Hantavirus Mematikan: 7 Fakta Mengerikan dan Mengejutkan

Hantavirus Mematikan: 7 Fakta Mengerikan dan Mengejutkan

BicaraPlus – Hantavirus kembali menjadi perhatian dunia kesehatan setelah sejumlah penelitian menunjukkan adanya potensi penyebaran lebih luas pada manusia. Meski belum dikategorikan sebagai ancaman pandemi global seperti COVID-19, para ilmuwan menilai perkembangan virus ini tetap perlu diwaspadai.

Virus berasal dari hewan pengerat ini diketahui telah menyebar di berbagai wilayah dunia, mulai dari Asia, Eropa, hingga Amerika Utara dan Selatan. Beberapa kasus bahkan menunjukkan kemungkinan penularan antar manusia, terutama pada jenis Andes virus ditemukan di Argentina dan Chile. Para ahli menilai kemunculan spesies baru hantavirus dapat meningkatkan risiko wabah di masa depan apabila tidak diantisipasi melalui pengawasan kesehatan yang ketat.

Apa Itu Hantavirus?

Hantavirus merupakan kelompok virus dari genus Orthohantavirus yang dapat menyebabkan penyakit serius pada manusia. Virus ini menyebar melalui kontak dengan urin, air liur, atau kotoran tikus yang telah terinfeksi.

Penularan paling umum terjadi ketika manusia menghirup partikel udara yang telah terkontaminasi virus dari ekskresi hewan pengerat. Meski jarang, beberapa penelitian menemukan adanya penularan antar manusia pada kasus tertentu. Namun virus ini terbagi menjadi dua kelompok utama, yaitu:

Hantavirus Dunia Lama Jenis ini banyak ditemukan di Asia dan Eropa, serta menyebabkan penyakit Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) yang menyerang ginjal dan menyebabkan perdarahan internal. Hantavirus Dunia Baru yang mana jenis ini ditemukan di wilayah Amerika dan menyebabkan Pulmonary Syndrome (HPS) atau Hantavirus Cardiopulmonary Syndrome (HCPS), yang menyerang paru-paru dan sistem pernapasan.

7 Fakta Mengejutkan

Dalam sejarah Hantavirus pernah menyebabkan wabah misterius diamana kasus ini mulai mendapat perhatian besar pada tahun 1993 melalui wabah “Four Corners” di wilayah perbatasan Utah, Colorado, Arizona, dan New Mexico, Amerika Serikat.

Saat itu, pasangan muda Navajo meninggal secara misterius akibat gangguan pernapasan akut. Setelah penyelidikan dilakukan, ilmuwan menemukan spesies baru hantavirus bernama Sin Nombre Virus. Dimana tingkat kematian sangat tinggi. Tingkat fatalitas HPS akibat hantavirus mencapai 35–50 persen. Sementara HFRS memiliki tingkat kematian sekitar 5–15 persen. Angka ini membuatnya menjadi salah satu penyakit zoonosis yang sangat mematikan.

Sementara masa inkubasi sagat panjang yaitu hingga 4 Minggu. Virus ini memiliki masa inkubasi sekitar dua hingga empat minggu. Kondisi ini memungkinkan seseorang terinfeksi tanpa menyadari gejalanya sejak awal.

Dan apabila timbul gejala mirip Flu dan COVID-19 pada tahap awal sehingga sering sulit dikenali. Beberapa gejala umum meliputi:

  • Demam tinggi
  • Nyeri otot
  • Sakit kepala
  • Mual dan muntah
  • Gangguan pernapasan
  • Penumpukan cairan di paru-paru

Pada kasus berat, pasien dapat mengalami gagal napas hingga syok kardiovaskular.

Potensi Penularan Antar Manusia

Meski sangat jarang, epidemi kecil pada tahun 1996, 2006, dan 2018 menunjukkan indikasi penularan antar manusia, khususnya pada Andes virus di Amerika Selatan. Inilah yang membuat para ilmuwan mulai memperhatikan potensi evolusi hantavirus menjadi lebih menular.

Virus ini telah ditemukan secara endemik di banyak negara. Selain Asia, Eropa, dan Amerika, penelitian juga menemukan indikasi keberadaan virus ini di Afrika. Hal tersebut menunjukkan bukan lagi penyakit lokal, melainkan ancaman kesehatan global yang perlu diawasi.

Apakah Sudah Ada Vaksin ?

Hingga kini belum tersedia vaksin global yang sepenuhnya efektif untuk semua jenis hantavirus. Vaksin HFRS memang telah dikembangkan di Korea Selatan dan China sejak tahun 1990, tetapi efektivitasnya masih terus diteliti.

Sementara itu, pengembangan vaksin HPS masih berada dalam tahap uji klinis. Pengobatan hantavirus umumnya bersifat suportif, seperti bantuan ventilator dan pemberian antivirus ribavirin.

Cara Mencegah Penularan

Pencegahan hantavirus sangat bergantung pada pengendalian populasi tikus dan menjaga kebersihan lingkungan. Berikut langkah yang disarankan:

  • Simpan makanan dalam wadah tertutup
  • Bersihkan rumah secara rutin
  • Hindari kontak dengan kotoran tikus
  • Gunakan masker saat membersihkan area berdebu
  • Terapkan pengendalian hama di rumah

Selain itu, pengawasan genomik dan surveilans kesehatan menjadi langkah penting untuk mendeteksi mutasi baru hantavirus. Para peneliti menilai virus ini memang belum berada pada level ancaman pandemi global seperti virus corona. Namun, munculnya kasus penularan antar manusia menjadi sinyal penting bahwa evolusi virus terus terjadi.

Perubahan iklim, urbanisasi, dan meningkatnya interaksi manusia dengan habitat liar juga meningkatkan risiko munculnya penyakit zoonosis baru di masa depan. Karena itu, kewaspadaan terhadap perlu terus ditingkatkan melalui edukasi, pengawasan kesehatan, dan riset vaksin yang lebih masif.

Bagikan