos Rasiti.
Kehadiran Dwika Pradnyana, aktor dengan vitiligo, serta Hanna Aretha, aktor tuli, juga menjadi bagian dari representasi keberagaman dalam film.
Dari Toronto hingga Oscars 2027
Sebelum bertemu penonton Indonesia, Empat Musim Pertiwi telah mendapatkan ruang di sejumlah festival film internasional. Film dengan judul internasional Four Seasons in Java tersebut melakukan world premiere di Toronto International Film Festival (TIFF) 2026.
Film ini kemudian dijadwalkan hadir di Busan International Film Festival (BIFF) 2026 dalam program A Window on Asian Cinema. Penayangannya di Busan berlangsung berdekatan dengan jadwal rilisnya di Indonesia.
Film ini juga telah terpilih untuk tayang di Tokyo International Film Festival pada akhir 2026. Perjalanan internasional tersebut semakin mendapat perhatian setelah Empat Musim Pertiwi resmi dipilih oleh Komite Seleksi Oscars Indonesia untuk mewakili Indonesia dalam kategori Best International Feature Film pada Academy Awards 2027. Keputusan tersebut ditetapkan dalam rapat pleno Komite Seleksi Oscars Indonesia pada 14 September 2026.
Produksi Enam Negara
Dari sisi produksi, Empat Musim Pertiwi merupakan proyek kolaborasi internasional yang melibatkan Indonesia, Prancis, Belanda, Norwegia, Arab Saudi, dan Polandia.
Film ini juga melibatkan sejumlah mitra produksi dan kolaborator, termasuk Miles Films, Jagartha, Trinity Optima, Imajinari, Team Up, Julie Estelle, dan Navvaros.
Untuk distribusi internasional, film ini direpresentasikan oleh Goodfellas, perusahaan international sales berbasis di Prancis yang dikenal menangani film-film auteur dengan perjalanan di berbagai festival internasional.
Kehadiran Goodfellas menjadi bagian dari perjalanan internasional film sekaligus membuka ruang bagi Empat Musim Pertiwi untuk menjangkau penonton di luar Indonesia.
Mengapa Layak Masuk Watchlist
Bagi penonton Indonesia, Empat Musim Pertiwi menawarkan beberapa daya tarik yang membuatnya layak masuk daftar tontonan. Pertama, film ini menghadirkan cerita tentang kepulangan dan masa lalu yang dekat dengan pengalaman manusia, tetapi dikemas melalui pendekatan sinematik yang lebih eksperimental.
Kedua, film ini mempertemukan Kamila Andini dan Putri Marino, dua nama yang sebelumnya dikenal melalui sejumlah karya yang mendapat perhatian di festival internasional.
Ketiga, lanskap Bromo dan skala produksinya menjanjikan pengalaman visual yang memang dirancang untuk layar lebar. Keempat, penggunaan elemen sci-fi dan cross-genre memberikan pendekatan berbeda dalam menyampaikan kisah Pertiwi.
Dan yang tidak kalah penting, perjalanan film ini dari Toronto, Busan, Tokyo hingga pencalonannya sebagai wakil Indonesia menuju Oscars 2027 membuat Empat Musim Pertiwi menjadi salah satu film Indonesia yang menarik untuk diikuti perjalanan internasionalnya.
Penonton Indonesia juga berkesempatan menyaksikan film ini melalui pemutaran terbatas pada 22–28 September 2026, sebelum penayangan regulernya. Sementara itu, Empat Musim Pertiwi resmi tayang di bioskop Indonesia mulai 8 Oktober 2026.
Dengan cerita tentang kepulangan, masa lalu, trauma dan pencarian kembali makna rumah, film ini mengajak penonton mengikuti perjalanan Pertiwi bukan sekadar untuk kembali ke sebuah tempat, tetapi untuk menghadapi bagian-bagian hidup yang selama ini ia tinggalkan. Empat Musim Pertiwi saat Pertiwi pulang, masa lalu kembali berbicara.





