Warga China Beli Apartemen untuk Simpan Abu Jenazah

1775400184832 img i scmp com cdn cgi image fit contain width 1024 format auto sites default files d8 images canvas 2026 04 01 84c44fe0 8b7e 46e8 99c7 01fb88ed9641 7ef91cb1

BicaraPlus – Lonjakan biaya pemakaman di Tiongkok mendorong sebagian keluarga mencari cara alternatif untuk menyimpan abu jenazah, salah satunya dengan membeli apartemen.

Dalam budaya setempat, pemakaman yang layak merupakan bentuk bakti kepada orang tua. Namun, urbanisasi yang pesat serta populasi yang menua membuat lahan pemakaman semakin terbatas dan mahal.

Di Shanghai, misalnya, terdapat lebih dari 50 pemakaman komersial yang sebagian besar hampir penuh. Bahkan, pada 2023, harga lahan di salah satu pemakaman dilaporkan mencapai sekitar 760.000 yuan per meter persegi, jauh lebih tinggi dibanding harga properti rata-rata di kota tersebut.

Kondisi ini membuat sebagian keluarga beralih membeli apartemen untuk menyimpan abu kremasi. Selain mengatasi keterbatasan ruang, langkah ini juga dinilai lebih menguntungkan secara finansial karena properti cenderung mempertahankan nilai dalam jangka panjang.

Lebih Fleksibel dan Ekonomis

Di Beijing, hak penggunaan lahan pemakaman umumnya hanya berlaku sekitar 20 tahun. Sementara dengan biaya serupa, keluarga bisa membeli apartemen kecil di kota tingkat dua atau tiga dengan masa hak guna hingga 70 tahun.

Selain itu, apartemen tersebut dapat dikunjungi kapan saja, bahkan bisa dijual atau disewakan jika diperlukan, sehingga dianggap lebih fleksibel.

Menuai Kontroversi

Meski dinilai praktis, tren ini memicu perdebatan. Sebagian pihak khawatir penyimpanan abu jenazah di kawasan hunian dapat mengganggu kenyamanan warga dan menurunkan nilai properti.

Di Tianjin, misalnya, sebuah kompleks yang sebelumnya digunakan sebagai tempat penyimpanan abu kremasi skala besar sempat menjadi sorotan. Kompleks tersebut berfungsi layaknya “kuil leluhur” yang menyimpan puluhan ribu guci.

Namun, proyek itu kemudian diperintahkan untuk diperbaiki oleh otoritas setempat karena melanggar aturan serta menimbulkan dampak lingkungan dan sosial.

Selain itu, saat perayaan seperti Festival Qingming, aktivitas ritual seperti membakar dupa di apartemen juga dikeluhkan mengganggu penghuni lain.

Pemerintah Turun Tangan

Menanggapi fenomena ini, pemerintah Tiongkok resmi memberlakukan aturan baru pada 30 Maret yang melarang penggunaan rumah tinggal sebagai tempat penyimpanan abu jenazah.

Kebijakan tersebut memicu perdebatan di media sosial. Sebagian masyarakat menilai akar masalahnya adalah mahalnya biaya pemakaman, sementara aturan baru hanya menyentuh dampak, bukan penyebab utama.

Di sisi lain, ada pula yang mempertanyakan kembali makna tradisi penguburan, dengan berpendapat bahwa abu jenazah seharusnya dimakamkan, bukan disimpan di ruang hunian.

Bagikan