Krisis Selat Hormuz Ancam Ekonomi Global, PBB Serukan Jalur Laut Dibuka

Polyworking 31

BicaraPlus – Sekretaris Jenderal United Nations, António Guterres, memperingatkan bahwa gangguan jalur pelayaran global, khususnya di Selat Hormuz, kini menjadi ancaman serius bagi stabilitas ekonomi dan keamanan dunia. Dalam pidatonya di Dewan Keamanan PBB pada 27 April 2026, ia menegaskan bahwa jalur laut merupakan urat nadi perdagangan global yang mengangkut energi, pangan, dan berbagai komoditas penting, namun saat ini berada di bawah tekanan akibat meningkatnya ketegangan geopolitik, aksi perompakan, dan ancaman terhadap infrastruktur maritim.

Selat Hormuz menjadi titik paling krusial karena mengalirkan sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia, gas alam cair, serta hampir sepertiga pupuk global. Sejak awal Maret 2026, gangguan di kawasan ini telah memicu lonjakan harga energi, kenaikan biaya logistik dan asuransi, serta gangguan rantai pasok global yang disebut sebagai yang terburuk sejak pandemi COVID-19 dan konflik Ukraina. Dampaknya meluas hingga ke sektor pangan, dengan keterlambatan distribusi yang berpotensi memicu krisis pangan global, terutama di kawasan Afrika dan Asia Selatan.

Lebih dari 20.000 pelaut dilaporkan masih terjebak di laut dan lebih dari 2.000 kapal komersial tertahan akibat pembatasan navigasi. Guterres menegaskan bahwa para pelaut merupakan pekerja sipil yang tidak terlibat konflik, namun harus menanggung risiko besar. Ia juga mendesak negara-negara anggota untuk mendukung upaya evakuasi darurat yang disiapkan oleh International Maritime Organization guna menjamin keselamatan dan hak para pekerja maritim.

Dalam pernyataannya, Guterres menyerukan agar semua pihak membuka kembali akses Selat Hormuz tanpa diskriminasi, tanpa biaya tambahan, dan tanpa hambatan politik. Ia menekankan bahwa kebebasan navigasi harus dihormati sesuai hukum internasional dan Piagam PBB. PBB pun mendorong penyelesaian melalui dialog damai dan kerja sama internasional, dengan mencontohkan keberhasilan inisiatif Laut Hitam sebagai bukti bahwa kerja sama tetap memungkinkan di tengah konflik. Ia menutup dengan menegaskan bahwa laut harus menjadi ruang kerja sama global, bukan arena konfrontasi.

Bagikan