
BicaraPlus – Biawak air kerap dianggap sebagai satwa berbahaya, terutama saat muncul di selokan atau kawasan permukiman.
Padahal, di balik penampilannya yang besar dan gerakannya yang tiba-tiba, reptil bernama ilmiah Varanus salvator ini justru memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem.
Biawak air dikenal sebagai salah satu reptil paling adaptif di kawasan tropis Asia, termasuk Indonesia.
Ia bisa hidup di berbagai habitat, mulai dari hutan mangrove, bantaran sungai, hingga wilayah perkotaan.
Kemampuan ini didukung oleh tubuhnya yang dirancang untuk dua lingkungan sekaligus.
Ekor pipihnya berfungsi seperti dayung saat berenang, sementara paru-parunya memungkinkan biawak menyelam cukup lama di dalam air.
Selain itu, lidah bercabangnya membantu mendeteksi partikel kimia di udara, sehingga memudahkan dalam mencari mangsa.
Predator Sekaligus Pengendali Hama
Dalam rantai makanan, biawak air tergolong mesopredator atau pemangsa tingkat menengah.
Ia memangsa berbagai hewan seperti ikan, serangga, amfibi, hingga mamalia kecil seperti tikus.
Kemampuan ini membuat biawak berperan sebagai pengendali hama alami, terutama di kawasan pertanian dan tambak.
Di sisi lain, biawak muda juga bisa menjadi mangsa predator yang lebih besar.
“Petugas Sanitasi” Alami
Selain berburu, biawak juga dikenal sebagai scavenger atau pemakan bangkai.
Peran ini sangat penting karena membantu membersihkan sisa organisme yang membusuk di alam.
Tanpa peran tersebut, bangkai bisa menjadi sumber penyakit.
Dengan mengonsumsinya, biawak membantu mempercepat daur ulang nutrisi sekaligus menjaga lingkungan tetap sehat.
Tidak Agresif ke Manusia
Meski sering ditakuti, biawak air sebenarnya cenderung defensif.
Dalam kondisi normal, hewan ini lebih memilih menghindar daripada menyerang.
Serangan terhadap manusia sangat jarang terjadi dan biasanya dipicu oleh ancaman langsung.
Dampak Perubahan Lingkungan
Kemunculan biawak di permukiman bukan tanpa sebab.
Penyempitan habitat alami seperti mangrove dan bantaran sungai membuat satwa ini terpaksa beradaptasi dengan lingkungan manusia.
Akibatnya, interaksi antara manusia dan biawak menjadi semakin sering terjadi.
Tetap Perlu Dijaga
Meski berstatus relatif aman, biawak air tetap menghadapi ancaman seperti perburuan, perdagangan kulit, dan kerusakan habitat.
Spesies ini juga masuk dalam daftar pengawasan perdagangan internasional.
Keberadaannya bahkan bisa menjadi indikator kondisi lingkungan. Jika ekosistem sehat, biawak cenderung bertahan.
Dok. Balai Besar KSDA Jawa Timur





