
BicaraPlus – Pemerintah memastikan pasokan energi nasional tetap aman di tengah ketegangan geopolitik global, termasuk di kawasan Timur Tengah.
Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan, kondisi cadangan energi saat ini dalam posisi terkendali, terutama untuk LPG.
“Sekarang cadangan kita untuk LPG sudah di atas 10 hari. Sebentar lagi kapal kita masuk,” ujar Bahlil di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, belum lama ini.
Ia juga menyebut Indonesia tidak lagi mengimpor solar, sementara impor BBM saat ini hanya untuk bensin.
Selain itu, ketergantungan Indonesia terhadap pasokan energi dari kawasan Timur Tengah dinilai relatif kecil.
Menurut Bahlil, impor dari wilayah tersebut hanya berupa minyak mentah (crude oil) dengan porsi sekitar 20–25 persen.
“Kita tidak pernah impor BBM jadi dari Timur Tengah, yang ada hanya crude sekitar 20–25 persen,” jelasnya.
Untuk menjaga ketahanan energi, pemerintah telah melakukan diversifikasi sumber impor dari berbagai negara, seperti Angola, Nigeria, hingga Amerika Serikat.
Pasokan LPG juga disebut tidak bergantung pada jalur distribusi di Selat Hormuz, melainkan berasal dari negara lain seperti Australia.
Di sisi lain, pemerintah terus memantau kondisi distribusi energi global, termasuk pergerakan kapal di Selat Hormuz, guna mengantisipasi potensi gangguan.
Bahlil berharap situasi di Timur Tengah segera mereda agar distribusi energi tetap lancar.
“Dengan adanya jeda eskalasi, mudah-mudahan bisa cepat selesai,” ujarnya.
Sementara itu, terkait harga BBM nonsubsidi, pemerintah masih melakukan perhitungan bersama Pertamina dan badan usaha lainnya.
Ia menegaskan, fokus utama pemerintah saat ini adalah menjaga stabilitas pasokan energi dalam negeri.





