
BicaraPlus.id – Memaknai kemerdekaan tidak selalu harus melalui kisah kepahlawanan di medan perang. Semangat perjuangan juga dapat hadir dalam hal-hal sederhana, seperti menjaga keluarga, mempertahankan nilai kehidupan, merawat kenangan, serta mencintai sesama.
Pesan tersebut menjadi benang merah pertunjukan Bulang Trang Nona karya Teater Pandora yang dihadirkan Galeri Indonesia Kaya dalam rangkaian program seni pertunjukan menyambut bulan kemerdekaan.
Pertunjukan yang digelar pada 8 Agustus 2026 ini membawa penonton menyelami kisah cinta, keluarga, persahabatan, dan kenangan melalui perspektif seorang pejuang muda. Melalui kisah personal tersebut, Bulang Trang Nona mengajak penonton melihat kembali arti patriotisme dalam kehidupan sehari-hari.
Bulang Trang Nona, Kisah Patriotisme dari Ambon
Disutradarai Yoga Mohamad, Bulang Trang Nona yang dalam bahasa Ambon berarti “Terang Bulan, Nona” mengisahkan perjalanan ingatan seorang pejuang muda bernama Wilson. Kisah bermula ketika Wilson menjalankan tugas sebagai pejuang di Irian Barat. Di tengah perjuangannya, ia mulai kehilangan serpihan ingatan akibat penyakit malaria yang dideritanya.
Ingatan Wilson kemudian membawa penonton kembali ke masa kecilnya di Ambon pada 1936. Saat itu, ia tinggal bersama Mama dan tiga orang tantenya. Dari ruang memori tersebut, penonton diajak mengikuti berbagai pengalaman yang membentuk kehidupan Wilson, mulai dari keluarga, persahabatan hingga kisah cinta.
Pendekatan tersebut membuat Bulang Trang Nona tidak hanya menjadi pertunjukan mengenai perjuangan seorang pejuang, tetapi juga menjadi refleksi mengenai manusia dan hal-hal yang membuat hidup memiliki makna. Renitasari Adrian, Program Director Indonesia Kaya, mengatakan bahwa rangkaian pertunjukan di bulan kemerdekaan dirancang untuk menghadirkan perspektif yang lebih luas mengenai semangat perjuangan.
“Di bulan kemerdekaan, kami ingin mengajak masyarakat memaknai semangat perjuangan dari perspektif yang berbeda. Melalui beragam pertunjukan yang kami hadirkan dalam program Prime Time di Galeri Indonesia Kaya, kami berharap masyarakat dapat melihat bahwa semangat mencintai bangsa tidak hanya lahir dari medan perjuangan, tetapi juga dari kehidupan sehari-hari,” ujarnya.
Menurut Renitasari, Bulang Trang Nona menunjukkan bagaimana keluarga, cinta, dan nilai-nilai yang terus dijaga dapat menjadi bentuk patriotisme yang tetap relevan hingga sekarang.
Pesta Trang Bulan Bawa Penonton Masuk ke Suasana Ambon
Pengalaman penonton terhadap Bulang Trang Nona bahkan dimulai sebelum pertunjukan utama berlangsung. Teater Pandora menghadirkan pengalaman imersif bertajuk Pesta Trang Bulan di area selasar Galeri Indonesia Kaya. Konsep ini dirancang untuk membawa penonton memasuki atmosfer cerita sebelum menyaksikan pertunjukan di auditorium.
Suasana pesta dansa muda-mudi dihadirkan melalui berbagai elemen interaktif. Penonton juga dapat menikmati iringan musik dari Orkes Antariksa, mengikuti lomba pantun rayu, serta berinteraksi dengan elemen-elemen pertunjukan yang menggambarkan suasana Ambon pada masa tersebut.
Setelah mengikuti pengalaman imersif itu, penonton kemudian memasuki auditorium untuk menyaksikan kisah Wilson dalam pertunjukan utama. Pendekatan tersebut membuat batas antara penonton dan cerita menjadi lebih cair. Penonton tidak hanya menyaksikan sebuah lakon, tetapi terlebih dahulu diajak merasakan atmosfer dunia yang menjadi latar cerita.
Ketika Patriotisme Dimaknai dari Kehidupan Sehari-hari
Menggunakan pendekatan memory play, Bulang Trang Nona memadukan permainan realis dengan narasi yang bergerak melalui ingatan tokoh utama.
Serpihan-serpihan memori Wilson menjadi pintu masuk untuk membicarakan makna perjuangan yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat.
Perjuangan tidak selalu berarti mengangkat senjata atau berada di medan perang. Dalam konteks kehidupan sehari-hari, perjuangan dapat muncul dalam bentuk kesetiaan menjaga keluarga, keberanian mempertahankan nilai-nilai kehidupan, mencintai orang lain, serta bertahan menghadapi berbagai tantangan.
Selama lebih dari 60 menit, penonton diajak mengikuti perjalanan emosional Wilson melalui perpaduan drama, musik, tata artistik, dan alur cerita yang dibangun dari serpihan ingatan.
Yoga Mohamad mengatakan, pertunjukan tersebut ingin mengajak masyarakat melihat patriotisme dari sudut pandang yang lebih luas.
