
BicaraPlus – Pope Leo XIV mulai menunjukkan sikap yang lebih tegas dalam menanggapi isu global, termasuk perang dan praktik yang ia sebut sebagai “neokolonialisme”.
Dalam pidatonya di Kamerun dan Aljazair pekan ini, Paus Leo memperingatkan bahwa dunia tengah “dihancurkan oleh segelintir tiran”. Ia juga mengkritik ketimpangan global serta pelanggaran hukum internasional oleh kekuatan yang dianggapnya bersifat neokolonial.
Sejumlah pengamat menilai pernyataan ini menandai perubahan signifikan dibandingkan awal masa kepemimpinannya. Dalam 10 bulan pertama, Paus Leo cenderung mengambil pendekatan yang lebih hati-hati.
Pengamat Vatikan John Thavis mengatakan Paus kini tampaknya merasa dunia membutuhkan kecaman yang lebih jelas terhadap ketidakadilan dan konflik.
Sementara Uskup John Stowe menilai pesan Paus memiliki dampak lebih kuat saat disampaikan di Afrika. Menurutnya, banyak komunitas di kawasan tersebut terdampak langsung oleh perang, kemiskinan, dan kekerasan.
Sikap Paus Leo ini memicu reaksi dari Presiden AS Donald Trump. Pada 12 April, Trump untuk pertama kalinya secara terbuka mengkritik Paus. Ia kemudian kembali melontarkan kritik pada 16 April, dengan menyebut Paus tidak memahami kebijakan luar negeri.
Pernyataan Trump disebut sebagai respons atas kritik Paus terhadap konflik yang melibatkan AS, Israel, dan Iran.
Secara historis, Vatikan cenderung menghindari kritik langsung dalam isu politik guna mempertahankan perannya sebagai mediator. Namun, cendekiawan Massimo Faggioli menilai Paus Leo mungkin ingin menghindari kontroversi masa lalu, seperti sikap Pope Pius XII yang dinilai kurang vokal saat Perang Dunia II.
Sebelum menjadi Paus, Leo—yang bernama asli Robert Prevost—pernah lama bertugas di Peru. Pengalaman tersebut disebut turut membentuk pandangannya terhadap konflik, kemiskinan, dan ketidakadilan global.
Pendahulunya, Pope Francis, juga dikenal vokal dalam isu kemanusiaan dan sempat memiliki perbedaan pandangan dengan Trump. Namun, sejumlah analis menilai pernyataan Paus Leo kali ini lebih lugas, menegaskan perannya yang semakin menonjol sebagai suara moral di panggung internasional.





