
BicaraPlus – Galeri Indonesia Kaya kembali menghadirkan pertunjukan seni yang tidak hanya menghibur, tetapi juga sarat makna. Kali ini, panggung budaya tersebut menampilkan pertunjukan monolog bertajuk “Dapur Sumur Tutur”, sebuah karya reflektif yang mengangkat dinamika perempuan lintas generasi dalam bingkai tradisi dan perubahan zaman.
Diproduseri oleh Nosa Nurmanda dan disutradarai oleh Ben Bening, pertunjukan ini dibawakan secara memukau oleh Putri Ayudya aktris berbakat yang telah dua kali dinominasikan sebagai Pemeran Wanita Terbaik Festival Film Indonesia. Selama kurang lebih satu jam, penonton diajak menyelami kisah tiga generasi perempuan Jawa dalam satu keluarga melalui sudut pandang YangTi, Ibuk, dan Mbak.
Cerita berpusat pada momen sakral peringatan seribu hari wafatnya Eyang Kakung, yang menjadi ruang refleksi emosional tentang relasi keluarga, nilai budaya, hingga luka yang diwariskan antar generasi. Dengan pendekatan monolog yang imersif, pertunjukan ini menghadirkan pengalaman yang intim sekaligus menggugah pemikiran.
Program Director Galeri Indonesia Kaya, Renitasari Adrian, menyebut bahwa karya ini sejalan dengan komitmen mereka dalam menghadirkan pertunjukan yang relevan dengan kehidupan masyarakat. Ia menekankan bahwa cerita personal yang kuat mampu membuka ruang refleksi tentang peran perempuan dan perubahan nilai budaya yang terus berkembang.
Tak sekadar bercerita, “Dapur Sumur Tutur” juga mengangkat isu-isu aktual seperti generational trauma, sandwich generation, hingga ageism fenomena sosial yang semakin nyata di tengah perubahan struktur demografi. Dalam konteks ini, perempuan seringkali berada di garis depan sebagai penopang keluarga, baik secara emosional maupun ekonomi.
Putri Ayudya mengungkapkan bahwa karya ini lahir dari pengalaman personal serta riset mendalam tentang perempuan Jawa dan proses reparenting. Judul “Dapur Sumur Tutur” sendiri menjadi simbol transformasi peran perempuan dari ruang domestik menuju ruang ekspresi dan suara yang lebih luas.
Sementara itu, sang sutradara Ben Bening mengangkat pertanyaan kritis yang menjadi benang merah pertunjukan ini: apakah perempuan saat ini benar-benar telah merdeka sepenuhnya dalam menentukan pilihan hidupnya? Dari sisi artistik, pertunjukan ini diperkuat dengan komposisi musik oleh Taufan Iskandar, tata cahaya dramatis, serta visual multimedia yang memperkaya pengalaman penonton. Semua elemen tersebut dirancang untuk memperdalam emosi dan mempertegas dinamika antar generasi yang ditampilkan di atas panggung.
“Dapur Sumur Tutur” sekaligus menjadi penutup rangkaian pertunjukan seni akhir pekan sepanjang April di Galeri Indonesia Kaya. Sebelumnya, berbagai karya seperti “Bukan Kartini”, “Makkunrai Nusanusa”, hingga “Close Friends” telah lebih dulu memikat perhatian publik.
Sebagai ruang publik berbasis digital, Galeri Indonesia Kaya terus konsisten menghadirkan pertunjukan seni berkualitas secara gratis bagi masyarakat. Dengan lebih dari satu juta pengunjung sejak berdiri, tempat ini menjadi bukti bahwa seni dan budaya tetap relevan terutama ketika dikemas dengan pendekatan yang dekat dengan realitas kehidupan masa kini.





