Yashinta Sekarwangi & DPD RI Perkuat Gerakan Anti Bullying di Yogyakarta Lewat Youth Talks 2025

WhatsApp Image 2025 12 24 at 16.08.21

Bicaraplus – Upaya menghadirkan ruang aman bagi generasi muda terus diperkuat. Anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI), R. A. Yashinta Sekarwangi Mega, berkolaborasi dengan Generasi Anti Kekerasan menggelar Youth Talks 2025 bertema “Mewujudkan Yogyakarta yang Aman, Inklusif, dan Bebas Perundungan” pada Selasa (23/12). Agenda ini menjadi forum dialog, advokasi, sekaligus penguatan gerakan anti bullying di kalangan pemuda.

Yashinta menegaskan bahwa pemerintah sejatinya telah menyiapkan berbagai program perlindungan anak dan remaja. Namun, tantangan terbesar adalah minimnya sosialisasi sehingga manfaatnya belum sepenuhnya dirasakan masyarakat. Karena itu, ia menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor.

“Di era modern ini, kolaborasi pemerintah, stakeholder, dan masyarakat adalah kunci. Remaja semakin rentan terhadap berbagai isu akibat derasnya arus informasi dan dinamika sosial,” tegasnya.

Dengan mengusung tagline “Stop Bullying, Start Loving”, kegiatan ini diikuti 60 peserta dari 15 komunitas yang terdiri dari pelajar, mahasiswa, serta pegiat isu sosial. Peserta juga diperkenalkan pada visi dan gerak advokasi Generasi Anti Kekerasan untuk menciptakan ruang aman dan inklusif bagi pemuda.

WhatsApp Image 2025 12 24 at 16.08.22

Momen penting acara ini adalah Deklarasi Pemuda Anti Bullying yang menjadi simbol komitmen kolektif generasi muda Yogyakarta untuk menolak segala bentuk perundungan, baik di sekolah, ruang publik, maupun dunia digital. Youth Talks menghadirkan tiga narasumber, yakni Khalisha Nur Shadrina (Co-Founder Generasi Anti Kekerasan Yogyakarta), R. A. Yashinta Sekarwangi Mega (Anggota DPD RI DIY), dan Kalis Mardiasih (aktivis & penulis).

Diskusi menggali sudut pandang gerakan komunitas, pengalaman advokasi, hingga pentingnya kebijakan publik dalam melindungi kelompok rentan. Kalis Mardiasih menekankan bahwa kekerasan verbal, non-verbal, hingga digital dapat menimpa siapa saja.“Anak muda harus punya kepekaan sosial agar tidak terjebak dalam lingkungan diskriminatif dan perilaku kekerasan,” ujarnya.

Aspirasi Pemuda Disampaikan Langsung

Sebagai wujud partisipasi bermakna, kegiatan dilanjutkan dengan Advocacy Session menggunakan metode gallery walk. Peserta menyampaikan aspirasi dan rekomendasi langsung kepada Yashinta, yang kemudian dibahas bersama aktivis masyarakat sipil. Sesi ini menegaskan pentingnya dialog dua arah antara pembuat kebijakan dan generasi muda.

Rangkaian acara ditutup dengan refleksi sekaligus penetapan R. A. Yashinta Sekarwangi Mega sebagai Pembina Generasi Anti Kekerasan. Penetapan ini mempertegas komitmen bersama memperkuat gerakan anti bullying di Yogyakarta.

Dengan kolaborasi berkelanjutan, diharapkan Yogyakarta menjadi kota yang lebih aman, inklusif, dan bebas perundungan bagi seluruh generasi muda.

Bagikan