
BicaraPlus – Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa menegaskan transformasi menuju pariwisata berkelanjutan bukan lagi sekadar tren global, melainkan kebutuhan strategis agar Indonesia tetap kompetitif di tengah persaingan destinasi dunia.
Hal itu disampaikan Ni Luh saat membuka Forum STDev Circle bertema Gerakan dan Aksi Kepariwisataan Berkelanjutan secara daring, Rabu (25/2/2026).
“Sejalan dengan itu, Kementerian Pariwisata memandang kepariwisataan berkelanjutan sebagai fondasi utama pembangunan pariwisata Indonesia ke depan. Pendekatan ini selaras dengan arah kebijakan pembangunan nasional serta dinamika pariwisata global,” ujarnya.
Menurutnya, lanskap perjalanan global kini berubah signifikan. Wisatawan semakin mempertimbangkan aspek lingkungan, pelestarian budaya, serta dampak sosial ekonomi sebelum menentukan destinasi.
Untuk menjawab tantangan tersebut, Kementerian Pariwisata Republik Indonesia mendorong lima program unggulan, yakni Peningkatan Keselamatan Berwisata, Desa Wisata, Pariwisata Berkualitas, Event by Indonesia, dan Tourism 5.0. Program-program itu dirancang untuk membangun ekosistem pariwisata yang tangguh, inklusif, adaptif terhadap teknologi, dan berorientasi pada pengalaman wisatawan.
Sepanjang 2025, sektor pariwisata mencatat pertumbuhan positif. Kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) mencapai 15,39 juta atau tumbuh 10,80 persen. Sementara perjalanan wisatawan nusantara (wisnus) menembus 1,20 miliar perjalanan atau meningkat 17,55 persen.
Pengakuan internasional juga turut menguatkan posisi Indonesia. Desa Wisata Pemuteran dan Desa Wisata Osing Kemiren meraih penghargaan dari UN Tourism. Selain itu, 33 hotel dan resor di Indonesia memperoleh pengakuan MICHELIN Keys yang menandai peningkatan kualitas layanan berstandar global.
“Pada 2026, kami menargetkan penguatan kinerja yang berfokus pada kualitas dan daya saing. Target kunjungan wisman diproyeksikan berada pada kisaran 16,0 hingga 17,6 juta,” kata Ni Luh.
Ia menekankan capaian tersebut hanya dapat diraih melalui kolaborasi lintas pemangku kepentingan. Forum STDev Circle dinilai strategis karena mempertemukan pembuat kebijakan, pelaku usaha, akademisi, komunitas, hingga generasi muda.
Forum ini juga membahas penguatan green financing, inovasi teknologi, gerakan komunitas, serta kontribusi perguruan tinggi dalam membangun ekosistem pariwisata berkelanjutan yang terintegrasi.
“Saya berharap forum ini menjadi titik awal lahirnya kolaborasi konkret dan aksi nyata dalam memperkuat ekosistem kepariwisataan yang inklusif, berkeadilan, dan berkelanjutan di Indonesia,” pungkasnya.





