
BicaraPlus – Peneliti dari University of Oxford menemukan sejumlah protein dalam darah yang berkaitan dengan risiko kanker prostat, termasuk jenis kanker yang agresif, lebih dari satu dekade sebelum diagnosis. Temuan ini membuka peluang bagi pengembangan metode penilaian risiko kanker prostat yang lebih dini, meski belum dapat digunakan sebagai tes klinis.
Penelitian yang dipimpin tim Oxford Population Health tersebut dipublikasikan dalam jurnal European Urology dan dipresentasikan pada pertemuan tahunan American Society of Human Genetics (ASHG) 2026. Studi ini menjadi salah satu penelitian berbasis populasi terbesar yang menyelidiki hubungan protein darah dengan risiko kanker prostat di masa depan, terutama kanker yang berkembang secara agresif.
Penelitian Analisis Lebih dari 6.000 Protein Darah
Dalam penelitian tersebut, para ilmuwan menganalisis sampel darah dari 982 pria yang kemudian didiagnosis menderita kanker prostat dan sampel pembanding dari 1.573 pria yang dipilih secara acak dalam studi European Prospective Investigation into Cancer and Nutrition (EPIC).
Peneliti mengukur lebih dari 6.000 protein dalam darah untuk mengidentifikasi perbedaan biologis yang berkaitan dengan perkembangan kanker prostat. Para peserta dipantau selama sekitar 16 tahun, sehingga peneliti dapat mempelajari hubungan antara protein yang terukur dan diagnosis kanker pada tahun-tahun berikutnya.
Hasilnya, sebanyak 12 protein ditemukan berkaitan dengan diagnosis kanker prostat lebih dari 15 tahun setelah sampel darah dikumpulkan. Temuan ini menunjukkan bahwa karakteristik biologis tertentu dapat berkaitan dengan risiko kanker prostat jauh sebelum penyakit tersebut terdiagnosis. Namun, hubungan tersebut tidak berarti bahwa kanker sudah dipastikan ada ketika sampel darah diambil. Penelitian ini mengidentifikasi keterkaitan biologis, bukan memastikan kapan kanker mulai berkembang pada setiap individu.
Protein GZMK dan ANKRD1 Menjadi Perhatian Peneliti
Salah satu protein yang teridentifikasi adalah GZMK, protein yang diproduksi oleh sel-sel sistem kekebalan tubuh dan terlibat dalam pengenalan serta penghancuran sel abnormal. Keterkaitan GZMK dengan risiko kanker prostat yang didiagnosis lebih dari 15 tahun kemudian memberikan petunjuk mengenai kemungkinan peran sistem kekebalan dalam proses biologis yang berhubungan dengan perkembangan kanker.
Meski demikian, mekanisme di balik hubungan tersebut masih perlu diteliti lebih lanjut. Peneliti juga mengidentifikasi tujuh protein yang berkaitan dengan kanker prostat agresif. Salah satunya adalah ANKRD1, yang secara konsisten berhubungan dengan beberapa bentuk penyakit yang lebih serius, termasuk kanker yang telah menyebar atau berujung pada kematian.
Selain itu, penelitian menemukan hubungan antara risiko kanker prostat agresif dan protein yang berkaitan dengan perlekatan sel, pembentukan pembuluh darah, serta gen yang telah diketahui berperan dalam kanker prostat, seperti ERBB3, KRAS, dan NRAS.
Temuan ini memberikan petunjuk bagi ilmuwan untuk memahami mengapa sebagian kanker prostat berkembang secara perlahan, sementara sebagian lainnya dapat menjadi agresif dan mengancam jiwa.
Kanker Prostat Tidak Selalu Berkembang dengan Cara yang Sama

Dr. Zhe Huang, penulis pertama penelitian sekaligus ahli epidemiologi pascadoktoral di Oxford Population Health, menjelaskan bahwa kanker prostat bukanlah satu penyakit dengan karakteristik perkembangan yang seragam.
Sebagian kanker prostat tumbuh lambat dan mungkin tidak pernah menimbulkan dampak serius sepanjang hidup pasien. Sebaliknya, jenis kanker prostat yang agresif dapat berkembang menjadi kondisi yang mengancam jiwa.
Karena itu, memahami perbedaan biologis antara kedua jenis perkembangan penyakit tersebut menjadi penting untuk membantu penelitian mengenai identifikasi kelompok pria yang memiliki risiko lebih tinggi.
Profesor Karl Smith-Byrne, salah satu penulis senior penelitian, juga menyoroti pentingnya temuan protein yang berkaitan dengan gen yang telah diketahui berperan dalam kanker prostat. Menurutnya, temuan tersebut memberikan wawasan baru mengenai proses biologis awal yang berkaitan dengan perkembangan penyakit.
Ke depan, informasi mengenai protein darah dapat dikombinasikan dengan bukti genetik dan penelitian jangka panjang untuk mempelajari jalur biologis yang berpotensi menjadi sasaran pencegahan kanker prostat agresif.
Belum Bisa Digunakan sebagai Tes Deteksi Kanker Prostat
Meski menjanjikan, hasil penelitian Oxford ini belum dapat dijadikan dasar untuk menyatakan bahwa kanker prostat bisa diprediksi secara akurat melalui tes protein darah lebih dari 10 atau 15 tahun sebelumnya.
Para peneliti menegaskan bahwa protein-protein yang ditemukan belum memenuhi syarat untuk digunakan sebagai tes klinis. Sebagian besar hubungan yang teridentifikasi masih tergolong terbatas dan memerlukan validasi melalui penelitian tambahan.
Hal serupa disampaikan oleh para ahli yang memberikan tanggapan melalui Science Media Centre. Mereka menilai penelitian ini memberikan bukti menarik mengenai hubungan protein darah dengan risiko kanker prostat di masa depan, tetapi belum membuktikan bahwa pengukuran protein dapat memprediksi risiko seseorang secara akurat.
Penelitian lanjutan diperlukan untuk memastikan apakah kombinasi protein tersebut dapat meningkatkan ketepatan penilaian risiko dibandingkan metode yang sudah digunakan dalam praktik medis.
Penelitian Lanjutan untuk Memahami Risiko Kanker Prostat
Penelitian berikutnya melalui Prostate Cancer Aetiology and Prevention Programme (PCAP), yang didanai Cancer Research UK, akan mengevaluasi apakah temuan tersebut dapat membantu pengembangan pendekatan yang lebih baik untuk memprediksi atau mencegah kanker prostat.
Profesor Ruth Travis, salah satu pemimpin program PCAP, menilai kemampuan teknologi untuk mengukur ribuan protein secara bersamaan memberikan kesempatan bagi ilmuwan untuk mempelajari perubahan biologis yang berkaitan dengan kanker jauh sebelum diagnosis.
Jika hasilnya dapat dikonfirmasi melalui penelitian lanjutan, temuan tersebut berpotensi mendukung pengembangan metode penilaian risiko yang lebih terarah. Pendekatan ini diharapkan dapat membantu mengidentifikasi pria yang membutuhkan pemantauan lebih lanjut sekaligus meningkatkan pemahaman mengenai kanker prostat agresif.
Untuk saat ini, penelitian tersebut merupakan langkah awal dalam memahami hubungan protein darah dan risiko kanker prostat, bukan pengganti pemeriksaan medis yang telah tersedia. Keputusan mengenai pemeriksaan dan pemantauan kesehatan tetap perlu disesuaikan dengan kondisi serta faktor risiko masing-masing individu melalui konsultasi dengan tenaga medis.





