
BicaraPlus – Usulan militer Amerika Serikat untuk menambah anggaran perang di Iran sebesar lebih dari 200 miliar dolar AS menuai penolakan luas di Kongres pada 19 Maret.
Sejumlah anggota parlemen dari Partai Demokrat, bahkan beberapa dari Partai Republik, mempertanyakan urgensi tambahan dana tersebut. Mereka menilai anggaran pertahanan yang sudah disahkan sebelumnya tergolong sangat besar.
Permintaan itu mencuat setelah Departemen Pertahanan Amerika Serikat dilaporkan meminta persetujuan Gedung Putih untuk mengajukan proposal pendanaan baru ke Kongres. Meski Donald Trump belum resmi mengirimkan proposal tersebut, pemerintahannya memberi sinyal bahwa angka itu masih bisa berubah.
Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, mengatakan pihaknya akan kembali berkoordinasi dengan Kongres guna memastikan kebutuhan pendanaan operasi militer, baik yang telah berjalan maupun yang akan datang.
“ Kami akan bekerja sama dengan anggota Kongres untuk memastikan pendanaan yang memadai,” ujarnya dalam konferensi pers.
Biaya Perang Membengkak, Dukungan Publik Rendah
Jika disetujui, anggaran tersebut berpotensi menjadikan konflik ini sebagai salah satu perang termahal sejak keterlibatan AS dalam Perang Irak dan Perang Afghanistan.
Data awal menunjukkan, hanya dalam enam hari pertama konflik dengan Iran, biaya yang dikeluarkan telah menembus 11 miliar dolar AS. Di sisi lain, survei publik menunjukkan dukungan masyarakat relatif rendah, dengan hanya sekitar seperempat warga AS yang mendukung perang tersebut.
Padahal sebelumnya, Kongres telah menyetujui anggaran militer terbesar dalam sejarah. Pada Februari lalu, Trump menandatangani Undang-Undang Otorisasi Pertahanan Nasional tahun fiskal 2026 dengan nilai sekitar 840 miliar dolar AS. Selain itu, tambahan 156 miliar dolar AS untuk sektor pertahanan juga telah disahkan dalam paket kebijakan sebelumnya.
Kritik Tajam dari Demokrat hingga Republik
Kubu Demokrat menilai permintaan tambahan dana ini tidak masuk akal, terutama di tengah pemangkasan berbagai program sosial dan bantuan luar negeri.
Perwakilan Pramila Jayapal secara tegas mempertanyakan sumber pendanaan untuk anggaran tersebut.
“Bagaimana kita akan membayarnya? Ini benar-benar tidak masuk akal,” ujarnya dalam sidang DPR.
Senada, Senator Chris Van Hollen juga menolak keras usulan tersebut. Ia menilai langkah terbaik adalah mengakhiri konflik, bukan justru memperbesar pembiayaan perang.
Penolakan juga datang dari internal Partai Republik. Senator Susan Collins mengaku terkejut dengan besaran angka yang diajukan dan menyebut belum menerima penjelasan rinci terkait proposal tersebut.
Ia bahkan membuka kemungkinan untuk menggelar sidang publik guna membahas lebih jauh usulan anggaran jumbo itu.
Perdebatan ini menandai meningkatnya tekanan politik terhadap pemerintah AS di tengah konflik yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda.





