
BicaraPlus – Setelah lebih dari tiga dekade sejak pertama kali dipentaskan, Teater Koma kembali menghadirkan lakon legendaris Rumah Sakit Jiwa dalam produksi ke-237. Berkolaborasi dengan Bakti Budaya Djarum Foundation, pertunjukan ini digelar di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, pada 30 Juli hingga 2 Agustus 2026.
Karya almarhum N. Riantiarno tersebut tidak hanya kembali menghidupkan salah satu naskah penting dalam sejarah teater Indonesia, tetapi juga menawarkan pembacaan baru yang relevan dengan dinamika masyarakat masa kini. Isu kemanusiaan, relasi kuasa, hingga meningkatnya perhatian terhadap kesehatan mental menjadi benang merah yang terasa dekat dengan realitas kehidupan saat ini.
Program Manager Bakti Budaya Djarum Foundation, Billy Gamaliel, mengatakan dukungan terhadap Teater Koma merupakan bagian dari upaya memperkuat ekosistem seni pertunjukan di Indonesia sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif. “Kami percaya seni memiliki kekuatan untuk menyentuh, menginspirasi, dan menjembatani generasi dalam mengenal serta merayakan kekayaan budaya bangsa. Kami berharap teater Indonesia semakin berkembang, semakin dicintai masyarakat, dan menjadi tuan rumah di negeri sendiri,” ujarnya.
Kisah Dokter Muda yang Menantang Sistem
Lakon ini mengisahkan perjalanan Rogusta, seorang dokter muda yang mulai bekerja di sebuah rumah sakit jiwa yang dipimpin Profesor Sidarta. Berbekal keyakinan bahwa empati dan persahabatan menjadi bagian penting dalam proses penyembuhan pasien, Rogusta berusaha menghadirkan pendekatan yang lebih manusiawi.
Namun, perubahan tersebut justru berbenturan dengan sistem yang telah lama mengakar. Konflik pun berkembang menjadi kritik sosial mengenai bagaimana kekuasaan, ketakutan, dan prasangka dapat mengikis nilai-nilai kemanusiaan.
Lewat cerita tersebut, penonton diajak merenungkan pertanyaan sederhana namun mendalam masih mampukah manusia memperlakukan sesamanya sebagai manusia ketika dunia perlahan dipenuhi perebutan kuasa dan kepentingan?
Hadir dengan Pendekatan Artistik Baru
Meski menggunakan naskah yang sama seperti pementasan tahun 1991, Pementaras Teater Koma Rumah Sakit Jiwa versi 2026 tampil dengan interpretasi visual yang berbeda. Konsep artistik menghadirkan tata panggung bertingkat yang merepresentasikan hubungan kuasa antara dokter dan pasien. Tata cahaya, multimedia, properti, hingga musik garapan Fero A. Stefanus dipadukan untuk membangun atmosfer emosional yang mengikuti perjalanan setiap tokoh.
Pendekatan tersebut membuat pertunjukan Teater Koma terasa lebih dinamis sekaligus memberikan pengalaman visual yang lebih kuat bagi penonton. Produser Teater Koma, Ratna Riantiarno, menegaskan bahwa karya teater harus terus berkembang mengikuti perubahan zaman.
Menurutnya, naskah tetap menjadi fondasi utama, tetapi konsep pementasan tidak boleh berhenti pada interpretasi masa lalu. “Sebagai kelompok bernama Koma, kami tidak ingin ekspresi artistik berhenti. Dunia yang berbeda menghadirkan tantangan sekaligus peluang untuk menafsirkan kembali naskah ini dengan kreativitas baru,” katanya.
Perubahan konteks sosial, perkembangan teknologi, hingga meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap isu kesehatan mental menjadi bagian penting dalam proses kreatif pementasan tahun ini.
Pendalaman Karakter Lewat Observasi Langsung

Sutradara Rangga Riantiarno menjelaskan proses kreatif tidak berhenti pada latihan membaca naskah. Para pemain melakukan observasi langsung ke rumah sakit jiwa, berdiskusi dengan psikolog klinis dan psikiater, serta mempelajari berbagai referensi mengenai kesehatan mental agar karakter yang dimainkan lahir dari pemahaman dan empati, bukan sekadar interpretasi.
Dari total 115 orang yang terlibat dalam produksi ini, hanya enam pemain yang pernah ikut dalam pementasan tahun 1991. Selebihnya merupakan generasi baru Teater Koma yang memberikan perspektif segar terhadap karakter-karakter dalam lakon tersebut.
“Harapannya, penonton tidak hanya menyaksikan pertunjukan, tetapi juga pulang membawa refleksi untuk terus memperlakukan manusia lain sebagai manusia,” ujar Rangga.
Kostum Menjadi Bagian dari Psikologi Tokoh
Selain pendalaman karakter, identitas visual juga menjadi perhatian utama dalam produksi ini.
Perancang busana Samuel Wattimena bersama Rima Ananda menghadirkan kostum yang bukan hanya menggambarkan profesi masing-masing tokoh, tetapi juga mencerminkan kondisi psikologis dan perkembangan emosional sepanjang cerita berlangsung. Pementasan Rumah Sakit Jiwa berlangsung di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, dengan jadwal:
- 30 Juli–2 Agustus 2026
- Pukul 19.30 WIB setiap hari
- Tambahan pertunjukan:
- Sabtu, 1 Agustus 2026 pukul 13.30 WIB
- Minggu, 2 Agustus 2026 pukul 13.30 WIB
Produksi ini mendapat dukungan dari Bank BCA, Jakpro, Taman Ismail Marzuki, PAC Martha Tilaar, Canon Indonesia, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta, Loket.com, DSS Don Sistem Suara, Wihendra Exhibition, dan Thunder Lighting.
Melalui pementasan ini, Teater Koma kembali menunjukkan bahwa karya teater bukan hanya menjadi ruang hiburan, melainkan juga medium refleksi sosial yang mampu melampaui zaman. Di tengah meningkatnya perhatian terhadap kesehatan mental dan pentingnya empati dalam kehidupan bermasyarakat, Rumah Sakit Jiwa hadir sebagai pengingat bahwa nilai kemanusiaan tetap menjadi fondasi yang tidak boleh hilang.





