
BicaraPlus – Lalu lintas kapal di Selat Hormuz tetap berlangsung meski Angkatan Laut Amerika Serikat memberlakukan blokade di jalur strategis tersebut dalam konflik dengan Iran.
Sejak blokade dimulai pada 13 April pukul 17.30 waktu setempat, sejumlah kapal masih tercatat melintasi kawasan itu. Hingga 14 April pukul 20.10 GMT, total 25 kapal telah melewati selat, sementara 13 kapal lainnya masih berada di area tersebut.
Data tersebut dihimpun dari kantor berita Anadolu yang mengutip sumber terkait. Dalam periode itu, 14 kapal tercatat masuk ke Teluk Persia dan 7 kapal keluar dari selat.
Beberapa kapal tanker minyak juga tetap melintas. Di antaranya kapal berbendera Liberia Christianna, serta kapal tanker Rich Starry dan Murlikishan yang masuk daftar sanksi AS, dan kapal Peace Gulf berbendera Panama.
Saat melintasi selat, kapal-kapal tersebut sempat berhenti sebelum melanjutkan perjalanan mendekati area blokade di jalur antara Teluk Gwadar dan Ras al Hadd.
Selain kapal yang bergerak, ribuan kapal lainnya dilaporkan terdampak. Sekitar 2.000 kapal tertahan di Teluk Persia, sementara sekitar 400 kapal menunggu giliran untuk masuk melalui Selat Hormuz.
Data MarineTraffic juga menunjukkan sejumlah kapal yang dikenai sanksi AS tetap melintas di jalur tersebut.
Sementara itu, laporan TankerTraffic menyebut beberapa kapal diduga mengirimkan sinyal Sistem Identifikasi Otomatis (AIS) palsu untuk menyamarkan identitas mereka.
Blokade ini diberlakukan setelah pembicaraan antara Amerika Serikat dan Iran gagal. Presiden AS Donald Trump mengumumkan kebijakan tersebut yang mulai berlaku pada 14 April pukul 14.00 GMT.
Situasi ini menambah ketidakpastian bagi industri pelayaran dan energi. Sejumlah pelaku industri menyebut volume lalu lintas saat ini jauh menurun dibandingkan sebelum konflik meningkat pada akhir Februari lalu.





