
BicaraPlus – Di tengah dentuman rudal yang masih menghiasi langit setiap harinya, riuh suara protes mulai terdengar di jalanan Tel Aviv dan beberapa kota besar di Israel. Akhir pekan lalu menjadi saksi meningkatnya jumlah warga yang berani menyuarakan penolakan terhadap kampanye militer gabungan AS-Israel ke Iran yang kini telah memasuki bulan pertama.
Meski skalanya belum sebesar demonstrasi perang Gaza tahun lalu, aksi yang berlangsung pada 28 Maret ini menjadi sinyal adanya pergeseran suara di internal masyarakat Israel.
Aksi protes ini berlangsung di bawah bayang-bayang aturan keamanan masa perang yang sangat ketat. Pemerintah Israel saat ini memberlakukan larangan berkumpul bagi lebih dari 50 orang demi alasan keselamatan dari serangan rudal harian asal Iran dan Lebanon.
Lantaran tidak mengantongi izin, bentrokan antara demonstran dan aparat keamanan pun tak terhindarkan. Berikut adalah catatan situasi di lapangan:
Tel Aviv: Polisi menggunakan kekerasan untuk membubarkan kerumunan, menyebabkan beberapa peserta luka-luka. Total 13 orang ditangkap karena dianggap melakukan pertemuan ilegal.
Haifa: Lima orang dilaporkan ditahan atas tuduhan menghalangi jalan serta melawan perintah penegak hukum.
Koalisi Sayap Kiri dan Mantan Parlemen
Peningkatan skala protes ini tidak lepas dari dukungan beberapa organisasi sayap kiri ternama seperti Standing Together, Peace Now, dan Women Wage Peace. Tak hanya aktivis, beberapa mantan anggota parlemen Israel juga tampak turun ke jalan, memberikan bobot politis pada gerakan yang awalnya hanya diikuti oleh segelintir orang ini.
Meski aksi di jalanan mulai memanas, data menunjukkan bahwa mayoritas publik Israel masih berdiri di belakang keputusan militer. Berdasarkan survei dari Institut Demokrasi Israel yang dirilis 27 Maret, terdapat kontras pandangan yang cukup tajam di tengah masyarakat, yakni 78% warga Yahudi Israel mendukung penuh kampanye militer melawan Iran serta 19% komunitas Arab Israel menyatakan dukungan serupa. Menariknya, persentase warga yang menentang perang menunjukkan tren peningkatan, dari hanya 4% di awal Maret menjadi 11,5% pada akhir bulan.
Para pengamat menilai, meskipun dukungan publik masih dominan, meningkatnya angka penolakan ini mencerminkan kekhawatiran masyarakat akan durasi perang yang berkepanjangan serta dampak ekonomi dan keamanan domestik yang kian terasa.





