
BicaraPlus – Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta terus memperkuat identitas ibu kota melalui pelestarian budaya Betawi. Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno, mengajak industri perhotelan berperan aktif mempromosikan budaya Betawi kepada wisatawan melalui sajian kuliner khas, pertunjukan seni tradisional, hingga pengalaman budaya yang autentik.
Ajakan tersebut disampaikan saat membuka Discover Betawi Art & Culture di Hotel Borobudur Jakarta, Jumat (19/6/2026). Acara ini merupakan bagian dari rangkaian perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-499 Kota Jakarta sekaligus langkah awal menuju peringatan lima abad Jakarta pada 2027.
Menurut Rano Karno, pelestarian budaya tidak dapat hanya mengandalkan pemerintah. Dukungan dunia usaha, khususnya industri perhotelan yang menjadi wajah pertama Jakarta bagi wisatawan, memiliki peran strategis dalam memperkenalkan kekayaan budaya Betawi kepada tamu domestik maupun mancanegara.
“Saya sangat tahu, hampir setiap tahun saat Jakarta berulang tahun, Hotel Borobudur pasti berpartisipasi dengan kegiatan budayanya. Ini menandakan bahwa kolaborasi antara pemerintah daerah dengan semua bidang usaha, termasuk hotel, berjalan dengan baik,” ujar Rano Karno.
Hotel Jadi Etalase Budaya Betawi
Rano menjelaskan, saat ini sekitar 15 hotel telah menjalin kerja sama dengan Pemprov DKI Jakarta dalam menghadirkan nuansa budaya Betawi kepada para tamu. Kolaborasi tersebut diwujudkan melalui berbagai aktivitas, mulai dari penyajian kuliner khas Betawi, pertunjukan tari tradisional, musik daerah, hingga penyambutan tamu dengan sentuhan budaya lokal.
Menurut Rano Karno, langkah ini bukan hanya memperkuat identitas Jakarta, tetapi juga memberikan pengalaman berbeda bagi wisatawan yang berkunjung ke ibu kota. “Kami memiliki sekitar 15 hotel yang sudah bekerja sama dengan Pemprov DKI Jakarta. Ini bagian dari upaya mengangkat budaya Betawi melalui berbagai aktivitas yang dekat dengan wisatawan,” jelasnya.
Dengan semakin banyak hotel yang mengangkat budaya lokal, Jakarta diharapkan memiliki daya tarik wisata yang lebih kuat sekaligus mampu meningkatkan lama tinggal wisatawan.
Jakarta Siapkan Kalender Event Internasional 2027

Sebagai bagian dari persiapan menuju usia 500 tahun Jakarta, Pemprov DKI tengah menyusun kalender kegiatan budaya dan pariwisata sepanjang tahun 2027. Kalender tersebut akan menghadirkan berbagai agenda berskala internasional setiap bulan sebagai upaya memperkuat posisi Jakarta sebagai kota global.
Menurut Rano Karno, kepastian jadwal acara akan membantu pelaku industri pariwisata, hotel, restoran, hingga penyelenggara event menyiapkan berbagai program pendukung secara lebih matang.
“Kami sedang mendesain kalender kegiatan dari Januari sampai Desember 2027. Setiap bulan akan ada kegiatan berskala internasional karena Jakarta sedang menuju kota global. Ini juga akan menjadi panduan bagi sektor pariwisata dan perhotelan untuk menyiapkan berbagai atraksi yang mendukung,” kata Rano Karno.
Keberadaan kalender tahunan ini diharapkan menjadi magnet baru bagi wisatawan internasional sekaligus mendorong investasi di sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.
Budaya Jadi Motor Penggerak Ekonomi Jakarta
Selain menjaga warisan budaya, Pemprov DKI melihat sektor budaya sebagai salah satu penggerak pertumbuhan ekonomi daerah. Rano mengungkapkan, rangkaian kegiatan budaya dan keagamaan yang digelar sejak perayaan Natal hingga Idulfitri telah menghasilkan perputaran ekonomi mencapai sekitar Rp68 triliun.
Menurutnya, semakin banyak agenda budaya yang diselenggarakan secara konsisten, semakin besar pula peluang peningkatan kunjungan wisatawan, okupansi hotel, aktivitas UMKM, hingga penerimaan fiskal daerah. “Targetnya tentu meningkatkan jumlah kunjungan wisata. Dengan kunjungan yang meningkat, fiskal Jakarta juga ikut tumbuh,” ungkapnya.
Selain kegiatan seni dan budaya, rangkaian HUT Jakarta tahun ini juga menghadirkan agenda keagamaan seperti Haul Ulama dan Habaib sebagai bentuk penghormatan terhadap tokoh-tokoh yang memiliki kontribusi besar dalam sejarah perkembangan Jakarta.
Melalui sinergi antara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat, Jakarta ingin menunjukkan bahwa pelestarian budaya bukan sekadar menjaga tradisi, melainkan menjadi fondasi penting dalam membangun kota global yang tetap berakar pada identitas lokal.





