Trump: Banyak Negara Akan Kirim Kapal Perang ke Selat Hormuz

1773539909757 trump23

BicaraPlus – Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan, banyak negara akan mengirim kapal perang untuk membantu “melindungi” Selat Hormuz.

Pernyataan itu muncul ketika jalur laut penting tersebut masih terblokir pada hari ke-15 konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.

Selat Hormuz merupakan salah satu jalur energi paling penting di dunia. Sekitar seperlima pasokan minyak global melewati selat sempit ini setiap hari.

Dalam unggahan di Truth Social pada 14 Maret, Trump mengatakan negara-negara yang bergantung pada jalur energi tersebut akan ikut mengirim kapal perang.

Ia menyebut beberapa negara yang diharapkan berpartisipasi, seperti China, France, Japan, South Korea, dan United Kingdom.

Menurut Trump, negara-negara tersebut akan bekerja sama dengan Amerika Serikat untuk memastikan jalur pelayaran tetap terbuka dan aman.

Dalam unggahan yang sama, Trump juga mengklaim bahwa militer AS telah “menghancurkan 100% kemampuan militer Iran.”

Namun ia mengaku Teheran masih bisa melakukan serangan terbatas, seperti meluncurkan drone, memasang ranjau laut, atau menembakkan rudal jarak pendek di sekitar selat.

Trump mengatakan jika ancaman tersebut terjadi, Amerika Serikat akan merespons dengan membombardir wilayah pesisir dan menembak kapal Iran.

Ia menegaskan, Selat Hormuz harus tetap “terbuka, aman, dan bebas.”

Iran: Selat Hormuz Belum Ditutup

Pernyataan Trump langsung mendapat tanggapan dari Iran.

Komandan angkatan laut Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC), Alireza Tangsiri, mengatakan Selat Hormuz sebenarnya belum ditutup secara militer.

Menurutnya, jalur tersebut saat ini hanya berada di bawah pengawasan Iran.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan, selat tersebut hanya dibatasi untuk kapal musuh.

Ia menegaskan kapal tanker minyak atau kapal milik negara yang dianggap bermusuhan tidak diizinkan melintas.

Namun kapal dari beberapa negara masih diberi pengecualian.

Pejabat pemerintah India mengatakan, dua kapal tanker berbendera India yang membawa gas minyak cair (LPG) berhasil melewati Selat Hormuz dengan aman.

Menurut diplomat Iran di India, pengecualian tersebut diberikan setelah pembicaraan langsung antara Perdana Menteri Narendra Modi dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian.

Selain itu, sebuah kapal dari Turkey juga diizinkan melintas setelah negosiasi dengan Teheran. Namun sekitar 14 kapal Turki lainnya masih menunggu izin.

AS Tambah Kekuatan Militer di Kawasan

Di tengah meningkatnya ketegangan, Amerika Serikat juga menambah kehadiran militernya di kawasan.

Sekitar 2.500 Marinir AS dan kapal serbu amfibi USS Tripoli dilaporkan sedang menuju Timur Tengah atas permintaan United States Central Command (CENTCOM).

Langkah tersebut disetujui oleh Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth.

Beberapa analis menilai pengerahan ini bisa menjadi bagian dari rencana Amerika Serikat untuk kembali menguasai jalur pelayaran strategis tersebut.

Risiko Konflik dan Kerugian Besar

Namun, sejumlah pakar menilai rencana pembentukan koalisi militer tidak akan mudah.

Pakar keamanan Timur Tengah di King’s College London, Andreas Krieg, mengatakan pengerahan kapal perang tanpa kesepakatan diplomatik justru bisa menimbulkan risiko baru.

Menurutnya kapal perang modern yang sangat mahal bisa menjadi target empuk bagi senjata murah seperti drone atau ranjau laut.

Konflik yang dimulai sejak 28 Februari juga telah menimbulkan korban besar.

Sedikitnya 1.444 orang dilaporkan tewas di Iran, sementara serangan drone dan rudal juga meningkat di berbagai wilayah Timur Tengah.

Ancaman bagi Energi dan Pangan Dunia

Blokade Selat Hormuz tidak hanya berdampak pada sektor energi, tetapi juga bisa memicu krisis pangan global.

Menurut Center for Strategic and International Studies, selat ini merupakan jalur penting untuk ekspor gas alam cair (LNG).

Gas tersebut digunakan sebagai bahan baku utama produksi pupuk nitrogen yang dibutuhkan untuk menanam berbagai tanaman pangan.

Pupuk berbasis nitrogen sendiri berperan dalam produksi tanaman yang menyumbang lebih dari 40 persen konsumsi kalori dunia.

Krisis ini juga berdampak pada India yang kini menghadapi kekurangan gas masak.

Pemerintah India bahkan menggunakan kewenangan darurat untuk melindungi 333 juta rumah tangga yang bergantung pada LPG.

Sementara itu kepala misi kemanusiaan United Nations, Tom Fletcher, memperingatkan bahwa jutaan orang bisa terdampak jika jalur bantuan kemanusiaan melalui Selat Hormuz terganggu.

Selat yang sempit itu kini bukan hanya jalur energi dunia, tetapi juga menjadi titik krisis baru dalam konflik Timur Tengah.

Bagikan