
BicaraPlus – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkap jejak Danau Bandung Purba yang berada di bawah kawasan Cekungan Bandung. Hasil penelitian geologi menunjukkan, endapan bekas danau purba tersebut masih tersimpan di bawah permukaan dan memiliki karakter material yang dapat memengaruhi respons tanah ketika terjadi gempa bumi.
Peneliti Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN, Edi Hidayat, mengatakan keberadaan Danau Bandung Purba telah dibuktikan melalui berbagai penelitian geologi, termasuk pengeboran yang menemukan lapisan endapan danau serta rawa. Endapan tersebut terbentuk melalui proses geologi selama puluhan ribu tahun. Kondisi ini membuat karakter bawah permukaan Cekungan Bandung berbeda dengan batuan keras yang berada di sekitar wilayah tersebut.
Danau Bandung Purba Terbentuk Akibat Aktivitas Gunung Sunda
Menurut Edi, sejarah terbentuknya Danau Bandung Purba berkaitan erat dengan aktivitas vulkanik Gunung Sunda. Material hasil letusan gunung tersebut membendung aliran Sungai Citarum purba sehingga air menggenangi Cekungan Bandung.
Danau Bandung Purba itu diperkirakan mulai terbentuk sekitar 90 ribu tahun lalu dan bertahan hingga sekitar 16 ribu tahun lalu. “Letusan gunung itu membendung sungai yang ada di tengah Danau Bandung. Aliran air terus menerus ada, menggenang seluruh dataran Bandung, menjadi sebuah danau,” ujar Edi, Kamis (20/8/2026).
Dalam perjalanan waktu, air Danau Bandung Purba kemudian menemukan jalur keluar melalui struktur rekahan batuan di kawasan yang kini dikenal sebagai Curug Jompong.
Proses erosi dan berbagai faktor alam lainnya secara bertahap menyebabkan volume air menyusut hingga membentuk bentang Cekungan Bandung seperti yang dikenal saat ini. Namun, hilangnya danau tidak berarti seluruh material yang dahulu berada di dasar danau ikut menghilang.
Endapan Danau Bandung Purba Masih Ada di Bawah Permukaan
Hasil pengeboran menunjukkan adanya sejumlah lapisan material di bawah Cekungan Danau Bandung Purba, antara lain endapan rawa kaya material organik, lapisan lempung, endapan vulkanik, dan sisipan pasir.
Sebagian material tersebut belum mengalami proses litifikasi, konsolidasi, dan pemadatan secara sempurna. Akibatnya, lapisan bawah permukaan di sejumlah lokasi relatif lebih lunak dibandingkan batuan keras di sekitar cekungan.
Edi mengibaratkan sebagian lapisan tersebut seperti agar-agar. Permukaan tanah yang dihuni masyarakat saat ini memang terlihat keras, tetapi di bawahnya masih terdapat lapisan endapan yang relatif lunak dan belum terkonsolidasi secara sempurna.
“Posisi endapan ini sebenarnya sekarang belum terlitifikasi, belum terkompaksi dan terkonsolidasi dengan baik. Kalau diibaratkan seperti agar-agar, sebagian masih lunak,” jelasnya. Kondisi tersebut menjadi perhatian dalam kajian risiko gempa bumi di Bandung.
Endapan Lunak Bisa Memperkuat Guncangan Gempa

Perbedaan karakter antara batuan keras di sekitar Cekungan Bandung dengan endapan yang lebih lunak di bagian tengah dapat menimbulkan fenomena amplifikasi gempa. Amplifikasi merupakan kondisi ketika guncangan gempa dapat mengalami penguatan akibat karakter lapisan tanah yang dilalui gelombang seismik.
Menurut Edi, kondisi Cekungan Bandung membuat risiko gempa tidak cukup dianalisis hanya berdasarkan lokasi sumber gempa. Karakteristik tanah dan struktur geologi yang menerima gelombang gempa juga perlu diperhitungkan.
“Cekungan Bandung ini hampir seluruh bagian dasar dan sekelilingnya disusun batuan-batuan keras dari produk gunung api dan batuan sedimen yang jauh lebih tua, sementara di tengahnya adalah batuan yang masih relatif lunak dengan umur yang jauh lebih muda. Kalau dikasih getaran, ada efek namanya amplifikasi,” katanya.
Kondisi ini menjadi penting karena Kota Bandung dan kawasan metropolitan di sekitarnya telah berkembang menjadi wilayah dengan kepadatan penduduk, bangunan, jalan, dan infrastruktur yang tinggi.
