Relokasi Warga Pinggir Rel Senen Dikebut, Arahan Presiden dan Kondisi Mendesak Jadi Pemicu

Polyworking 64

BicaraPlus – Pemerintah mempercepat pembangunan hunian layak bagi warga yang selama ini tinggal di bantaran rel kawasan Pasar Senen. Percepatan ini dipicu oleh arahan langsung Presiden Prabowo Subianto serta kondisi lapangan yang dinilai mendesak di kawasan padat perkotaan tersebut.

Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya bersama Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia, Bobby Rasyidin, meninjau langsung perkembangan pembangunan hunian di sekitar Stasiun Senen, Sabtu (25/4/2026). Peninjauan dilakukan untuk memastikan proyek berjalan sesuai target dan kebutuhan masyarakat.

“Sesuai arahan Presiden, pemerintah membangun hunian yang layak dan nyaman bagi warga yang selama ini tinggal di pinggir rel, khususnya di kawasan Pasar Senen yang hanya berjarak sekitar dua kilometer dari pusat ibu kota,” ujar Teddy dalam keterangan tertulis.

Percepatan proyek ini tidak lepas dari kunjungan langsung Presiden Prabowo Subianto ke lokasi permukiman warga pada 26 Maret 2026. Kunjungan tersebut menjadi titik awal percepatan eksekusi di lapangan, dari perencanaan menuju pembangunan fisik dalam waktu singkat.

Hunian yang tengah dibangun berlokasi sekitar 500 meter dari jalur rel. Kawasan ini dirancang dengan fasilitas dasar seperti akses air bersih, sarana mandi, cuci, kakus (MCK), tempat ibadah, serta ruang bermain anak guna meningkatkan kualitas hidup warga. Pemerintah menyebut pembangunan dapat berlangsung cepat berkat kolaborasi antara Kementerian Perumahan dan sejumlah BUMN, termasuk PT Kereta Api Indonesia.

Namun demikian, tantangan di lapangan masih menjadi perhatian. Sejumlah warga diketahui masih bertahan di bantaran rel, bahkan sebagian kembali mendirikan hunian setelah penertiban. Kondisi ini menunjukkan bahwa persoalan permukiman tidak hanya terkait ketersediaan hunian, tetapi juga berkaitan erat dengan faktor ekonomi dan kedekatan dengan sumber penghidupan.

Kawasan Pasar Senen sendiri telah lama menjadi lokasi permukiman masyarakat berpenghasilan rendah akibat tingginya arus urbanisasi sejak puluhan tahun lalu. Kedekatan dengan pusat aktivitas ekonomi menjadikan kawasan ini tetap diminati, meski dengan risiko keselamatan dan keterbatasan fasilitas.

Pemerintah menegaskan program penataan ini akan diperluas secara bertahap ke wilayah lain dengan kondisi serupa. Keberhasilan program tidak hanya diukur dari jumlah hunian yang terbangun, tetapi juga dari kemampuan warga untuk menetap secara berkelanjutan dan meningkatkan taraf hidupnya.

Percepatan pembangunan di Senen menjadi langkah awal. Namun, efektivitasnya akan ditentukan pada fase berikutnya: apakah relokasi mampu memutus siklus lama permukiman pinggir rel, atau justru kembali berulang di masa mendatang.

Bagikan