
BicaraPlus – Anggaran Pelatihan KDMP menjadi perhatian publik setelah Anggota Komisi I DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, Mayjen TNI (Purn.) TB Hasanuddin, mengungkap estimasi biaya pelatihan calon manajer Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) yang mencapai sekitar Rp1,59 triliun. Besarnya anggaran tersebut dinilai perlu dievaluasi, terlebih setelah muncul laporan mengenai meninggalnya lima peserta selama mengikuti latihan dasar kemiliteran (Latsarmil).
TB Hasanuddin mempertanyakan urgensi pelaksanaan latihan dasar kemiliteran bagi calon manajer koperasi. Menurutnya, tugas utama seorang manajer koperasi lebih membutuhkan kompetensi di bidang manajemen bisnis, tata kelola organisasi, keuangan, pemasaran, digitalisasi, hingga pengembangan usaha desa dibandingkan pelatihan fisik bergaya militer.
Ia menilai pemerintah sebaiknya memfokuskan seluruh anggaran pada peningkatan kualitas sumber daya manusia yang berkaitan langsung dengan pengelolaan koperasi agar tujuan pembentukan Koperasi Desa Merah Putih dapat tercapai secara optimal.
Rincian Anggaran Pelatihan KDMP
Dalam keterangannya, TB Hasanuddin menjelaskan bahwa biaya latihan dasar kemiliteran diperkirakan mencapai Rp30 juta untuk setiap peserta.
Sementara itu, materi pembelajaran manajemen koperasi diperkirakan menghabiskan Rp15 juta per peserta. Dengan total peserta sebanyak 35.476 orang, maka perhitungannya adalah sebagai berikut:
- Biaya Latsarmil: Rp30 juta × 35.476 peserta = Rp1,064 triliun
- Biaya pelatihan manajemen: Rp15 juta × 35.476 peserta = Rp532,1 miliar
- Total estimasi Anggaran Pelatihan KDMP mencapai sekitar Rp1,596 triliun atau dibulatkan menjadi Rp1,59 triliun.
Menurut TB Hasanuddin, apabila komponen latihan dasar kemiliteran dihapus, pemerintah berpotensi menghemat lebih dari Rp1 triliun yang kemudian dapat dialihkan untuk peningkatan kualitas pendidikan koperasi, digitalisasi sistem usaha desa, pendampingan bisnis, hingga penguatan modal usaha masyarakat.
Latsarmil Dinilai Tidak Relevan

TB Hasanuddin menegaskan bahwa calon manajer koperasi membutuhkan kemampuan profesional yang sesuai dengan tantangan dunia usaha modern. Materi seperti penyusunan laporan keuangan, pengembangan bisnis, pemasaran digital, pengelolaan rantai pasok, strategi investasi, hingga kepemimpinan organisasi dinilai jauh lebih penting dibandingkan latihan fisik yang bersifat militer.
Menurutnya, keberhasilan program Koperasi Desa Merah Putih akan lebih ditentukan oleh kualitas pengelolaan usaha daripada kemampuan fisik para manajernya. Sorotan terhadap Anggaran Pelatihan KDMP semakin menguat setelah dilaporkan terdapat lima peserta yang meninggal dunia selama mengikuti program latihan dasar kemiliteran.
Kasus tersebut memunculkan berbagai respons dari masyarakat sipil maupun kalangan legislatif. Sejumlah organisasi masyarakat mendesak pemerintah melakukan investigasi secara menyeluruh terhadap penyebab meninggalnya para peserta.
Mereka meminta evaluasi dilakukan terhadap seluruh aspek pelaksanaan pelatihan, mulai dari pemeriksaan kesehatan peserta, metode latihan, pengawasan instruktur, hingga standar keselamatan yang diterapkan selama kegiatan berlangsung.
Berbagai pihak menilai keselamatan peserta harus menjadi prioritas utama dalam setiap program pemerintah, terlebih apabila melibatkan puluhan ribu orang dari berbagai daerah.
Pemerintah Diminta Melakukan Evaluasi Menyeluruh
Selain mengevaluasi aspek keselamatan pelaksanaan Pelatihan KDMP, DPR juga meminta pemerintah melakukan kajian ulang terhadap efektivitas penggunaan anggaran dalam program pelatihan tersebut.
Dengan nilai anggaran yang mencapai hampir Rp1,6 triliun, pemerintah dinilai perlu memastikan setiap rupiah yang digunakan benar-benar memberikan manfaat nyata terhadap peningkatan kualitas pengelola koperasi.
Evaluasi tersebut juga penting agar program Koperasi Desa Merah Putih tetap mampu mencapai tujuan utamanya, yakni memperkuat ekonomi desa, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, dan membangun koperasi yang profesional serta berkelanjutan.
Ke depan, DPR berharap materi pelatihan lebih difokuskan pada peningkatan kompetensi manajerial, kewirausahaan, transformasi digital, tata kelola koperasi modern, serta pengembangan bisnis desa sehingga investasi anggaran negara dapat memberikan dampak ekonomi yang lebih besar.
Dengan besarnya Anggaran Pelatihan KDMP dan munculnya berbagai kritik terhadap pelaksanaan latihan dasar kemiliteran, evaluasi menyeluruh diharapkan menjadi langkah penting untuk memastikan program strategis nasional tersebut berjalan secara efektif, efisien, dan mengutamakan keselamatan seluruh peserta.