“Melalui pertunjukan Bulang Trang, Nona, kami ingin mengajak penonton melihat bahwa menjaga keluarga, merawat kenangan, mencintai sesama, dan terus bertahan menghadapi berbagai tantangan hidup juga merupakan bentuk patriotisme. Sebab pada akhirnya, patriotisme sejatinya adalah cinta,” kata Yoga.
Kolaborasi Ketujuh Teater Pandora dan Galeri Indonesia Kaya

Bulang Trang Nona tahun ini juga menjadi kolaborasi ketujuh antara Teater Pandora dan Galeri Indonesia Kaya. Sebelumnya, kedua pihak telah menghadirkan sejumlah produksi, yaitu Perkawinan pada 2016, Seruni pada 2017, Sementara Tetangga pada 2018, Bulang Trang, Nona pada 2019, Kerlip pada 2023, dan Kurasi di Muka Rumah pada 2025.
Teater Pandora didirikan pada 2014 oleh mahasiswa dan alumni Universitas Indonesia dari berbagai fakultas. Selama lebih dari satu dekade berkarya, kelompok teater independen tersebut telah menghasilkan lebih dari 30 produksi pementasan.
Berbagai karya Teater Pandora telah disaksikan lebih dari 15.000 penonton, baik melalui panggung konvensional maupun nonkonvensional.
Galeri Indonesia Kaya Hadirkan Program Seni Sepanjang Agustus
Selain Bulang Trang Nona, Galeri Indonesia Kaya juga menghadirkan berbagai program seni pertunjukan dengan tema perjuangan sepanjang Agustus 2026.
Pada 8 Agustus, penikmat seni juga dapat menyaksikan Uji Pentas Kelas Tari Rapa’i Geleng yang menampilkan hasil pembelajaran peserta setelah mengikuti kelas tari selama tiga hari bersama Gema Citra Nusantara.
Mengangkat salah satu tari tradisional Aceh, para peserta memadukan gerak, syair, dan tabuhan rapa’i sebagai simbol kebersamaan dan kekompakan.
Rangkaian program bulan kemerdekaan tersebut sebelumnya dibuka melalui pementasan Kodrat oleh Gigi Art of Dance pada 1 Agustus. Pertunjukan tersebut mengangkat semangat perjuangan perempuan melalui pendidikan, pemikiran, dan keteguhan hati.
Program selanjutnya akan menghadirkan Kidung Bahaduri pada 15 Agustus, Sangkala 9/10 oleh Teater Abnon pada 22 Agustus, serta Sumpah Pejuang oleh Perkumpulan Kesenian Miss Tjitjih 1928 pada 29 Agustus.
Beragam pertunjukan tersebut menjadi bagian dari upaya Galeri Indonesia Kaya menghadirkan berbagai perspektif mengenai perjuangan sekaligus memberikan ruang bagi seniman Indonesia untuk terus berkarya.
Galeri Indonesia Kaya dan Upaya Merawat Budaya Indonesia
Galeri Indonesia Kaya merupakan ruang publik berbasis digital yang didedikasikan untuk masyarakat dan dunia seni pertunjukan Indonesia sebagai bagian dari komitmen Bakti Budaya Djarum Foundation dalam memperkenalkan dan melestarikan kebudayaan Indonesia.
Berlokasi di West Mall Grand Indonesia lantai 8, Galeri Indonesia Kaya memadukan konsep edukasi dengan teknologi digital multimedia untuk memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia, khususnya kepada generasi muda.
Sejak diresmikan pada 10 Oktober 2013, Galeri Indonesia Kaya telah dikunjungi lebih dari satu juta pengunjung dan menyelenggarakan lebih dari 2.500 pertunjukan. Lebih dari 800 pekerja seni juga telah terlibat dalam berbagai kegiatan, mulai dari tari, teater, teater musikal, monolog, musik, apresiasi sastra hingga kunjungan budaya.
Galeri Indonesia Kaya memiliki luas sekitar 635 meter persegi dengan auditorium berkapasitas 150 penonton. Ruang tersebut dilengkapi berbagai fasilitas modern yang dapat digunakan untuk menampilkan kesenian Indonesia dan kegiatan lainnya secara gratis.
Konsep ruangnya juga memadukan unsur budaya Indonesia dengan teknologi multimedia. Sejumlah aplikasi interaktif seperti Bersatu Padu, Selaras Seirama, Sajian Rasa, Arundaya, Cerita Kita, Arungi, dan Pesona Alam menghadirkan pengalaman berbeda bagi pengunjung.
Melalui seni pertunjukan seperti Bulang Trang Nona, pesan mengenai cinta terhadap Indonesia tidak hanya disampaikan melalui narasi sejarah, tetapi juga melalui cerita manusia yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Pada akhirnya, kemerdekaan bukan hanya tentang mengenang perjuangan masa lalu. Kemerdekaan juga menjadi momentum untuk menjaga nilai, mencintai sesama, merawat budaya, dan memastikan semangat perjuangan terus hidup dalam kehidupan generasi berikutnya. Cinta budaya adalah bagian dari cinta Indonesia.





