
BicaraPlus – China kembali menunjukkan ambisi besarnya dalam memimpin transisi energi global. Pemerintah melalui National Energy Administration (NEA) resmi menggelar pertemuan strategis untuk mempercepat pengembangan program percontohan hidrogen di berbagai wilayah sebagai bagian dari agenda besar mendorong industri masa depan dan mempercepat transformasi energi hijau.
Langkah ini menjadi sinyal kuat bahwa hidrogen hijau kini menjadi salah satu pilar utama strategi energi China 2026–2030. Dalam pertemuan tersebut, otoritas energi China memetakan progres proyek yang sedang berjalan, mengidentifikasi hambatan utama, serta menetapkan prioritas untuk fase pengembangan berikutnya.
Sebelumnya, pada Desember 2025, China telah mengumumkan gelombang pertama 41 proyek percontohan hidrogen nasional. Portofolio proyek tersebut mencakup pembangunan pipa hidrogen jarak jauh skala besar di Inner Mongolia, integrasi pembangkit listrik tenaga angin dan surya untuk produksi hidrogen, hingga proyek green ammonia yang diproyeksikan menjadi tulang punggung industri bahan bakar rendah karbon dunia.
Inner Mongolia Jadi Episentrum Hidrogen Hijau
Inner Mongolia muncul sebagai pusat penting dalam strategi hidrogen China. Kawasan ini memiliki kapasitas energi angin dan surya yang sangat besar, sehingga ideal untuk pengembangan produksi green hydrogen berbasis renewable energy. Proyek pipa hidrogen lintas wilayah yang tengah dibangun bahkan dinilai berpotensi menjadi model distribusi energi bersih terbesar di Asia, menghubungkan pusat produksi energi terbarukan dengan kawasan industri utama di Beijing-Tianjin-Hebei.
Bagi pasar global, langkah ini memperlihatkan bagaimana China tidak hanya fokus pada elektrifikasi kendaraan, tetapi juga membangun ekosistem hidrogen dari hulu ke hilir—mulai dari produksi, penyimpanan, transportasi, hingga aplikasi industri.
Green Ammonia Jadi Senjata Baru China
Yang menarik, proyek-proyek baru tersebut tidak hanya fokus pada hidrogen murni, tetapi juga pengembangan green ammonia dan green methanol, dua komoditas yang kini menjadi sorotan dunia untuk dekarbonisasi sektor pelayaran, pupuk, dan industri berat.
Penguatan green ammonia membuka peluang besar bagi China untuk menjadi pemain dominan dalam rantai pasok bahan bakar rendah emisi global, terutama saat Eropa, Jepang, dan Korea Selatan meningkatkan permintaan energi bersih untuk industri strategis mereka.
Akselerasi proyek hidrogen ini juga memiliki dampak geopolitik yang besar. Ketika banyak negara masih berada pada tahap regulasi dan studi kelayakan, China sudah masuk fase implementasi masif.
Strategi ini berpotensi memperkuat posisi Beijing dalam : dominasi teknologi elektroliser, ekspor green ammonia, infrastruktur pipa hidrogen, sertifikasi energi hijau, perdagangan karbon lintas negara. Jika proyek berjalan sesuai roadmap, China berpeluang menjadi benchmark global dalam ekonomi hidrogen dalam lima tahun ke depan.





