
BicaraPlus – Penyakit Glaukoma menjadi ancaman serius bagi kesehatan mata masyarakat. Kondisi ini kerap berkembang tanpa gejala sehingga sering terlambat terdeteksi dan berujung pada gangguan penglihatan permanen.Dalam momentum Pekan Glaukoma Sedunia 2026 yang berlangsung pada 8–14 Maret, JEC Group mengajak masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap penyakit saraf mata progresif ini melalui edukasi dan skrining rutin.
Glaukoma merupakan kerusakan saraf optik yang umumnya dipicu oleh peningkatan tekanan di dalam bola mata. Jika tidak ditangani sejak dini, kondisi ini dapat menyebabkan penyempitan lapang pandang hingga kebutaan permanen.Data Kementerian Kesehatan menunjukkan prevalensi glaukoma di Indonesia mencapai sekitar 0,46 persen atau 4–5 kasus per 1.000 penduduk.
Secara global, jutaan orang telah mengalami kebutaan akibat penyakit ini, dan jumlahnya diperkirakan terus meningkat seiring pertumbuhan populasi serta bertambahnya angka harapan hidup.Yang perlu diwaspadai, sekitar 80–90 persen kasus glaukoma tidak terdiagnosis karena tidak menimbulkan gejala pada tahap awal. Banyak penderita baru menyadari ketika penglihatan sudah terganggu secara signifikan.
Glaukoma tidak hanya dialami kelompok usia lanjut. Bayi dan anak-anak juga berisiko mengalami glaukoma kongenital akibat kelainan bawaan pada sistem aliran cairan mata.Selain faktor usia di atas 40 tahun, risiko glaukoma meningkat pada individu dengan riwayat keluarga, diabetes, penggunaan steroid jangka panjang, kelainan refraksi tinggi, katarak, serta riwayat trauma mata.
Pada kasus tertentu, gejala seperti nyeri mata hebat, penglihatan kabur mendadak, sakit kepala, mual, hingga muntah dapat muncul. Kondisi ini termasuk kegawatdaruratan medis yang membutuhkan penanganan segera.

Kerusakan saraf optik akibat glaukoma tidak dapat dipulihkan. Oleh karena itu, deteksi dini menjadi kunci utama untuk mencegah kebutaan.Diagnosis dilakukan melalui serangkaian pemeriksaan seperti pengukuran tekanan bola mata, evaluasi struktur saraf optik, pemeriksaan lapang pandang, serta pemeriksaan sudut drainase mata.
Dengan pemantauan rutin, perkembangan penyakit dapat dikendalikan sehingga kualitas penglihatan tetap terjaga.
Penanganan glaukoma bertujuan menurunkan tekanan bola mata untuk mencegah kerusakan saraf optik lebih lanjut. Pendekatan terapi meliputi:Terapi obat tetes mata sebagai penanganan awal untuk mengurangi produksi cairan atau meningkatkan aliran keluar cairan mata.Terapi laser yang bersifat minimal invasif guna membantu memperlancar aliran cairan mata.Tindakan operasi, termasuk teknik bedah modern dengan sayatan minimal, untuk kasus yang tidak dapat dikontrol dengan obat atau laser.Dalam beberapa kondisi, operasi katarak juga dapat membantu memperbaiki struktur sudut bilik mata sehingga tekanan bola mata menurun.
Melalui peringatan Pekan Glaukoma Sedunia, JEC Group menyelenggarakan berbagai kegiatan edukasi seperti seminar publik, talkshow radio, produksi konten video kesehatan mata, serta skrining pemeriksaan mata gratis di sejumlah kota.Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya pemeriksaan mata secara rutin sekaligus menekan risiko kebutaan akibat glaukoma.Dengan dukungan teknologi diagnostik modern dan layanan subspesialis, masyarakat diimbau untuk tidak menunda pemeriksaan mata, terutama jika memiliki faktor risiko.





