
BicaraPlus – Keuntungan Danantara mulai menjadi sorotan publik seiring transformasi besar pengelolaan aset negara yang sebelumnya berada di bawah pengawasan Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Jika selama bertahun-tahun masyarakat dapat melihat secara terbuka laporan laba BUMN, dividen yang disetorkan ke negara, hingga kontribusinya terhadap APBN, kini perhatian beralih kepada Danantara yang mengelola aset negara bernilai lebih dari Rp14.000 triliun.
Pertanyaan yang mulai muncul di ruang publik cukup sederhana namun penting: apakah masyarakat nantinya juga akan memperoleh informasi yang transparan mengenai keuntungan Danantara sebagaimana laporan kinerja BUMN yang selama ini dipublikasikan secara rutin.
Keuntungan Danantara Jadi Ukuran Baru Kinerja Aset Negara
Selama proses transformasi BUMN dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah menjadikan laba perusahaan negara sebagai salah satu indikator utama keberhasilan pengelolaan aset publik. Data mengenai pendapatan, keuntungan, hingga dividen secara berkala diumumkan kepada masyarakat sebagai bentuk akuntabilitas dan transparansi.
Ketika pandemi Covid-19 menghantam perekonomian nasional pada 2020, laba bersih konsolidasi BUMN tercatat hanya sekitar Rp13 triliun. Kondisi tersebut mencerminkan tekanan berat yang dihadapi perusahaan-perusahaan pelat merah di tengah perlambatan ekonomi global.
Namun dalam waktu relatif singkat, kinerja BUMN berhasil mengalami pemulihan signifikan. Pada 2021, laba bersih konsolidasi BUMN melonjak menjadi Rp126 triliun atau tumbuh sekitar 869 persen dibanding tahun sebelumnya. Pencapaian tersebut menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah transformasi BUMN modern.
Tidak hanya dari sisi laba, pendapatan BUMN pada tahun yang sama mencapai Rp1.983 triliun. Kontribusi kepada negara melalui pajak, dividen, dan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) mencapai Rp371 triliun, menunjukkan peran strategis BUMN sebagai penggerak ekonomi nasional sekaligus sumber penerimaan negara.
Laba BUMN Pernah Tembus Rp300 Triliun
Tren positif tersebut berlanjut pada tahun-tahun berikutnya. Pada 2022, laba gabungan BUMN menembus angka lebih dari Rp300 triliun. Sementara pada 2023, laba konsolidasi BUMN tercatat berada di kisaran Rp292 triliun. Jika dibandingkan dengan posisi tahun 2020, pertumbuhan laba BUMN mencapai lebih dari 2.100 persen dalam kurun waktu tiga tahun.
Dari sisi dividen, kontribusi kepada negara juga meningkat secara signifikan. Berdasarkan data yang tercantum dalam dokumen tersebut, total dividen BUMN kepada negara pada tahun anggaran 2023 mencapai Rp82,06 triliun atau meningkat lebih dari 102 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Kontributor terbesar dividen berasal dari sejumlah perusahaan strategis negara, antara lain PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, PT Pertamina (Persero), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk, dan PT Mineral Industri Indonesia (Persero).
Aset Rp14.000 Triliun Belum Cukup Jadi Tolok Ukur
Besarnya aset yang kini berada dalam ekosistem Danantara memang menunjukkan potensi ekonomi yang luar biasa. Nilai aset yang disebut mencapai lebih dari Rp14.000 triliun menjadikan Danantara sebagai salah satu pengelola aset negara terbesar di kawasan.
Namun dalam dunia investasi, ukuran aset bukanlah satu-satunya parameter keberhasilan. Investor global umumnya lebih memperhatikan kemampuan sebuah lembaga dalam menghasilkan keuntungan, meningkatkan nilai aset, serta memberikan imbal hasil yang berkelanjutan kepada pemilik modal.
Dalam konteks Danantara, pemilik modal tersebut adalah negara dan rakyat Indonesia. Karena itu, publik mulai menunggu indikator yang selama ini menjadi tolok ukur keberhasilan BUMN, yakni laba dan keuntungan investasi yang dihasilkan dari pengelolaan aset negara.
Transparansi Keuntungan Danantara Dinilai Penting
Pengamat tata kelola investasi menilai transparansi merupakan fondasi utama bagi lembaga pengelola aset negara. Berbagai sovereign wealth fund kelas dunia secara rutin mempublikasikan laporan kinerja investasi mereka, termasuk pertumbuhan aset, tingkat keuntungan, strategi investasi, hingga kontribusinya terhadap ekonomi nasional.
Keterbukaan tersebut tidak hanya meningkatkan kepercayaan publik, tetapi juga memperkuat kredibilitas lembaga di mata investor global. Danantara memang masih berada dalam tahap awal pengembangan dan konsolidasi. Namun seiring meningkatnya skala aset yang dikelola, ekspektasi publik terhadap transparansi kinerja juga akan semakin tinggi.
Pada akhirnya, masyarakat tidak hanya ingin mengetahui seberapa besar aset yang berada di bawah pengelolaan Danantara. Yang lebih penting adalah berapa keuntungan yang berhasil dihasilkan, bagaimana kontribusinya terhadap penerimaan negara, serta apakah model pengelolaan baru ini mampu menciptakan nilai tambah yang lebih besar dibandingkan era sebelumnya.
Dalam dunia investasi, aset menunjukkan skala kekuatan sebuah lembaga. Namun keuntungan menunjukkan kualitas pengelolaannya. Dan hingga saat ini, angka keuntungan Danantara masih menjadi salah satu data yang paling dinantikan publik Indonesia.





