Presiden Prabowo Siapkan Strategi Ketahanan Energi Nasional, E20 hingga B50 Jadi Fokus

Presiden Prabowo Siapkan Strategi Ketahanan Energi Nasional, E20 hingga B50 Jadi Fokus

BicaraPlus – Presiden Prabowo Subianto membahas sejumlah strategi penguatan ketahanan energi nasional melalui pengembangan bahan bakar nabati dan peningkatan kapasitas cadangan minyak dalam negeri. Langkah ini disiapkan untuk mempercepat ketahanan energi dan mengurangi ketergantungan terhadap energi impor sekaligus mengantisipasi dampak ketidakpastian geopolitik global.

Pembahasan tersebut berlangsung dalam rapat terbatas bersama sejumlah menteri Kabinet Merah Putih di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (3/11/2026).

Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengatakan Presiden Prabowo memberikan perhatian khusus terhadap kesiapan implementasi program bioetanol E20 sebagai bagian dari upaya memperkuat kemandirian energi Indonesia.

Bahlil menjelaskan, pemerintah telah menyiapkan rencana strategis pengembangan bioetanol secara bertahap, mulai dari E20 hingga E50. Pelaksanaannya akan melibatkan koordinasi lintas kementerian, terutama Kementerian ESDM dan Kementerian Pertanian.

Kolaborasi tersebut diperlukan untuk memastikan ketersediaan bahan baku sekaligus kesiapan sektor energi dalam mendukung produksi bahan bakar nabati.

Selain bioetanol, pemerintah juga memastikan program biodiesel B50 tetap dipertahankan. Menurut Bahlil, keberlanjutan program tersebut penting untuk memperkuat ketahanan energi nasional di tengah dinamika geopolitik global yang belum menentu.

Presiden Prabowo Dorong Pengembangan Bioetanol E20 hingga E50

Pengembangan bioetanol menjadi salah satu agenda pemerintah dalam mendorong diversifikasi sumber energi. Melalui program E20 hingga E50, pemerintah menargetkan peningkatan pemanfaatan bahan bakar berbasis nabati sebagai alternatif energi fosil.

Kementerian ESDM bersama Kementerian Pertanian akan berkolaborasi dalam menyiapkan kebutuhan dari sisi hulu hingga implementasi di sektor energi.

Strategi ini juga menjadi bagian dari upaya memperkuat pemanfaatan sumber daya domestik dan mengurangi kerentanan Indonesia terhadap perubahan pasokan energi dunia.

Pemerintah Siapkan Storage Minyak, Target Cadangan hingga 60 Hari

Selain pengembangan energi berbasis nabati, pemerintah merencanakan pembangunan fasilitas penyimpanan minyak atau storage di sejumlah wilayah Sumatra.

Fasilitas tersebut disiapkan untuk meningkatkan kapasitas penyimpanan minyak mentah atau crude oil, khususnya ketika Indonesia melakukan impor minyak.

Bahlil menyampaikan bahwa pemerintah menargetkan kapasitas penyimpanan tersebut mampu menampung cadangan minyak untuk kebutuhan lebih dari 20 hari, dengan target pengembangan hingga 60 hari.

Pembangunan fasilitas ini diharapkan dapat memperkuat cadangan strategis nasional sekaligus meningkatkan fleksibilitas pemerintah dalam mengelola pasokan minyak di tengah gejolak pasar internasional.

Studi Kelayakan Rampung, Peninjauan Lokasi Dimulai Akhir 2026

Bahlil mengungkapkan, studi kelayakan atau feasibility study pembangunan fasilitas penyimpanan minyak tersebut telah rampung.

Pemerintah berencana memulai peninjauan sejumlah lokasi pada akhir 2026. Salah satu aspek yang menjadi perhatian utama adalah faktor keamanan dan keselamatan lingkungan.

Menurut Bahlil, penentuan lokasi harus mempertimbangkan potensi risiko bencana agar pembangunan fasilitas penyimpanan minyak tidak menimbulkan ancaman bagi masyarakat maupun lingkungan sekitar.

Aspek keselamatan menjadi pertimbangan penting mengingat fasilitas tersebut akan menyimpan komoditas energi dalam jumlah besar.

Ketahanan Energi Jadi Agenda Strategis Indonesia

Pengembangan bioetanol E20 hingga E50, keberlanjutan biodiesel B50, serta pembangunan fasilitas penyimpanan minyak menjadi bagian dari strategi pemerintah dalam memperkuat ketahanan energi nasional.

Melalui berbagai langkah tersebut, pemerintah berupaya memperluas diversifikasi sumber energi, meningkatkan kapasitas cadangan strategis, dan mengurangi kerentanan terhadap perubahan pasokan energi global.

Di tengah ketidakpastian geopolitik dan dinamika ekonomi dunia, penguatan infrastruktur energi serta pemanfaatan sumber daya domestik menjadi faktor penting untuk menjaga stabilitas pasokan dan mendukung keberlanjutan ekonomi Indonesia.

Bagikan