
BicaraPLus – Tren perjalanan wisata terus mengalami perubahan seiring bergesernya preferensi generasi muda. Jika sebelumnya destinasi wisata identik dengan pantai, gunung, atau kawasan ikonik, kini muncul fenomena baru bernama snackpacking, yakni aktivitas berburu jajanan khas di pasar tradisional sebagai tujuan utama perjalanan. Tren ini semakin diminati Generasi Z karena menawarkan pengalaman kuliner yang autentik, terjangkau, sekaligus kaya akan nilai budaya.
Berbeda dengan wisata kuliner biasa, snackpacking tidak hanya berfokus pada makanan, tetapi juga menghadirkan pengalaman menyeluruh melalui interaksi dengan pedagang lokal, mengenal tradisi masyarakat, hingga menjelajahi ruang publik yang menjadi denyut kehidupan sebuah daerah. Bagi Gen Z, pasar tradisional bukan sekadar tempat berbelanja, melainkan ruang yang menyimpan cerita, sejarah, dan identitas lokal.
Snackpacking Semakin Populer
Popularitas snackpacking didorong oleh perubahan gaya hidup wisatawan muda yang lebih mengutamakan pengalaman dibanding kemewahan. Ada beberapa faktor yang membuat tren ini berkembang pesat. Pertama, wisatawan mendapatkan pengalaman yang lebih autentik karena dapat berinteraksi langsung dengan pedagang serta mencicipi kuliner khas yang belum tentu tersedia di pusat perbelanjaan modern.
Kedua, biaya yang relatif terjangkau membuat snackpacking ramah di kantong. Dengan anggaran sekitar Rp50.000 hingga Rp100.000, wisatawan sudah dapat menikmati beragam jajanan khas daerah. Ketiga, aktivitas ini sangat dekat dengan budaya media sosial. Aneka makanan tradisional, suasana pasar yang penuh warna, hingga momen tawar-menawar menjadi konten menarik untuk dibagikan melalui TikTok, Instagram, maupun YouTube.
Selain itu, meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya mendukung produk lokal turut memperkuat popularitas snackpacking sebagai bagian dari gerakan mencintai kuliner Nusantara.
Lima Destinasi Snackpacking yang Wajib Dicoba

1. Pasar 16 Ilir, Palembang
Bagi pecinta kuliner Sumatera Selatan, Pasar 16 Ilir menjadi destinasi yang wajib dikunjungi. Selain menikmati suasana khas tepian Sungai Musi, wisatawan dapat mencicipi berbagai makanan legendaris seperti pempek kapal selam mini, kue maksuba, lapis kojo, tekwan, model, hingga aneka kerupuk khas Palembang. Lokasinya yang berdekatan dengan Sungai Musi juga memungkinkan wisatawan menikmati wisata sejarah setelah berburu jajanan.
2. Pasar Santa, Jakarta
Pasar Santa menghadirkan wajah baru pasar tradisional yang berpadu dengan kreativitas anak muda. Selain berburu kopi lokal, kue cubit, camilan kekinian, hingga hidangan fusion, pengunjung juga dapat menemukan toko vinil, buku lawas, aksesori, dan berbagai produk kreatif lokal. Perpaduan kuliner dan komunitas kreatif menjadikan Pasar Santa salah satu ikon snackpacking di ibu kota.
3. Pasar Terapung Lok Baintan, Banjarmasin
Pengalaman snackpacking di Kalimantan Selatan terasa berbeda karena transaksi dilakukan di atas sungai menggunakan perahu. Wisatawan dapat menikmati kue bingka, lontong orari, apam Barabai, buah-buahan segar, hingga hasil kebun masyarakat Banjar sambil menyaksikan aktivitas jual beli yang telah berlangsung turun-temurun.
4. Pasar Ngasem, Yogyakarta
Pasar Ngasem menawarkan beragam jajanan tradisional, gudeg, wedang, hingga kuliner khas Yogyakarta dengan harga yang bersahabat. Keunggulan lainnya, lokasi pasar berada tidak jauh dari kawasan wisata Taman Sari sehingga wisatawan dapat menikmati wisata kuliner sekaligus wisata sejarah dalam satu perjalanan.
5. Pasar Hamadi, Jayapura
Di Papua, Pasar Hamadi menjadi destinasi menarik bagi wisatawan yang ingin mengenal kekayaan kuliner timur Indonesia. Beragam makanan khas seperti papeda mini, kue sagu bakar, bagea, hingga olahan hasil laut dapat ditemukan di sini. Tidak hanya kuliner, wisatawan juga dapat membeli noken, ukiran, dan berbagai kerajinan khas Papua yang memperkaya pengalaman budaya selama berkunjung.
Snackpacking Dorong Pariwisata Berbasis Budaya dan UMKM
Fenomena snackpacking tidak hanya menjadi tren di kalangan anak muda, tetapi juga membuka peluang baru bagi sektor pariwisata Indonesia. Aktivitas ini mampu meningkatkan kunjungan ke pasar tradisional, memperkuat promosi kuliner daerah, mendorong pertumbuhan UMKM, sekaligus memperkenalkan budaya lokal kepada wisatawan domestik maupun mancanegara.
Di tengah meningkatnya minat terhadap pengalaman wisata yang lebih personal dan autentik, snackpacking berpotensi menjadi salah satu wajah baru pariwisata Indonesia. Pasar tradisional tidak lagi dipandang sekadar tempat transaksi ekonomi, tetapi juga menjadi ruang bertemunya wisatawan dengan budaya, sejarah, dan kehidupan masyarakat lokal yang penuh cerita.





