
BicaBelakangan ini, kabar soal kemunculan satwa langka makin sering terdengar. Di satu sisi, ini terlihat seperti kabar baik, seolah alam mulai pulih
Tapi, benarkah demikian?
Pakar konservasi dari IPB University Ani Mardiastuti mengingatkan bahwa kemunculan satwa langka tidak selalu berarti populasinya meningkat. Ada beberapa faktor yang membuat satwa-satwa ini kini lebih sering terlihat.
Salah satunya justru karena habitat yang semakin menyusut. Hutan yang terfragmentasi membuat ruang hidup satwa makin sempit. Di saat yang sama, aktivitas manusia terus mendekat ke wilayah tersebut.
“Satwa-satwa ini sebetulnya sudah ada, namun jumlahnya sedikit sehingga peluang untuk bertemu kecil. Namun, karena habitat hutan mereka kini menyusut, akhirnya lebih sering berpapasan dengan manusia,” jelasnya.
Selain itu, kemajuan teknologi juga ikut berperan. Kini, peneliti bisa lebih mudah mendeteksi keberadaan satwa lewat kamera trap, bioakustik, hingga pemanfaatan kecerdasan buatan (AI).
Teknologi ini bahkan bisa mengenali pola belang harimau atau mencocokkan suara burung dengan database global seperti Xeno-canto.
Tak hanya itu, drone juga digunakan untuk memantau satwa di lokasi sulit dijangkau, seperti tebing tinggi atau kawasan mangrove.
Kemunculan satwa yang lama tak terlihat juga sering berkaitan dengan ekspedisi khusus. Dalam dunia konservasi, fenomena ini dikenal sebagai Lazarus Species, spesies yang sempat dianggap punah, tapi ternyata masih ada.
Saat spesies langka ditemukan, peneliti akan membantu menentukan status konservasinya berdasarkan standar International Union for Conservation of Nature (IUCN) dan daftar merah nasional.
Di sisi lain, tantangan konservasi juga datang dari faktor sosial dan ekonomi. Misalnya, penggunaan satwa tertentu untuk kebutuhan adat.
Menurut Ani, masyarakat sebenarnya punya kesadaran untuk menjaga alam. Namun, tekanan ekonomi sering membuat praktik tersebut tetap terjadi.
Karena itu, kemunculan satwa langka seharusnya tidak langsung dimaknai sebagai tanda keberhasilan konservasi. Justru, ini bisa menjadi sinyal bahwa ekosistem masih menghadapi tekanan.





