Trump Pertimbangkan Tarik AS dari NATO, Sekutu Eropa Bereaksi

1769165775495 screenshot 2026 01 23 at 16 07 25

BicaraPlus – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan, tengah mempertimbangkan untuk menarik AS dari NATO.

Pernyataan itu muncul setelah sekutu Eropa menolak mengirim kapal perang ke Selat Hormuz di tengah konflik dengan Iran.

Mengutip Reuters, Trump menyebut akan menyampaikan sikapnya dalam pidato nasional. “Saya akan menyampaikan ketidakpuasan saya terhadap NATO,” ujarnya.

Saat ditanya kemungkinan keluar dari aliansi, Trump menjawab, “Oh, tentu saja.”

Ketegangan Terkait Selat Hormuz

Sebelumnya, Trump juga menyatakan AS bisa menarik diri dari keterlibatan dengan Iran dalam waktu dua hingga tiga minggu.

Ia bahkan meminta negara-negara Asia dan Eropa untuk mengurus sendiri keamanan di Selat Hormuz, jalur penting bagi perdagangan energi dunia.

Pernyataan ini mempertegas sikap AS yang enggan terlibat lebih jauh dalam pengamanan kawasan tersebut.

Komitmen NATO Dipertanyakan

Di saat yang sama, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth tidak menegaskan kembali komitmen terhadap Pasal 5 NATO.

Pasal tersebut merupakan prinsip utama aliansi, yakni serangan terhadap satu anggota dianggap sebagai serangan terhadap semua.

Langkah ini memicu kekhawatiran soal komitmen AS terhadap aliansi militer Barat tersebut.

Eropa Mulai Bereaksi

Prancis menjadi salah satu negara pertama yang merespons pernyataan Trump.

Wakil Menteri Angkatan Bersenjata Prancis Alice Rufo menegaskan, NATO bukan untuk operasi di luar kawasan Euro-Atlantik.

“NATO adalah aliansi pertahanan teritorial, bukan untuk operasi di Selat Hormuz,” ujarnya.

Sementara, Presiden Finlandia Alexander Stubb menyebut Eropa mulai mengambil peran lebih besar dalam NATO.

Ia mengatakan kepada Trump bahwa aliansi kini bergerak menjadi lebih berorientasi pada kekuatan Eropa.

Meski demikian, para ahli menilai belum jelas apakah Trump bisa secara sepihak menarik AS dari NATO tanpa persetujuan Kongres.

NATO sendiri didirikan pada 1949 sebagai aliansi militer untuk menghadapi Uni Soviet dan hingga kini menjadi simbol kekuatan militer Barat.

Bagikan