
BicaraPlus – Penelitian terbaru dari Inggris membuka harapan baru dalam pengobatan kanker payudara. Para peneliti tengah mengkaji apakah kadar insulin di dalam tubuh memengaruhi keberhasilan terapi hormon pada pasien kanker payudara, khususnya jenis estrogen receptor-positive, HER2-negative (ER+HER2-), yang merupakan tipe paling umum ditemukan pada perempuan pascamenopause.
Penelitian bertajuk Trans-EndoNET ini diyakini dapat menjadi langkah penting dalam menghadirkan terapi kanker yang lebih personal berdasarkan kondisi metabolik setiap pasien. Selama ini insulin dikenal sebagai hormon yang mengatur kadar gula darah. Namun, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa insulin juga memiliki pengaruh terhadap pertumbuhan berbagai jenis sel, termasuk sel kanker.
Pada pasien yang mengalami resistensi insulin atau diabetes tipe 2, kadar insulin dalam darah cenderung lebih tinggi. Kondisi tersebut diduga mampu mengaktifkan jalur biologis tertentu yang membuat sel kanker menjadi lebih sulit merespons terapi hormon.
Melalui studi Trans-EndoNET, para ilmuwan ingin mengetahui apakah kadar insulin yang tinggi benar-benar berkaitan dengan rendahnya efektivitas pengobatan menggunakan aromatase inhibitor, salah satu terapi standar bagi penderita kanker payudara ER+HER2-.
Terapi Hormon Menjadi Standar Penanganan
Kanker payudara ER+HER2- merupakan jenis kanker yang pertumbuhannya dipicu oleh hormon estrogen. Oleh karena itu, pasien umumnya mendapatkan terapi menggunakan obat golongan aromatase inhibitor, seperti letrozole. Obat ini bekerja dengan menurunkan produksi estrogen sehingga pertumbuhan sel kanker dapat ditekan. Terapi biasanya diberikan selama lima hingga sepuluh tahun setelah operasi guna mengurangi risiko kanker kembali muncul.
Namun, tidak semua pasien memberikan respons yang sama terhadap terapi tersebut. Para peneliti menduga bahwa kondisi metabolik, termasuk kadar insulin, menjadi salah satu faktor yang memengaruhi keberhasilan pengobatan. Penelitian Trans-EndoNET melibatkan 32 rumah sakit di Inggris, termasuk Oxford University Hospitals yang dijadwalkan mulai merekrut pasien dalam waktu dekat.
Studi ini memperoleh pendanaan dari kolaborasi antara UK Research and Innovation Medical Research Council (MRC) dan National Institute for Health and Care Research (NIHR).
Penelitian tersebut merupakan bagian dari uji klinis fase III EndoNET yang sebelumnya telah meneliti manfaat pemberian terapi hormon sebelum operasi pada pasien kanker payudara stadium awal.
Sekitar 250 pasien telah mengikuti penelitian EndoNET. Mereka kini berkesempatan turut berpartisipasi dalam studi Trans-EndoNET melalui analisis sampel darah dan jaringan tumor.
Analisis Darah dan Jaringan Tumor
Dalam penelitian ini, para ilmuwan akan membandingkan sampel jaringan tumor sebelum dan sesudah pasien menerima terapi aromatase inhibitor.
Selain itu, sampel darah akan dianalisis untuk mengetahui kadar insulin masing-masing peserta.
Dengan pendekatan tersebut, peneliti berharap dapat melihat hubungan langsung antara resistensi insulin, perubahan biologis pada tumor, serta respons terhadap terapi hormon.
Jika keterkaitan tersebut terbukti, kadar insulin dapat menjadi biomarker baru yang membantu dokter menentukan strategi pengobatan paling efektif bagi pasien kanker payudara.Berbagai penelitian sebelumnya telah menunjukkan bahwa penderita diabetes tipe 2 memiliki risiko lebih tinggi mengalami kanker payudara dibandingkan populasi umum.
Selain meningkatkan kemungkinan munculnya kanker, kadar insulin yang tinggi juga dikaitkan dengan meningkatnya angka kematian akibat kanker payudara.
Diperkirakan sekitar satu dari tiga orang berusia di atas 50 tahun mengalami resistensi insulin atau sindrom metabolik. Angka tersebut membuat hubungan antara kesehatan metabolik dan keberhasilan terapi kanker menjadi semakin penting untuk dipahami.
Harapan Baru bagi Pengobatan yang Lebih Personal
Direktur Oxford Cancer Trials sekaligus Konsultan Onkologi Medis Oxford University Hospitals, Dr. Simon Lord, menjelaskan bahwa resistensi insulin kini semakin banyak ditemukan, terutama pada kelompok usia lanjut.
Karena itu, penelitian ini diharapkan mampu menjawab apakah kondisi metabolik benar-benar memengaruhi efektivitas terapi hormon yang selama ini menjadi pengobatan utama kanker payudara.
Sementara itu, Profesor Bedah Payudara University of Southampton, Prof. Ramsey Cutress, menilai integrasi penelitian ini dengan uji klinis EndoNET memberikan kesempatan langka untuk memahami hubungan antara perubahan biologis pada tumor dan hasil pengobatan yang dialami pasien secara nyata.
Potensi Mengubah Pendekatan Terapi Kanker
Apabila hasil penelitian membuktikan bahwa kadar insulin berperan besar terhadap efektivitas terapi hormon, langkah berikutnya adalah mengembangkan uji klinis baru.
Penelitian lanjutan dapat mengevaluasi apakah pola makan tertentu, penurunan berat badan, olahraga, maupun obat-obatan penurun kadar insulin mampu meningkatkan keberhasilan terapi kanker payudara.
Pendekatan ini membuka peluang hadirnya pengobatan yang tidak hanya berfokus pada sel kanker, tetapi juga memperhatikan kesehatan metabolik pasien secara menyeluruh.
Dengan kata lain, pengendalian kadar insulin berpotensi menjadi bagian penting dari strategi pengobatan kanker payudara di masa mendatang.Penelitian Trans-EndoNET menjadi salah satu langkah penting dalam memahami hubungan antara metabolisme tubuh dan efektivitas terapi kanker payudara. Jika kadar insulin terbukti memengaruhi respons terhadap terapi hormon, dunia medis berpeluang menghadirkan pendekatan pengobatan yang lebih presisi, personal, dan efektif.
Temuan tersebut juga mengingatkan bahwa menjaga kesehatan metabolik melalui pola hidup sehat tidak hanya penting untuk mencegah diabetes, tetapi mungkin juga berperan dalam meningkatkan keberhasilan pengobatan kanker di masa depan.





