Uni Eropa Dorong Jalur Aman di Selat Hormuz, Terinspirasi Kesepakatan Gandum Ukraina

1772887857790 hormuz strait map 1024x689 1

BicaraPlus – Ketegangan di Selat Hormuz mulai memicu kekhawatiran global. Jalur yang dilalui seperlima pasokan minyak dunia itu kini terancam terganggu konflik.

Uni Eropa pun mulai mencari jalan keluar dengan meniru skema yang pernah digunakan untuk mengekspor gandum Ukraina saat perang.

Pada 16 Maret, Perwakilan Tinggi Uni Eropa untuk Urusan Luar Negeri, Kaja Kallas, mengungkapkan gagasan untuk membuka kembali jalur aman bagi kapal-kapal di Selat Hormuz.

Inisiatif ini terinspirasi dari skema yang sebelumnya digunakan dalam pengiriman gandum Ukraina melalui Laut Hitam di tengah konflik dengan Rusia. Model tersebut memungkinkan kapal sipil tetap beroperasi tanpa menjadi target serangan.

Menurut rencana yang tengah dibahas, kapal dagang dan sipil akan mendapatkan perlindungan khusus agar dapat melintasi Selat Hormuz dengan aman, meski konflik di kawasan masih berlangsung.

“Ide tersebut sudah dibicarakan langsung dengan Sekretaris Jenderal PBB, António Guterres. Ada kemungkinan untuk membentuk inisiatif serupa dengan “Inisiatif Laut Hitam” yang sebelumnya kami nilai cukup berhasil,” ujarnya.

Pihak Perserikatan Bangsa-Bangsa juga membenarkan adanya pembahasan terkait rencana tersebut. Namun, mereka mengingatkan bahwa situasi di Selat Hormuz saat ini masih sangat berisiko, sehingga setiap langkah harus dilakukan dengan hati-hati.

Selat Hormuz sendiri memiliki peran vital dalam perdagangan global. Sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melewati jalur ini, menjadikannya salah satu titik paling strategis dalam rantai energi internasional.

Jika jalur ini terganggu, dampaknya tidak hanya dirasakan di kawasan Timur Tengah, tetapi juga bisa menjalar ke Asia dan pasar global. Selain energi, distribusi bahan baku pupuk juga terancam, yang berpotensi memicu krisis pangan.

Untuk mendukung rencana ini, para menteri Uni Eropa mulai mempertimbangkan perubahan mandat misi angkatan laut mereka di Timur Tengah.

Misi yang dikenal sebagai Operation Aspides saat ini berfokus melindungi kapal di Laut Merah dari serangan kelompok Houthi di Yaman. Kini, muncul wacana untuk memperluas jangkauannya hingga ke Selat Hormuz.

Namun, tidak semua negara anggota sepakat. Sejumlah pihak masih meragukan efektivitas misi tersebut jika diterapkan di kawasan yang jauh lebih sensitif seperti Selat Hormuz.

Di tengah perdebatan itu, Menteri Luar Negeri Jerman, Johann Wadephul, menyatakan keraguannya apakah misi tersebut benar-benar bisa berjalan efektif dalam kondisi saat ini.

Sementara itu, António Guterres dijadwalkan tiba di Brussels pada 17 Maret untuk mengikuti pertemuan informal dengan para pejabat Eropa.

Pertemuan tersebut diharapkan dapat menghasilkan langkah konkret guna meredakan ketegangan dan memastikan jalur vital seperti Selat Hormuz tetap terbuka bagi perdagangan global.

Bagikan