Tuli Satu Telinga Sering Dianggap Sepele, Padahal Bisa Ganggu Kualitas Hidup

BicaraPlus – Gangguan pendengaran pada satu telinga atau single-sided deafness (SSD) sering kali dianggap bukan masalah serius karena telinga satunya masih berfungsi normal. Namun, kondisi ini ternyata dapat memengaruhi kemampuan komunikasi, fokus, orientasi suara, hingga kualitas hidup sehari-hari.

Dokter spesialis THT Dr Rebecca Heywood menjelaskan bahwa kemampuan mendengar dengan dua telinga sangat penting bagi otak untuk mengenali arah suara, memisahkan percakapan dari kebisingan, serta menjaga keseimbangan dan kesadaran ruang.

Saat satu telinga kehilangan fungsi, otak kehilangan petunjuk arah dan timing suara. Akibatnya, seseorang bisa lebih mudah lelah saat berbicara di lingkungan ramai seperti restoran, kantor, atau rapat.

Penderita tuli satu telinga umumnya mengalami kesulitan mengikuti percakapan di tempat bising, sulit mengetahui dari mana suara berasal, harus sering mengubah posisi tubuh agar lebih jelas mendengar, hingga mengalami kelelahan mental akibat mendengar terlalu keras. Tidak sedikit juga yang mengalami tinnitus atau denging pada telinga yang terdampak, rasa cemas di tempat ramai, bahkan menarik diri dari lingkungan sosial.

Pada anak-anak, kondisi ini juga bisa memengaruhi perkembangan bahasa, kemampuan belajar, dan konsentrasi di ruang kelas. Single-sided deafness bisa muncul sejak lahir maupun terjadi saat dewasa. Penyebabnya beragam, mulai dari gangguan pendengaran sensorineural mendadak, infeksi virus atau bakteri seperti meningitis dan campak, trauma kepala, paparan suara keras, hingga tumor jinak saraf pendengaran seperti acoustic neuroma.

Salah satu kondisi yang perlu diwaspadai adalah gangguan pendengaran mendadak pada satu telinga yang terjadi dalam hitungan jam atau hari. Kondisi ini termasuk darurat medis dan sebaiknya segera diperiksa ke dokter THT dalam waktu kurang dari 72 jam untuk meningkatkan peluang pemulihan.

Diagnosis dilakukan melalui tes pendengaran lengkap seperti audiometri nada murni, tes pemahaman bicara, dan timpanometri. Dalam beberapa kasus, dokter juga dapat menyarankan MRI untuk memastikan tidak ada gangguan pada saraf pendengaran. Deteksi dini menjadi kunci penting, terutama bila gangguan muncul tiba-tiba atau terus memburuk.

Penanganan SSD bergantung pada penyebab dan tingkat keparahan. Bila masih ada sisa pendengaran, alat bantu dengar konvensional bisa membantu memperjelas suara. Untuk kasus telinga yang sudah tidak berfungsi, tersedia CROS/BiCROS hearing system, yaitu alat yang menangkap suara dari sisi tuli lalu mengirimkannya ke telinga yang sehat. Ada juga bone-conduction hearing device yang mengalirkan getaran suara melalui tulang tengkorak.

Salah satu terapi yang kini semakin banyak digunakan adalah implan koklea untuk single-sided deafness. Berbeda dengan alat bantu dengar biasa, teknologi ini merangsang telinga yang tuli secara langsung sehingga otak kembali menerima input dari kedua sisi. Manfaatnya meliputi kemampuan memahami percakapan di tempat bising, mengenali arah suara, mengurangi tinnitus, dan meningkatkan kenyamanan mendengar secara keseluruhan.

Gangguan pendengaran pada satu telinga sebaiknya tidak dianggap sepele. Segera konsultasikan ke dokter spesialis THT apabila Anda mengalami penurunan pendengaran secara mendadak pada satu sisi, telinga terasa tersumbat terus-menerus, muncul dengung hanya di satu telinga, disertai pusing atau gangguan keseimbangan, hingga sulit fokus saat berbicara di lingkungan yang ramai. Semakin cepat kondisi ini diperiksa, semakin besar peluang untuk menemukan penyebabnya dan mendapatkan terapi yang tepat dengan hasil yang lebih optimal.

Bagikan