Konflik Timur Tengah Guncang Asia-Pasifik, 8,8 Juta Orang Terancam Jatuh Miskin

1776347823982 images unsplash com photo 1513568720563 6a5b8c6caab3

BicaraPlus – Konflik di Timur Tengah mulai berdampak luas ke kawasan Asia-Pasifik. Lonjakan harga energi, pangan, dan pupuk memicu tekanan ekonomi di banyak negara.

United Nations Development Programme menyebut kawasan ini mengalami “guncangan langsung” akibat gangguan rantai pasok global.

Asisten Sekretaris Jenderal PBB, Kanni Wignaraja, mengatakan kenaikan harga bahan bakar dan biaya transportasi telah mendorong lonjakan biaya hidup.

“Biaya hidup dan produksi meningkat pesat, baik untuk rumah tangga maupun pelaku usaha,” ujarnya dalam keterangan, Kamis (16/4).

Menurutnya, seluruh negara di Asia-Pasifik terdampak, meski dengan tingkat berbeda. Negara yang lebih cepat beradaptasi dinilai mampu menekan dampak ekonomi.

Namun, tekanan tersebut tetap besar. Sekitar 8,8 juta orang diperkirakan berisiko jatuh ke dalam kemiskinan.

Laporan UNDP yang dirilis Selasa (14/4) mengungkap, ketergantungan tinggi kawasan ini terhadap energi impor menjadi salah satu faktor utama.

Lebih dari 80% minyak mentah dan gas alam cair (LNG) yang melewati Selat Hormuz dikirim ke Asia. Gangguan di jalur ini langsung memicu kenaikan harga energi.

Dampaknya merembet ke berbagai sektor, mulai dari transportasi, listrik, hingga harga makanan dan pupuk.

Dalam laporan tersebut, situasi paling berat diperkirakan terjadi di Iran. Lebih dari 5 juta orang di negara itu berpotensi jatuh ke dalam kemiskinan jika tekanan ekonomi berlanjut.

Secara keseluruhan, produk domestik bruto (PDB) kawasan Asia-Pasifik bahkan bisa turun hingga 299 miliar dolar AS jika konflik semakin memburuk.

UNDP juga memperingatkan pemerintah di kawasan akan menghadapi dilema kebijakan: antara menahan harga, membantu masyarakat, atau tetap menjaga anggaran untuk sektor penting seperti kesehatan dan pendidikan.

Saat ini, banyak negara masih mengandalkan langkah jangka pendek, seperti subsidi atau pemotongan pajak.

Namun ke depan, Wignaraja menekankan pentingnya strategi jangka panjang, termasuk memperkuat ketahanan energi melalui diversifikasi sumber dan transisi ke energi terbarukan.

Selain energi, kerentanan juga terjadi pada rantai pasok pangan dan pupuk. Negara-negara di kawasan didorong untuk membangun cadangan strategis dan memperkuat kerja sama regional guna melindungi kelompok paling rentan.

Bagikan