Sesar Lembang Jadi Salah Satu Perhatian
Risiko kegempaan di Bandung juga berkaitan dengan keberadaan sejumlah struktur sesar di sekitar dan bawah Cekungan Bandung.
Salah satu yang menjadi perhatian adalah Sesar Lembang. Menurut Edi, sesar tersebut membentang sekitar 29 kilometer dengan arah barat–timur dan berada sekitar 10 kilometer di utara Kota Bandung.
Selain Sesar Lembang, penelitian geofisika juga mengindikasikan keberadaan patahan lain di bawah Cekungan Bandung yang tidak seluruhnya dapat diamati secara langsung di permukaan.
“Ini yang menjadi perhatian khusus karena Sesar Lembang paling dekat dengan Bandung. Sementara Bandung ini adalah danau purba yang kalau bergetar ada efek amplifikasinya,” ujar Edi.
Dengan demikian, potensi dampak gempa di Bandung dipengaruhi oleh dua aspek penting, yakni sumber gempa dan kondisi geologi bawah permukaan.
Ada Potensi Likuifaksi
Selain amplifikasi, keberadaan lapisan pasir dan air tanah di dalam endapan Danau Bandung Purba juga menjadi perhatian dalam kajian kebencanaan.
Lapisan pasir yang memiliki porositas tinggi, terutama ketika berada dalam kondisi jenuh air, dapat mengalami perubahan perilaku ketika menerima tekanan akibat guncangan gempa.
Kondisi tersebut berkaitan dengan potensi likuifaksi, yakni fenomena ketika tanah berbutir seperti pasir kehilangan sebagian kekuatannya akibat meningkatnya tekanan air pori saat mengalami guncangan.
Edi menjelaskan, kondisi geologi Cekungan Bandung memiliki sejumlah faktor yang perlu dikaji terkait potensi tersebut. Namun, ia tidak menyamakan potensi likuifaksi di Bandung dengan peristiwa likuifaksi berskala besar seperti yang pernah terjadi di Palu, Sulawesi Tengah.
Karena itu, keberadaan lapisan pasir dan air tanah jenuh perlu menjadi bagian dari kajian risiko gempa secara lebih detail, khususnya di kawasan yang memiliki karakter endapan berbeda.
Pembangunan Bandung Perlu Memperhatikan Kondisi Geologi
Pertumbuhan kawasan perkotaan di atas Cekungan Bandung membuat pemahaman mengenai kondisi bawah permukaan semakin penting.
Bangunan dan infrastruktur yang berdiri di atas material dengan karakter berbeda dapat memberikan respons yang berbeda ketika terjadi gempa. Karena itu, aspek geologi perlu berjalan beriringan dengan penerapan standar teknis bangunan tahan gempa.
“Pembangunan di Bandung ini harus melihat kode bangunan. Harus diperhatikan kekuatan secara tekniknya seperti apa, kalau ada gempa besar bagaimana bangunannya,” tegas Edi.
Menurutnya, informasi mengenai Danau Bandung Purba tidak seharusnya hanya dipandang sebagai bagian dari sejarah geologi. Jejak tersebut dapat menjadi informasi penting untuk memahami tingkat kerentanan kawasan Bandung terhadap berbagai bencana geologi.
Mitigasi Jadi Kunci Mengurangi Risiko
Edi menegaskan bahwa risiko bencana tidak hanya ditentukan oleh seberapa besar gempa yang terjadi, tetapi juga oleh kondisi wilayah yang menerima guncangan.
Cekungan Bandung memiliki karakter geologi yang kompleks. Selain gempa bumi dan potensi likuifaksi, kawasan ini juga memiliki kerentanan terhadap penurunan tanah serta longsor di bagian batas cekungan.
“Cekungan Bandung ini rentan terhadap bencana geologi, terutama gempa bumi, likuifaksi, penurunan tanah dan longsor di bagian batas cekungan,” kata Edi.
Karena itu, mitigasi perlu dilakukan melalui pendekatan struktural dan nonstruktural. Penguatan bangunan, penerapan standar konstruksi tahan gempa, pemetaan kondisi bawah permukaan, serta peningkatan literasi kebencanaan masyarakat menjadi bagian penting dalam mengurangi risiko.
Jejak Danau Bandung Purba pada akhirnya bukan sekadar cerita tentang masa lalu. Lapisan yang tersimpan di bawah Cekungan Bandung menjadi bagian penting untuk memahami bagaimana kawasan tersebut dapat merespons ancaman gempa dan bencana geologi di masa depan.





