
BicaraPlus – Ketua DPD RI ingatkan tantangan AI di dunia kerja saat memberikan pembekalan kepada 1.760 calon wisudawan Universitas Gadjah Mada (UGM) menjelang wisuda sarjana dan sarjana terapan periode III tahun akademik 2024/2025.
Pembekalan yang berlangsung di Grha Sabha Pramana UGM, Selasa (19/5), menghadirkan Ketua Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia periode 2024–2029, Sultan Baktiar Najamudin, sebagai pembicara utama. Dalam pidatonya, Sultan menyoroti perubahan besar dunia kerja akibat perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), digitalisasi, serta meningkatnya persaingan global.
Menurut Sultan, wisuda bukan sekadar seremoni kelulusan, tetapi awal memasuki realitas kehidupan profesional yang jauh lebih kompleks dibanding dunia kampus. “Wisuda bukan garis akhir pendidikan, melainkan hari pertama ketika kalian diuji di lingkungan yang nyata,” ujar Sultan di hadapan ribuan calon wisudawan.
Ia menegaskan bahwa tantangan dunia kerja saat ini tidak lagi hanya soal kemampuan akademik, tetapi juga kesiapan mental, kepemimpinan, serta kemampuan beradaptasi terhadap teknologi.
Ketua DPD RI Ingatkan Tantangan AI di Dunia Kerja dan Pentingnya Soft Skill
Dalam pembekalan tersebut, Sultan B Najamudin menyoroti bahwa perkembangan AI akan mengubah banyak sektor pekerjaan. Karena itu, generasi muda dituntut tidak hanya memiliki hard skill, tetapi juga soft skill yang kuat. Ketua DPD RI menyebut integritas, kecerdasan emosional, kemampuan komunikasi, dan kepemimpinan menjadi kualitas penting yang tidak mudah digantikan oleh teknologi.
“Persaingan hari ini bukan hanya dengan sesama manusia, tetapi juga dengan AI dan teknologi yang berkembang sangat cepat,” katanya. Ketua DPD RI Sultan B Najamudin juga mengingatkan bahwa banyak keputusan di dunia profesional memiliki dampak besar bagi masyarakat dan perusahaan. Berbeda dengan kesalahan akademik yang masih bisa diperbaiki, kesalahan di dunia kerja dapat memengaruhi banyak pihak.
Karena itu, ia meminta para lulusan UGM untuk mulai mempersiapkan masa depan secara matang dan terencana. “Mulailah berpikir tentang target hidup dan masa depan. Jangan hanya berjalan by accident, tetapi harus by design,” pesannya.
Wisudawan UGM Diminta Tak Hanya Cari Kerja, Tapi Ciptakan Inovasi
Selain membahas tantangan AI di dunia kerja, Ketua DPD RI Sultan Baktiar Najamudin juga mendorong para lulusan untuk memiliki mental inovator dan entrepreneur. Menurutnya, generasi muda Indonesia harus mulai berpikir bagaimana menciptakan lapangan kerja, membangun bisnis, dan memanfaatkan teknologi digital untuk menghasilkan solusi baru.
Ia menilai era digital membuka peluang besar bagi anak muda untuk berkembang, terutama melalui inovasi berbasis teknologi. “Jangan hanya berpikir mencari pekerjaan, tetapi bagaimana menciptakan inovasi, membangun perusahaan, dan membangun kompetisi melalui penguasaan teknologi dan digitalisasi,” tegasnya.
Pernyataan tersebut menjadi relevan di tengah perubahan lanskap pekerjaan global akibat otomatisasi dan AI. Berdasarkan laporan World Economic Forum, jutaan pekerjaan diperkirakan akan berubah akibat perkembangan teknologi dalam beberapa tahun mendatang.
Selain itu, laporan McKinsey & Company juga menyebut kemampuan adaptasi digital dan soft skill menjadi faktor utama keberhasilan tenaga kerja masa depan.
UGM Tekankan Alumni Harus Jadi Problem Solver Bangsa
Wakil Rektor UGM Bidang Kemahasiswaan, Pengabdian kepada Masyarakat, dan Alumni, Arie Sujito, menyampaikan bahwa pembekalan tersebut menjadi bagian penting dalam mempersiapkan lulusan menghadapi dunia profesional. Menurut Arie, alumni UGM harus mampu menjadi individu yang berdampak bagi masyarakat dan bangsa.
“Alumni UGM harus memiliki kapasitas dan karakter yang kuat, agile, adaptif, inovatif, kolaboratif, problem solver, dan self-leadership,” ujarnya. Ia berharap para wisudawan tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga mampu memberikan kontribusi nyata dalam menyelesaikan persoalan bangsa.
Ketua DPD RI Ingatkan Generasi Muda Harus Percaya Diri
Di akhir pembekalannya, Ketua DPD RI Sultan Baktiar Najamudin mengajak para calon wisudawan untuk tetap percaya diri menghadapi perubahan zaman. Ia menekankan bahwa kesuksesan bukan hanya soal jabatan atau materi, tetapi juga sejauh mana seseorang mampu memberikan manfaat bagi masyarakat. “Jangan hanya bercita-cita menjadi orang sukses, tetapi bercita-citalah menjadi orang yang bermanfaat,” pesannya.
Pidato tersebut mendapat perhatian luas karena menyoroti isu yang sangat relevan dengan kondisi generasi muda saat ini, terutama terkait disrupsi AI, transformasi digital, dan ketatnya persaingan dunia kerja global.





