
BicaraPlus – Para ilmuwan di Tiongkok memperingatkan bahwa fenomena El Niño yang diperkirakan menguat tahun ini berpotensi meningkatkan permintaan global terhadap bahan bakar fosil. Kondisi ini dinilai bisa memperburuk krisis energi yang tengah terjadi di berbagai belahan dunia.
Badan Meteorologi Tiongkok, beberapa waktu lalu, memprediksi El Niño dengan intensitas moderat hingga kuat akan mulai berkembang dalam waktu dekat dan berlanjut hingga sisa tahun ini. Fenomena ini terjadi ketika suhu permukaan laut di wilayah Pasifik khatulistiwa bagian tengah dan timur meningkat setidaknya 0,5 derajat Celsius selama beberapa bulan berturut-turut.
El Niño sendiri merupakan siklus alami yang biasanya terjadi setiap dua hingga tujuh tahun sekali dan kerap memicu kenaikan suhu global. Dampaknya bisa beragam, mulai dari kekeringan ekstrem hingga curah hujan tinggi yang berujung banjir di sejumlah wilayah.
Kondisi tersebut berisiko mengganggu produksi listrik, khususnya di negara-negara yang bergantung pada tenaga air. Ketika produksi menurun, kebutuhan energi kemungkinan akan dialihkan ke sumber lain seperti minyak dan gas.
“El Niño dapat memberikan tekanan besar pada sektor energi. Wilayah yang bergantung pada tenaga air bisa terdampak signifikan, sehingga terpaksa meningkatkan penggunaan bahan bakar fosil sebagai alternatif,” ungkap Wang Yaqi, insinyur senior di Pusat Iklim Nasional China.
Menurut Wang, peningkatan penggunaan energi fosil tidak hanya berdampak pada naiknya emisi karbon, tetapi juga berpotensi mendorong kenaikan biaya impor energi. Hal ini dinilai dapat menciptakan tekanan tambahan bagi perekonomian global.
Ia juga menambahkan bahwa El Niño sering kali disertai dengan kombinasi cuaca ekstrem, seperti suhu tinggi, kekeringan, dan hujan lebat. “Kondisi ini dapat berdampak pada berbagai sektor, termasuk energi dan kesehatan masyarakat,” katanya.
Peringatan ini muncul di tengah kenaikan harga minyak global yang dipicu oleh konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah. Penutupan jalur pelayaran strategis seperti Selat Hormuz turut memperburuk ketidakpastian pasokan energi dunia.
Jika El Niño berdampak pada penurunan produksi listrik di wilayah seperti Asia Selatan, Asia Tenggara, dan sebagian Afrika, permintaan terhadap minyak dan gas diperkirakan akan meningkat. Kondisi ini berpotensi mendorong harga energi global semakin tinggi.
Meski demikian, para ahli mengingatkan bahwa risiko yang muncul bukan hanya berasal dari El Niño semata, melainkan kombinasi berbagai faktor. Dalam hal ini, El Niño kerap berperan sebagai pemicu yang memperkuat dampak yang sudah ada.
Sebagai catatan, El Niño sangat kuat terakhir terjadi pada 2015 dan berkontribusi terhadap rekor suhu global pada tahun berikutnya. Fenomena serupa yang berkembang beberapa tahun lalu juga turut mendorong kenaikan suhu rata-rata global.
Namun, Pusat Iklim Nasional China meminta publik untuk tidak berspekulasi berlebihan terkait potensi dampak El Niño tahun ini.
Peramal cuaca Chen Lijuan menyebut masih terlalu dini untuk memastikan apakah fenomena ini akan memicu rekor suhu global baru. “Dampak El Niño biasanya memiliki jeda waktu. Namun, risiko yang ditimbulkan memang meningkat,” ujarnya.





