BNPB Catat 85.803 Hektare Lahan Terindikasi Terbakar

BNPB Catat 85.803 Hektare Lahan Terindikasi Terbakar

BicaraPlus – Kebakaran hutan dan lahan atau karhutla masih menjadi persoalan di sejumlah wilayah Indonesia. Hingga 15 September 2026, luas lahan yang terindikasi terbakar mencapai 85.803,77 hektare, berdasarkan data penanganan karhutla BNPB.

Dalam periode yang sama, tercatat 176 hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi dan 184 titik api. Sementara jumlah hotspot yang terdeteksi dalam 24 jam terakhir mencapai 5.749 titik. BNPB mencatat enam provinsi menjadi wilayah prioritas penanganan karhutla, dengan melibatkan sekitar 38.614 personel gabungan.

Kalimantan Barat dengan Indikasi Lahan Terbakar Terbesar

Kalimantan Barat menjadi wilayah dengan indikasi lahan terbakar terbesar, yakni sekitar 38.310,89 hektare. Angka tersebut disusul Riau 19.838,21 hektare dan Kalimantan Tengah 15.829,5 hektare. Sementara di Kalimantan Selatan tercatat sekitar 8.019,63 hektare, Sumatera Selatan 1.926,23 hektare, dan Jambi 1.879,71 hektare.

Data tersebut memperlihatkan konsentrasi indikasi lahan terbakar berada terutama di sejumlah wilayah Sumatera dan Kalimantan. Dalam 24 jam terakhir, luas lahan yang terindikasi terbakar tercatat 680,2 hektare. Penanganan kebakaran dilakukan melalui operasi darat dan udara. Sebanyak 321 operasi darat tercatat dilakukan untuk menangani karhutla di wilayah prioritas.

Dukungan dari udara juga dikerahkan. Sekitar 3,436 juta liter air telah digunakan dalam operasi water bombing. Sebanyak 27 armada udara tercatat mendukung penanganan, termasuk untuk operasi pemadaman, patroli dan kesiapsiagaan.

Besarnya pengerahan personel dan armada menunjukkan bahwa penanganan karhutla membutuhkan respons yang tidak hanya cepat, tetapi juga berkelanjutan.

Asap Menjadi Ancaman Berikutnya

Persoalan karhutla tidak berhenti ketika api berhasil dipadamkan. Asap dan partikulat hasil pembakaran dapat memengaruhi kualitas udara dan mengganggu aktivitas masyarakat.

Prediksi sebaran PM2.5 dari BMKG untuk periode 15–18 September 2026 menunjukkan adanya potensi peningkatan konsentrasi partikulat di sejumlah wilayah Indonesia.

Namun, prediksi tersebut bukan hasil pengukuran langsung kualitas udara di permukaan. BMKG memberikan catatan bahwa konsentrasi model belum dapat dianggap sebagai indeks kualitas udara maupun ukuran langsung paparan masyarakat. Karena itu, kondisi kualitas udara di masing-masing wilayah tetap perlu merujuk pada hasil pengukuran aktual.

Jumlah hotspot juga perlu dibaca secara hati-hati. Hotspot merupakan titik yang menunjukkan adanya anomali suhu yang terdeteksi melalui pengamatan satelit. Tidak seluruh hotspot secara otomatis berarti kebakaran hutan atau lahan.

Karena itu, data hotspot perlu dikombinasikan dengan informasi lapangan untuk memastikan lokasi dan kondisi kebakaran. Hal yang sama berlaku terhadap angka 85.803,77 hektare. Istilah yang digunakan adalah indikasi lahan terbakar, sehingga angka tersebut tidak serta-merta dapat disamakan dengan luas area yang telah seluruhnya diverifikasi melalui pengukuran lapangan.

Tantangan Setelah Api Dipadamkan

image

Karhutla bukan hanya persoalan pemadaman. Pencegahan titik api baru, deteksi dini, patroli, penanganan lahan rawan terbakar hingga perlindungan masyarakat dari dampak asap menjadi bagian penting dari penanganan.

Dengan masih ditemukannya ribuan hotspot dan ratusan titik dengan tingkat kepercayaan tinggi, kewaspadaan di wilayah rawan karhutla masih diperlukan.

Bagi masyarakat, persoalannya bukan sekadar berapa hektare lahan yang terbakar. Yang lebih penting adalah seberapa cepat api dikendalikan, bagaimana kualitas udara dijaga, dan sejauh mana risiko terhadap kesehatan serta lingkungan dapat ditekan.

Bagikan